View Full Version
Selasa, 14 May 2013

Tifatul Sembiring: Cek & Ricek Itu Penting Agar Tak Ada Penyesalan

JAKARTA (voa-islam.com) – Suatu informasi, kabar atau berita hendaknya terlebih dulu melakukan cek and ricek, agar tidak terjadi kesalahan dan berakhir dengan penyesalan. Demikian dikatakan Menteri Komunikasi dan Informatika Tifatul Sembiring saat meresmikan Media Center dan Indonesia Journalist Forum (IJF) di Gedung Dakwah Muhammadiyah, Jl. Menteng Raya 62, Jakarta Pusat, Senin (13/5)

Mengutip QS al Hujurat (6): “Wahai orang-orang beriman, jika seorang datang kepada kalian membawa berita yang patut diragukan kebenarannya, maka selidikilah berita itu dengan seksama. Agar kalian tidak melakukan tindakan kebodohan terhadap suatu kaum, sehingga kalian menyesali atas apa yang kalian lakukan itu.”

Adapun Asbabul nuzul turunnya ayat tersebut, seperti dijelaskan Tifatul Sembiring, adalah ketika Rasulullah Saw memerintahkan sahabatnya (petugas pemungut pajak) untuk mengambil pajak di suatu kabilah. Sebelum memasuki kampung kabilah itu, si petugas pemungut pajak itu melihat ada pasukan seolah akan menghadangnya. Padahal, pasukan yang disangkanya itu merupakan perwakilan untuk menyambut pemungut pajak yang ditugaskan Rasulullah.

Belum terjadi dialog, bahkan belum sampai ke kampung kabilah itu, si pemungut pajak itu bergegas menemui Rasulullah untuk melaporkan apa yang dilihatnya ihwal pasukan yang menghadang. Lalu turunlah ayat ini, agar kita terlebih dulu melakukan cek and ricek terhadap suatu informasi atau berita yang disampaikan.

“Ungkapan fasik dalam ayat itu adalah ditujukan pada sahabat Rasulullah itu sendiri. Jadi bukan kaum musyrikin atau pun orang kafir.  Itulah sebabnya, Cek & Ricek itu penting. Seseorang bisa mengambil keputusan yang fatal, apabila tidak terlebih dahulu melakukan cek & ricek (tabayun), terlebih disaat kritis. Nah, siapa yang mau meluruskan informasi yang salah ini? Disinilah peran media center dan public relations menjadi penting sekali untuk meluruskan informasi yang menyesatkan.”

Peran PR

Diakui Tifatul, sejujurnya umat Islam punya masalah terhadap komunikasi public. Agar komunikasi dapat terbangun, peran Public Relations (PR) menjadi penting.  

Tifatul memberi contoh, Amerika Serikat sewaktu Perang Vietnam, sebetulnya tidak pernah menang melawan Vietnam. Tapi, dalam film perang Rambo, AS bisa menang terus menerus. “Pasukan Hollywood pun dijadikan sebagai PR untuk menunjukkan kepada public betapa gagahnya tentara AS seperti Rambo.”

Dijelaskan Tifatul, peran PR penting sebagai mediator antara organisasi dengan public. Media Center tentu tidak cukup sebagai sarana, atau sekedar tempat berkumpul. Media Center harus disertai dengan mengeluarkan  pernyataan sikap organisasi secara berkala, baik yang sifatnya domestic, local maupun internasional. Perlu ada tim PR yang mengemas, apakah suatu organisasi masih eksis atau tidak.

“Saya juga tidak setuju jika media selalu disalahkan. Setidaknya peran media center itu bisa membuat press releasenya (setidaknya terpenuhi unsur 5W+ 1H). Wartawan nanti akan mengutip secara utuh, terutama yang berkaitan dengan statemen dari Ketua Umumnya. Karenanya, perangkat kepemimpinan Muhammadiyah harus diback up oleh media center.”

Menurut Tifatul, image itu perlu. Peran PR lah yang mengemas image seseorang. Image yang positif akan ditentukan oleh positif kerja sang PR, begitu juga sebaliknya, negative image akan ditentukan oleh kerja negative PR. [desastian]


latestnews

View Full Version