View Full Version
Ahad, 29 Jun 2014

Voa-Islam Gagas Diadakannya Forum Pemred Media-Media Islam

JAKARTA (voa-islam.com) – Dalam acara “Silaturahim Nasional 5 Tahun Voa-Islam” yang diselenggarakan pada Kamis (26/06/2014) lalu di Hotel Grand Alia, Cikini, Jakarta, muncul sebuh gagasan yang terhitung strategis dan penting dari media online Islam, Voa-Islam. Gagasan tersebut ialah pentingnya untuk segera dibentuk Forum Pemred (Pemimpin Redaksi) Media-Media Islam, mulai dari media cetak, elektronik, dan media online.

“Kita berharap silaturahim nasional ini tidak hanya berhenti di sini, bisa ditindak lanjuti dengan dibentuknya Forum Pemred media-media Islam dengan mengadakan diskusi setiap bulan, Voa-Islam siap untuk membuat AD/ART dan lain sebagainya” kata Ustadz Badrul Tamam kepada para tamu undangan yang hadir.

Menurut Ustadz Badrul yang merupakan Redaktur Pelaksana Voa-Islam.com ini, Forum Pemred Media-Media Islam sangat penting dibentuk agar media-media Islam dapat membahas isu-isu penting keumatan secara bersama-bersama, dan agar terjadi sinergi atau ukhuwah Islamiyah yang semakin kuat dan erat antar media-media Islam yang ada saat ini. Selain itu, tugas-tugas amar ma'ruf nahi munkar dan jihad fii sabilillah dari media Islam akan lebih kuat dan terarah.

Juru Bicara (Jubir) Front Pembela Islam (FPI) Munarman SH, yang juga hadir dan menjadi salah satu pembicara dalam acara “Silaturahim Nasional 5 Tahun Voa-Islam” mengatakan bahwa media sekuler yang ada saat ini juga mempunyai Forum Pemred. Dalam forum itu, menurut Munarman, para Pemred media-media sekuler tersebut bersepakat untuk sama-sama membahas dan menyebarkan isu-isu kepada masyarakat.

Dalam konteks itulah, gagasan dibentuknya Forum Pemred Media-Media Islam menjadi sangat penting dan strategis. Oleh karena itu, Munarman memberikan nasehat agar media-media Islam harus bersatu dan tidak saling “menyerang”. Apalagi dalam tausiahnya, Munarman juga mengatakan kepada media-media Islam untuk tidak terlalu banyak berharap akan mendapat pembelaan dari Dewan Pers.

“Sudah tidak zaman lagi sesama media Islam saling “menyerang”, kalau media-media Islam seperti ini terus bagaimana kita bisa melawan mereka (media-media sekuler – red.) ujarnya.

Jangan Berharap Dewan Pers Membela media Islam.

Alhamdulillah, semarak acara Silaturahim Nasional 5 Tahun Voa-Islam bersama media Jurnalis Islam Bersatu (JITU) dan jurnalis media nasional yang peduli pada perjuangan Islam di Indonesia berlangsung sukses.

Acara yang berlangsung di Hotel Gren Alia Cikini (26/6) ini cukup interaktif dan penuh dengan tokoh media Islam nasional, seperti dari ANTV, Islampos.com, Kiblat.net, Bumisyam.com, Tabloid Suara-Islam, IDCNews.com, Radio Dakta, dan eks Redpel Tempo Amran Nasution.

Selain Hanibal Wijayanta, Amran Nasution, Aendra Medita, Syaikh Ghayats dan Yulianis, berkesempatan hadir pula Munarman SH yang memberikan pemaparan yang lugas dan tajam.

Munarman mengatakan bahwa media pers online sangat luar biasa kekuatannya. " Saat ini pers luar biasa kekuatannya, jadi tenang saja kalo ada yag fitnah kita, laporkan saja ke Polisi. Dewan Pers tak bisa apa-apa, tak bisa dicabut. Namun konteksnya dalam hal ini, media online atau media televisi selain ada undang-undang yang mengikatnya. Kalo Televisi UU Penyiaran, media online UU ITE." ucapnya lugas.

Jadi pihak yang tidak suka pada media online tidak bisa dijerat oleh Dewan Pers, akan tetapi mereka akan menggunakan peraturan lain untuk media online yaitu dengan UU ITE (Informasi, Transaksi Elektronika).

Jadi pihak yang tidak suka pada media online tidak bisa dijerat oleh Dewan Pers, akan tetapi mereka akan menggunakan peraturan lain untuk media online yaitu dengan UU ITE.

"Mereka akan menghajar disitu (dengan UU ITE), bukan UU Persnya. Dalam hal ini Dewan Pers akan berpihak itu pasti, ketika media yang dilaporkan  tidak mendukung demokrasi, karena mandatnya pers itu menegakkan demokrasi, bukan menegakkan syariat Islam. Dewan Pers akan menganggap bukan produk pers." ucap Munarman lantang.

Munarman menambahkan, "media-media yang dianggap tidak mendukung demokrasi maka Dewan Pers akan menganggap bukan produk pers. Karena mandatnya UU pers tidak ada kata-kata menegakkan syariat Islam. Jangan berharap dewan pers membela media-media Islam" ujarnya.

Ironi demokrasi ya seperti ini. Mandat UU Dewan Pers adalah menjaga dan menjunjung tinggi prinsip-prinsip demokrasi, tak peduli syariat Islam.

Munarman memberikan contoh "ketika tabloid Suara Islam dilaporkan Syafii Maarif ke Dewan Pers, Dewan pers mau menghajar kita". Lalu Munarman menantangnya dengan UU Pers, mereka tidak bisa apa-apa.

"Namun ketika laporkan media-media sekuler yang menghantam media-media Islam, Dewan Pers malah  'mereka bilang ini (media sekuler) dilindungi."imbuh Munarman.

Jadi memang posisinya demikian, semua ada keberpihakan. Jadi jangan berharap ada media yang netral. [Adi/voa-islam.com]


latestnews

View Full Version