View Full Version
Kamis, 26 Sep 2013

Kok Masih Berani Menampilkan Trah Soekarno dan Jokowi?

Jakarta (voa-islam.com) Bingung PDIP mencari calon presiden di tahun 2014, meskipun PDIP sudah mentitahkan Megawati menjadi calon presiden tahun 2014. Tetapi, Mega yang sudah beranjak "sepuh" itu, sudah tidak menarik dikalangan rakyat. Itu terbukti di pemilihan presiden "keok" melawan SBY.

Bahkan, Mega yang pernah nangkring menjadi presiden itu, tak meninggalkan apa-apa yang dapat dikenang oleh rakyat. Kecuali nestapa, ditambah Mega yang memberikan  pengampunan kepada konglomerat hitam, yang sudah ngrampok uang negara triliunan. Selebihnya, kader PDIP tak sedikit yang masuk bui, karena korupsi. Jadi apalagi yang bisa diharapkan dari PDIP?

Di kala Mega menjadi presiden asset negara habis diobral dengan harga murah di tangan Laksamana Sukardi yang menjadi Meneg BUMN. Bahkan, Mega pergi ke Cina menandatangani perjanjian perdagangan dengan Cina, gas "tangguh", yang nilai triliun, dan negara dirugikan.

Sekarang para sekondan Mega dan kalangan "fanataikus" dan Jokowi "minded", terus merekayasa dengan segala cara ingin menjadikan Jokowi yang kurang mutu itu, di dandani dengan segala cara agar menjadi figur yang sangat menarik, mumpuni, bermoral, sederhana, dan sejumlah aksesoris lainnya, ditampilkan agar Jokowi layak tampil di tahun 2014.

Dengan modal  survey jadi-jadian yang merupakan kampanye yang terselubung yang dijalankan oleh sukarelawan, aktivis, buzzers yang menjadi tulang punggung Jokowi itu, mereka dengan segala cara melakukan "peta kompli" (pemaksaan) agar Jokowi yang sudah ratingnya tinggi, diangkat oleh PDIP menggantikan Mega yang sudah sepuh, dan digandengkan dengan salah satu trah keturunan Bung Karno.

Sejatinya nama Bung Karno sudah tidak mujarab. Ketika Bung Karno berkuasa hanya membuat rakyat tidak lebih baik, alias sengsara. Membawa bangsa dan rakyat Indonesia terjerumus ke dalam kekelaman, dan berujung dengan terjadinya pemberontakan  PKI. Soekarno membawa Indonesia lebih dekat dengan komintern (komunis internasional) yang dipimpin Soviet dan Cina. Ekonomi Indonesia mengalami "malaise" dan inflasi mencapai 160 persen.

Sisi lain, Bung Karno yang flamboyan, demen alias suka berpoligami, dan isterinya lebih dari satu. Termasuk Ratna Sari Dewi, seorang "gaisha" (penari), yang kemudian diambilnya sebagai isteri. Jadi Bung Karno yang sekarang dielukan dan dijadikan simbol nasionalisme itu, sejatinya palsu.

PDIP yang terseok-seok pasca Mega menjadi presiden ini, sekarang digelembungkan lagi, seakan PDIP partai yang paling mulia, partai yang paling cinta terhadap "wong cilik". Tetapi, semua tidak terbukti alias "nol besar". Rakyat tetap melarat, dan kebijakan ekonomi Mega lebih pro-pasar alias Barat.

Dibagian lain, Direktur Seven Strategic Studies (7SS), Mulyana W Kusumah mengatakan, meski nantinya PDIP tetap mengutamakan trah Soekarno di Pilpres bukan berarti peluang Gubernur DKI Jakarta, Joko Widodo (Jokowi) akan tertutup.

"Bila PDIP atau Koalisi PDIP memutuskan pencapresan Jokowi yang trend elektabilitasnya terus menanjak, diprediksi, Muhammad Prananda Prabowo atau Puan Maharani atau akan diusung sebagai Cawapres," ujar Mulyana dalam keterangan persnya kepada wartawan, Senin (23/9/2013).

Menurutnya, pertimbangan yang akan digunakan oleh PDIP untuk tetap mengusung trah Soekarno di Pilpres tak lepas dari sosok Megawati Soekarnoputri dan Soekarno. Sebab dibawah kepemimpinan Mega, PDIP cukup terbilang solid dan sukses.

"Di bawah kepemimpinan Ketua Umum Megawati Soekarnoputri, diyakini tidak akan meninggalkan kaitan historisnya dengan Bung Karno," imbuhnya.

Intinya PDIP bingung pasca Mega. Siapa yang dapat mendongkrak suara PDIP di pemilu 2014? Tokoh jadi-jadian Jokowi yang dikerek media-media sekuler dan kristen beramai-ramai yang seakan tokoh yang paling super ini, dan  dapat memperbaiki Indonesia ini, dan pasti rakyat akan kecewa lagi.

Karena secara empirik sudah sangat jelas terbukti, tokoh sekaliber Bung Karno, tak dapat membawa  kemajuan apapun bagi Indonesia, termasuk Mega.

Apalagi Jokowi yang baru menjadi walikota dan gubernur. Mengaharapkan Jokowi menjadi penyelesai krisis di Indonesia yang sudah sangat sistemik  itu, hanyalah mimpi. af/hh

 


latestnews

View Full Version