View Full Version
Selasa, 18 Nov 2014

Jokowi Belum Sebulan Sudah Gencet Rakyat Dengan Kenaikan BBM

JAKARTA (voa-islam.com) - Inilah rekor Jokowi, presiden ke tujuh, belum sebulan dilantik menjadi presiden sudah memberikan hadiah kepada rakyat, berupa kenaikan BBM. Presiden Jokowi kurang dari sebulan sudah menggencet rakyat dengan meniakan BBM sebesar 30,7%.

Entah apa yang ada di benak setiap presiden baru berkuasa tentang harga BBM? Masalah ini tak bisa dilepaskan dari setiap rezim yang berkuasa. Setiap presiden atau pemimpin punya cara dan momentum untuk menaikan harga BBM.

Saat pemerintahan Abdurrahman Wahid yang dilantik 20 Oktober 2009, harga BBM justru diturunkan. Gus Dur, sapaan akrabnya menurunkan harga premium dari Rp1.000 menjadi Rp600 per liter.

Barulah pada Oktober 2000, Presiden Abdurrahman Wahid,  menaikkan premium menjadi Rp1.150 per liter. Artinya, Gus Dur butuh waktu setahun untuk memberlakukan kenaikan BBM.

Sementara Megawati yang menggantikan Gus Dur pada 23 Juli 2001, butuh waktu tujuh bulan. Tepatnya pada Maret 2002, Megawati baru berani menetapkan penaikan harga BBM dari Rp1.450 menjadi Rp 1.550 per liter.

SBY menaikkan harga BBM pada bulan keempat pemerintahannya. SBY dilantik pada 20 Oktober 2004, menetapkan kenaikan BBM pada 1 Maret 2005. Harga premium naik dari Rp1.850 menjadi Rp2,400 per liter. Sedangkan untuk solar, harganya beranjak dari Rp1.650 menjadi Rp2.100 per liter.

Sedangkan Jokowi dilantik pada 20 Oktober, belum genap sebulan, mantan Gubernur DKI yang terkenal dengan blusukan ini, mengerek kenaikan BBM 30,7% atau Rp2.000 per liternya. Untuk premium, harga semula Rp 6.500 dinaikkan menjadi Rp8.500 per liter. Sedangkan solar naik dari Rp5.500 menjadi Rp7.500 per liter.

Presiden Jokowi adalah presiden tercepat dalam memberlakukan kenaikan harga BBM. Padahal, asumsi harga minyak dunia jauh di bawah asumsi APBN-P 2014. Jadi rakyat perlu mengingat sepanjang hidup mereka, Jokowi adalah presiden paling cepat menaikan harga BBM.

Rakyat kecil, kelas menenang kebawah, nampaknya akan semakin menderita di era Jokowi. Janji-janji mensejahterahkan rakyat hanyalah janji palsu. Rakyat terbebani dengan kenaikan berbagai kebutuhan pokok akibat kenaikan BBM. Sungguh Jokowi bukan presiden yang pro-rakyat. [jj/dbs/voa-islam.com]


latestnews

View Full Version