View Full Version
Selasa, 22 Oct 2013

Politik Balas Budi : Antara Mega, Jokowi dan Edward Soeryadjaja

Jakarta (voa-islam.com) Kemarin, Harian Kompas memuat iklan tentang rencana pembanguna monorel, dan didalamnya terdapat foto Edward Soeryadjaya, sebagai fihak yang mendapatkan proyek pembangunan itu. Tentu, jatuhnya proyek ke tangan Edward Soeryadjaya itu, pasti menimbulkan pertanyaan dikalangan publik.

Keputusan pembangunan proyek monorel itu, langkah  yang diambil Jokowi, di mana sebelumnya proyek ini maju mundur, dan bahkan kemungkinan dibatalkan, tetapi kemudian di masa Gubernur DKI, Jokowi ini, adanya kejelasan tentang pelaksanaan proyek monorel ini. Sejatinya siapa yang diuntungkan dengan pembangunan monorel ini? Adakah mereka yang memiliki relasi dan menjdi kroni kekuasaan politik, dalam hal ini Mega?

Sementara itu, Gubernur DKI Jakarta Jokowi menolak anggapan atau tuduhan  proyek monorel merupakan bentuk balas budi kepada Ketua Umum PDIP Megawati. Menurut dia, pembangunan moda transportasi yang sempat mandek selama lima tahun itu sangat dibutuhkan di Jakarta.

"Balas budi gimana, sih? Itu transportasi massal diperlukan Jakarta," ucapnya di Balai Kota, Jakarta, Senin, 21 Oktober 2013. "Karena memang itu diperlukan Jakarta. Jangan ada balas budi ke siapa lagi."

Menurut Jokowi, pembangunan monorel merupakan urusan pihak swasta, yakni PT Jakarta Monorail, bukan urusan Pemerintah Provinsi DKI. "Itu urusannya Bu Sukmawati Syukur (pendiri PT Jakarta Monorail), dia mau kerja sama dengan  Edward (Edward Soeryadjaya, Komisaris Utama PT Jakarta Monorail) silakan, bukan urusan kami. Itu business to business," kata dia.

Sebelumnya, pengamat transportasi Darmaningtyas menilai kelanjutan pembangunan monorel merupakan bentuk balas budi Jokowi kepada Megawati. Sebab, mantan Presiden Indonesia yang kelima itulah yang mencanangkan pembangunan monorel di Jakarta. Menurut Darmaningtyas, Jokowi bisa menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta karena restu Megawati selaku Ketua Umum PDIP, partai pengusung Jokowi.

Darmaningtyas menuturkan, jika dilihat dari keinginan Jokowi agar pengendara mobil pribadi beralih ke transportasi massal saat monorel sudah berjalan, itu harapan sia-sia. Sebab, monorel hanya beroperasi di tengah kota.

Tentu, yang jelas Megawati, semasa menjadi Presiden pernah memberikan pengampunan kepada konglomerat hitam (Cina) yang sudah mengamplang BLBI Rp,650 triliun. Mega dan Taufik Kemas sangat dekat dan akrab dengan sejumlah konglomerat hitam, termasuk dengan Syamsul Nursalim yang sekarang berada di Singapura. af/hh

 

 

 

 


latestnews

View Full Version