View Full Version
Jum'at, 15 Mar 2013

Umat Islam Harus Melek Politik Agar Tak Dipimpin oleh Orang Kafir

SOLO (voa-islam.com) – Sejak Joko Widodo (Jokowi) menjadi Gubernur DKI Jakarta, tampuk kepemimpinan Walikota kota Surakarta dijabat oleh FX. Hadi Rudiyatmo, yang sebelumnya menjabat Wakil Walikota Solo mendampingi Jokowi selama dua periode.

Terkait hal itu, Ketua Dewan Riasah Tanfidziyah Dewan Syariah Kota Surakata (DSKS) Ustadz Dr. Muhammad Mu’inudinillah Basri, MA menyatakan, jika umat islam “melek” politik, warga Solo yang mayoritas beragama Islam sebetulnya tak layak dipimpin oleh orang-orang kafir. Terpilihnya Rudy menjadi pemimpin kota Bengawan adalah akibat kelemahan dan kesalahan umat Islam itu sendiri.

 

“Itu kesalahan kaum muslimin, kenapa sampai dipimpin oleh orang-orang nashoro. Itu berarti kaum muslimin tidak memahami konstalasi politik dan bagaimana membangun politik, ini realita,” ujarnya kepada voa-islam belum lama ini.

Menurut Ustadz Mu’in –begitu ia disapa, jika kaum muslimin terbuka wawasannya dan faham akan pentingnya sebuah gerakan perpolitikan islam dan konstelasi peta politik yang ada di Indonesia, seharusnya kaum muslimin mengajukan calon pemimpin dari kalangan Islam yang betul-betul memperjuangkan Islam dan umat Islam.

Namun jika penduduk Indonesia yang mayoritas muslim dipimpin oleh orang kafir, maka efek buruknya akan dirasakan semua pihak. “Rakyat itu tergantung agama pemimpinnya. Kalau pemimpinnya rusak, masyarakatnya juga akan ikut rusak,” jelas pria yang juga Pimpinan PPTQ Ibnu Abbas Klaten itu.

Meski demikian, Ustadz Mu’in menjamin umat Islam Solo tidak akan melakukan gerakan pelengseran ataupun perlawanan untuk “menggulingkan” Rudy dan Achmad Purnomo selaku wakil Walikota Solo. Namun ia menegaskan, jika dalam kebijakan publik dan politik dua pemimpin Solo tersebut melakukan diskriminasi dan tidak adil terhadap kaum muslimin, maka umat Islam dan para ulama akan melawan dengan cara apapun.

“Tak perlu ada penggulingan kepemimpinan, secara syari’ah tidak boleh. Itu karena kesalahan kaum muslimin yang tidak memahami bagaimana konstalasi politik. Karena itu umat Islam harus merancang kepemimpinan mendatang,” imbuhnya.  

Dosen Pasca Sarjana Studi Pemikiran Islam Universitas Muhammadiyah Surakarta ini menegaskan, langkah yang dapat  diambil sebagai bentuk tanggung jawab dari para ulama terhadap umat Islam di kota Solo, DSKS akan mengadakan lobi-lobi dan pendepakatan persuasif untuk menyadarkan umat, termasuk kepada tokoh-tokoh umat Islam akan pentingnya berpolitik dalam islam.

“Penyadaran bagi kaum muslimin itu adalah bagaimana berpolitik yang Islami, meskipun kita tidak terjun didalam politik praktis. Dibutuhkan waktu yang panjang untuk menyadarkan kaum muslimin dalam hal berpolitik,” terangnya. [Bekti]


latestnews

View Full Version