View Full Version
Sabtu, 27 Jul 2013

Kasus Tulungagung: ISAC Menduga Densus 88 Salah Target

Kasus Tulungagung: ISAC Menduga Densus 88 Salah Target

Endro Sudarsono, S.Pd

Sekretaris ISAC (The Islamic Study and Action Center)

KLATEN (voa-islam.com) - Kepala Desa Kradenan  Kecamatan Trucuk Kabupaten Klaten Jateng di dampingi petugas dari Polsek Trucuk mendatangi keluarga Eko Suryanto, Kamis (25/07/2013). Eko Suryanto diduga seseorang yang disebut Kapolda Jatim Irjen Unggung Cahyono sebagai Riza atau Rizal asal Medan yang meninggal ditembak mati Densus 88 di Tulungagung.

Menurut salah satu adik dari Eko Suryanto, bahwa Tuginem ibu Eko Suryanto diajak kepala Desa Kradenan ke Polsek Juwiring dan dilanjutkan ke Polres Klaten. Di Kepolisian Ibunya diperlihatkan foto yang diduga korban tembak mati oleh Densus 88 di Tulungagung.

Tuginem mengakui bahwa foto yang diperlihatkan polisi adalah mirip Eko Suryanto anak pertamanya. Kemudian Polisi Klaten juga mengambil sampel darah untuk tes DNA. Oleh Polres Klaten dijanjikan menunggu 2-3 hari untuk menunggu hasil tes DNA dari RS Polri dr. Sukanto Jakarta Timur.

Dijelaskan pula oleh Sugiyanto selaku ayah Eko bahwa  anaknya kelahiran Klaten, 28 Juli 1991 tinggal di Dukuh Mluweh Rt 15 Rw  07 Desa  Kradenan  Kecamatan Trucuk Kabupaten Klaten. Eko lulusan sebuah SMK di Klaten. Jika jenazah itu benar-benar Eko anaknya rencana akan dimakamkan di pemakaman yang ada di kampung halamannya.

ISAC Temukan Kontradiksi Informasi dari Polri

ISAC menilai ada yang kontradiksi dalam kasus meninggalnya Riza di Tulungagung. Menurut Kadiv Humas Mabes Polri Irjen Pol Ronny Franky Sompie bahwa Riza asal Medan diduga terlibat kasus Poso dan perampokan Bank CIMB Medan. Namun Proses identifikasi jenazah oleh Polres Klaten justru mengarah kepada Eko Suryanto asal Klaten selaku orang yang meninggal di Tulungagung.

Informasi dari keluarga Eko menyatakan bahwa selama ini belum ada surat pemanggilan dalam kasus apapun. Dalam hal ini juga tidak ada surat penangkapan. Artinya bahwa Eko bukanlah sosok yang buron atau DPO apalagi membahayakan sebagaimana penilaian Polri. Semestinya sebelum memberikan statemen ke publik, Polri haruslah cermat terhadap Target Operasi (TO). Ini  terkait akurasi dan validasi target.

Mengapa diberitakan bahwa  Riza asal Medan yang diduga terlibat perampokan CIMB di Medan dan Poso namun identifikasi jenazah mengarah Eko Suryanto asal Klaten. Sedangkan nama Riza tidak melekat pada diri Eko Suryanto?

ISAC menduga simpang siur berita dan fakta ini terdapat kesalahan baik dalam administrasi, data intelijen hingga dalam operasi dilapangan, termasuk adanya korban peluru nyasar dengan korban Sujono hingga bersarang di pinggul kanannya. Sarjono adalah warga Karangwaru Tulungagung.

Untuk itu ISAC minta Kapolri untuk menjelaskan secara jujur tentang status dan peranan Eko dalam kasus ini, hingga Ia harus meninggal  ditembak mati Densus 88 di Tulungagung pada bulan suci Ramadhan 1434 H tahun ini. ISAC juga meminta Kapolri segera memulangkan jenazah baik Dayah maupun Riza untuk segera dimakamkan.

Mengapa Densus 88 Mengeksekusi Mati Lagi Sebelum Putusan Pengadilan?

Semestinya Dayah dan Riza ditangkap hidup-hidup dan dibawa ke pengadilan untuk membuktikan tuduhan atas kasus yang disangkakan. Densus 88 semestinya bisa memberikan kepercayaan dan persepsi yang positif terhadap masyarakat dalam penegakan hukum. [Widad/Endro S]


latestnews

View Full Version