View Full Version
Sabtu, 27 Sep 2014

Said Salahudin : Perjuangan Politik PDIP Tak Terkait Dengan Kepentingan Rakyat

JAKARTA (voa-islam.com) - PDIP selama ini berpretensi sebagai kekuatan yang memperjuangkan kepentingan rakyat. Sebaliknya, pengamat politik Said Salahuddin belum tentu PDIP dengan koalisinya memperjuangkan hak rakyat dalam pemilihan kepala daerah (pilkada) langsung.

Meskipun sama-sama mendukung pilkada langsung, PDIP dan rakyat memiliki tujuan yang berbeda. "Bagi PDIP, takut Koalisi Merah Putih menguasai kekuasaan itu di daerah. Sama pilihannya pilkada langsung dengan rakyat, tapi tujuan, motivasinya berbeda," kata Said di Cikini Jakarta Pusat, Sabtu (27/9/2014).

Seperti diketahui, DPR resmi mengesahkan RUU Pilkada pada Jumat (26/9/2014). Sebanyak 226 anggota DPR memilih pilkada tak langsung. Sedangkan hanya 135 anggota DPR memilih pilkada secara langsung.

Dibagian lain pengusungan Megawati Soekarnoputri menjadi ketua umum PDIP dinilai PDIP bukan partai demokrasi tapi oligarki.

Pengamat politik dari UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Pangi Syarwi Chaniago mengatakan, selama ini yang menjadi alasan Mega dicalonkan lagi jadi ketua umum karena diminta dan didukung oleh DPD se-Indonesia.

"Selain itu, ada keinginan agar trah Soekarno nggak putus di PDIP, kader akar rumput ngotot agar trah Soekarno nggak hilang di PDIP dan ini menjadi kehendak konstituen di akar rumput," kata Pangi kepada wartawan, Jumat (26/9/2014).

"Namun, sejak PDIP berdiri kan tetap pemilik sahamnya Mbak Mega. Memang, ada juga di dunia parpol yang disimbolkan atau identik dengan orang atau trah tokoh, sehingga konstituennya setia," ujarnya.

Menurut dia, entah PDIP sebagai partai oligarki atau demokratis tapi yang terpenting itu harus tetap proses pengambilan keputusannya yakni kolektif kolegial jangan sampai proses pengambilan keputusan ditentukan oleh elite penentu.

"Ini yang membuat partai menjadi feodal dan antikritik, lama-lama ini bisa merusak soliditas parpol tersebut. Jadi harus juga disiapkan calon ketua umum untuk menggantikan Mbak Mega, ya bisa tahun 2019," tandas dia.

Sementara itu, pengamat politik CSIS, J.Kristiadi mengatakan, PDIP yang mengandalkan trah Soekarno, nasibnya akan menjadi partai busuk, cetusnya. [jj/dbs/voa-islam.com]


latestnews

View Full Version