View Full Version
Kamis, 11 Dec 2014

Redaksi The Jakarta Post Dijadikan Tersangka Dugaan Penistaan Agama

JAKARTA (Voa Islam) - Setelah berjalan beberapa waktu sejak kantor The Jakarta Post digeruduk Jama'ah Anshorut Tauhid (JAT) dan Korps Muballigh Jakarta (KMJ), akhirnya Penyidik Polda Metro Jaya menetapkan Pemimpin Redaksi "The Jakarta Post" Meidyatama Suryodiningrat (MS) sebagai tersangka dugaan tindak pidana penistaan agama.

"Rencana pekan depan, MS akan dipanggil," kata Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya Komisaris Besar Polisi Rikwanto di Jakarta Kamis.Rikwanto mengatakan petugas kepolisian pernah memeriksa MS sebagai saksi dalam rangka proses penyelidikan.

Selanjutnya, penyidik menetapkan MS sebagai setelah mengantongi dua alat bukti termasuk keterangan saksi ahli, dewan pers, dan dokumen lainnya.

Rikwanto menyebutkan tersangka MS sebagai penanggung jawab dari seluruh produk yang dicetak harian surat kabar berbahasa inggris tersebut.Terkait hal itu, MS dijerat Pasal 156 ayat (a) KUHP tentang penistaan agama dengan ancaman hukuman penjara lima tahun.

Sebelumnya, penyidik Polda Metro Jaya menangani kasus karikatur kontroversi yang dimuat media cetak berbahasa Inggris The Jakarta Post yang dilimpahkan Mabes Polri.

KMJ Melaporkan The Jakarta Post ke Polisi

Berdasarkan Laporan Polisi Nomor : 687/VII/2014 tertanggal 15 Juli 2014, Ketua Majelis Tabligh dan Dakwah Korps Mubaligh Jakarta (KMJ) Edy Mulyadi melaporkan Pemimpin Redaksi The Jakarta Post, Meidyatama Suryodiningrat.

Pihak The Jakarta Post telah menyampaikan permohonan maaf kepada publik atas kesalahan karikatur itu, namun Polda Metro Jaya tetap memproses hingga ke pengadilan.

The Jakarta Post edisi terbitan 3 Juli 2014 memuat kartun yang mencantumkan karikatur dengan kalimat bertulisan Arab La ilaha illallah yang berarti "Tidak ada Tuhan selain Allah" pada sebuah gambar tengkorak khas bajak laut.

Pihak Majelis Tabligh dan Dakwah Korps Mubaligh Jakarta (KMJ) menilai karikatur itu sebagai bentuk penghinaan terhadap salah satu agama. Seperti juga ditegaskan oleh pihak JAT saat itu, bahwa penghinaan terhadap bendera yang dikenal sebagai lambang IS(IS) itu, sebenarnya merupakan penghinaan terhadap kalimat tauhid yang diagungkan oleh kaum muslimin seluruh dunia.

Kita lihat saja seberapa tegas para aparatur hukum terhadap pelaku penistaan Islam ini. (AF/Antara/Voa-Islam.com)


latestnews

View Full Version