View Full Version
Selasa, 21 Oct 2014

Revolusi Mental Jokowi Gagal (Lagi), Usai Acara ABG Pesta Miras dan Sampah Berserakan

JAKARTA (voa-islam.com) - Revolusi mental gagal dijalankan Jokowi dan para pengikutnya. Buktinya, usai menghelat pesta Jokowi di Monas, Senin (20/10), bukan hanya sampah yang menumpuk di mana-mana, tapi juga banyak taman di Monas dan sekitarnya yang rusak diinjak-injak. Padahal, Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur DKI Jakarta Ahok menjamin taman dan fasilitas publik tidak akan rusak akibat berbagai rangkaian pesta Jokowi.

Musababnya, kata Ahok, aparat keamanan mengerahkan pengamanan berlapis sekaligus untuk menjaga taman-taman yang ada. "Ada Satpol PP, polisi, dan tentara yang menjaga dan memagarkan taman," ujarnya di Balaikota, Kamis (16/10).



Lalu, apa reaksi Ahok ketika tahu jaminannya ternyata tidak punya mutu? Ia ternyata bersikap pasrah. "Ya, kami perbaiki. Ya, gimana lagi? Enggak ada jalan lain," kata Ahok di Balaikota, Selasa ini (21/10).

Beda sekali sikap Ahok ketika beberapa taman di Jalan Medan Merdeka Barat dan Medan Merdeka Selatan banyak yang rusak akibat aksi demo yang dilakukan massa pendukung Prabowo-Hatta, terkait sidang sengketa pemilihan preseiden di Mahkamah Kosntitusi beberapa waktu lalu. Ahok ketika itu menegaskan akan minta ganti rugi atas kerusakan itu.

“Saya meminta kepada kepala dinas pertamanan dan pemakanan untuk mengirimkan surat kepada penanggung jawab demo kemarin. Kami akan kirim surat kepada mereka untuk menagih mereka ganti,” ujar Ahok, 22 Agustus lampau.

Ia beralasan, kali ini tidak akan memberikan pengecualian. "Karena, ini sudah kedua kalinya, dulu di KPU merusak juga. Makanya, kami suruh kepala dinas taman mengirim surat lengkap dengan foto untuk meminta ganti," ujarnya.

Dalam kesempatan itu, Ahok juga menyatakan, ke depannya, orang yang merusak taman dan merusak fasilitas publik akan ditindak pidana. Untuk itu, pihaknya akan lebih banyak lagi memasang kamera pengawas (CCTV) dengan sensor kamera yang lebih canggih.

"Nah, kami lagi mau pasang CCTV yang lebih tajam. Berikutnya orang demo yang merusak itu kami akan deteksi mukanya siapa, sehingga kami bisa memidanakan dia. Sekarang kan kami enggak bisa. Bahkan, orang yang corat coret depan saja kami enggak bisa dapat mukanya siapa kok," ujarnya.

Revolusi Mental Gagal (Lagi), Menata Sampah Saja Tak Mampu?

Monas mulai ramai dipenuhi warga sejak pukul 16.00. Banyak yang sengaja berjalan kali demi menghadiri pidato kerakyatan Presiden Joko Widodo.

Alhasil, lalu lintas sekitar Monas menjadi macet luar biasa. Kendaraan hampir tak bergerak di seputar stasiun Gambir. Kondisi diperparah dengan banyaknya sepeda motor yang parkir di trotoar.

"Padahal kalau mereka mengerti revolusi mental, harusnya bisa tertib," kata salah seorang pengunjung dari Tangerang, Luna, Senin (20/10).

Hal ini bertentangan dengan imbauan relawan Jokowi. Salah seorang relawan, Uli Safitri, dalam postingannya di facebook, “Revolusi mental dimulai dari sekarang. Bijak kelola sampah 20 Oktober 2014,” imbuhnya.

Ada empat hal yang harus dilakukan. Pertama pungut, berarti bersihkan lokasi acara dengan memungut sampah di sekitar. Kedua, bawa kantong plastik sendiri untuk menampung sampah yang dipungut. Ketiga letakkan sampah yang sudah dipungut di tempat sampah yang disediakan. Keempat, sebarkan pesan ini.

Yang terjadi di lapangan, imbauan tersebut ternyata diabaikan. Sampah beterbaran dimana – mana seperti dilansir ROL. Masih dari pantauan Republika, selepas konser, beberapa pesertanya pun melakukan 'pesta' miras yang dilakukan di sekitaran Stasiun Gambir. Mereka yang masih usia remaja dilaporkan mengisap rokok dan meminum minuman keras.

Selepas konser, beberapa pesertanya pun melakukan 'pesta' miras yang dilakukan di sekitaran Stasiun Gambir. Mereka yang masih usia remaja dilaporkan mengisap rokok dan meminum minuman keras.

 

Gelaran pesta yang digelar seharian dengan banyak agenda ini memang diapresiasai oleh banyak kalangan. Namun, sebagai wujud kemajemukan itu sendiri, tak sedikit pula yang mempertanyakannya.

 

Apalagi pesta ini digelar ketika di belahan Indonesia lain masih banyak terjadi bencana, bahkan dalam waktu yang sama di Sinabung terjadi 38 kali gempa, di sekitaran Banten masih ada yang memakan nasi aking, dan banyak daerah yang harus menerima pemadaman listrik bergilir sehingga mengganggu aktivitas mereka.

 

Dalam kaca mata keindonesiaan sendiri, presiden-presiden sebelumnya langsung menyusul pelantikan dengan kerja. Bahkan, jika melihat yang dilakukan oleh pendahulu umat Islam ini, mereka yang dilantik selalu menangis, mengucap kalimat tarji' dan aktivitas positif lainnya. [gn/jabir/voa-islam.com]


latestnews

View Full Version