View Full Version
Senin, 01 Apr 2013

NU dan Muhammadiyah Harus Bersatu Bela Korban Kezaliman Densus 88

KLATEN (voa-islam.com) – Perselisihan antara pergerakan islam maupun individu dari umat islam bagaikan dua mata pisau yang bisa menguntungkan dan membahayakan, tergantung dari sudut pandang mana melihatnya dan pemakaiannya. Sebab perselisihan tersebut merupakan fitnah akhir zaman yang tak akan bisa di elakkan dan di hindari oleh siapapun juga didunia ini.

Saat mengisi acara bedah buku “Menjadi Ahli Tauhid di Akhir Zaman – Kajian Tuntas Strategi Umat Islam Menghadapi Konspirasi Global Thoghut Internasional”, pada hari Minggu (31/3/2013) di Masjid An Nur Sangkal Putung Klaten Jawa Tengah, Ustadz Abu Fatiah Al Adnani menyatakan bahwa untuk masalah fiqh atau furu’iyyah, silahkan untuk berbeda itu tidak mengapa. Namun jika sudah menyangkut hal yang prinsip atau pokok, maka tidak alasan bagi kaum muslimin maupun kelompok islam untuk berselisih.

Dirinya kemudian mencontohkan bahwa apa yang telah dilakukan oleh Prof. Dr. Din Syamsuddin, MA. selaku Ketua Umum (Ketum) PP. Muhammadiyah yang menuntut dibubarkannya Densus 88 adalah suatu hal yang wajar. Sebab Densus 88 telah dengan nyata menyiksa dan membunuhi kaum muslimin dengan tanpa ada sjuatu alasan yang jelas dan benar.

Maka dirinya mengharap, pembelaan seperti itu juga bisa dilakukan oleh organisasi massa (ormas) islam terbesar di Indonesia lainnya seperti Nahdhatul Ulama (NU) sebagai bentuk solidaritas dan ukhuwah sesama muslim. Tidak hanya sekedar itu, penulis buku-buku best seller bertemakan akhir zaman ini juga mengharap dan menghimbau agar NU dan Muhammadiyah agar bisa selalu bekerjasama dan benar-benar membantu kaum muslimin tidak peduli dia dari kelompok manapun.

“Silahkan masalah fiqh dikembalikan kepada kandangnya masing-masing. Tapi jika ada seorang muslim disiksan dan dibunuh tanpa haq (oleh Densus 88 -red), maka semuanya tidak boleh berpangku tangan dan harus harus membantu, mereka harus sama-sama dalam hal ini dan tidak boleh ada perbedaan. Mau dia itu (orang yang disiksa dan dibunuh -red) dari kelompok mana atau organisasi mana,” jelasnya.

Lebih lanjut, ustadz yang juga pengajar di Ponpes Darusy Syahadah Simo Boyolali tersebut membeberkan bahwa bantunan dan pertolongan itu lantaran Densus 88 merupakan kaki tangan asing yakni Amerika dan Australia yang tidak ingin umat islam di Indonesia bersatu dan bangkit. Jadi pada dasarnya Densus 88 itu adalah musuh bersama umat islam di Indonesia.

Dirinya menjelaskan bahwa dalam pembahasan Bab yang ke-dua dalam buku tersebut menerangkan bahwasanya segala gerak dan perubahan kehidupan yang ada didunia ini tidak terlepas dari peran dan campur tangan Thoghut Internasional. Baik itu unsur sosial, ekonomi, pendidikan, kebudayaan, politik dan bahkan militer. Dan didalam unsur keamanan yang ada di Indoensia, menurut dia juga tak lepas dari setingan dan kepentingan asing, dalam hal ini Zionis Yahudi Internasional.

“Tidak ada unsur kehidupan manusia sekarang ini yang tanpa campur tangan Thoghut Internasional yang digerakkan oleh Zionis Yahudi. Dalam bidang militer, tentu semuanya sudah tau bahwasanya Densus 88 itu adalah kepanjangan tangan dari asing, Amerika dan sekutunya. Dan hal ini terbukti bahwa Densus 88 itu jelas sekali dananya berasal dari Amerika dan Australia,” paparnya.

“Dalam hal politik, bukan pula menjadi rahasia internal bahwa parpol yang islam sekalipun tak lepas dari campur tangan asing. Meski mereka menyebut dirinya sebagai ‘partai dakwah’, namun realitanya mereka jauh dari dakwah. Mereka lebih mengedepankan kepentingan partainya dan pribadinya dari pada umat,” tandasnya. [Bekti]


latestnews

View Full Version