View Full Version
Ahad, 15 Nov 2015

Menko Polhukam Letjen Luhut Panjaitan Ingin NU Menjadi Bemper Melawan Teroris

JAKARTA (voa-islam.com) - Kasihan nasib NU. Selalu menjadi "objek". Bukan menjadi "subjek". Ramai-ramai gelegak politik dan keamanan,  akibat kekacauan global, dan serangan ISIS di Paris, maka tak ada lagi, yang diharapkan kecuali NU. NU mau diadu dengan "teroris".

Letjen Luhut Binsar Panjaitan, selaku Menko Polhukam minta bantuan NU menghadapi "teroris". Sekarang "teroris" sudah menjadi ancaman bagi keamanan global.

Tidak ada yang tidak tembus oleh ISIS.  Bandara Mesir, Sharm el-Sheikh, yang sangat ketat pun tembus, mengakibatkan pesawat Metrojet Rusia "meledak", dan menewaskan 224 penumpangnya.

Dahulu, tokoh NU, seperti Said Agil Siraj, pernah melansir bahaya ancaman ideologi "trannasional" dan "Wahabi".

Padahal, yang namanya "transnasioal" dan "wahabi" itu, bukanlah ancaman. Kecuali mereka yang penganut musyrik. Karena ajaaran Mohamad bin Abdul Wahab itu, hanyalah ajaran yang memurnikan tauhid.

Bahkan, ulama NU  yang belajar di Arab Saudi atau Timur Tengah,  yang menjadi pusat ideologi "transnaional" dan "wahabi". Sekarang mau di adu-domba. Untuk melawan "teroris". 

Adalah Menkopolhukam Jenderal (Purn) Luhut Binsar Panjaitan mengatakan Nahdlatul Ulama (NU) merupakan salah satu pilar dari NKRI yang harus menjadi benteng terdepan di dalam penegakannya.

"Peran NU sangat penting, terlebih Jatim yang merupakan basis dari NU. Jatim merupakan barometer stabilitas keamanan nasional," katanya di Surabaya, Sabtu (14/11/2015).

Terkait situasi keamanan yang terjadi di Indonesia, Luhut juga mengingatkan kepada PBNU dan PWNU se-Indonesia serta pengurus NU agar mewaspadai bahaya radikalisme. Menurut dia, radikalisme menjadi masalah serius yang disebabkan adanya kemiskinan dan rendahnya tingkat pendidikan.

Selain itu, Luhut juga mengatakan bahaya narkoba merupakan masalah serius karena merusak generasi muda bangsa. Karena Indonesia saat ini bukan sebagai tujuan transit narkoba, melainkan sebagai negara tujuan utama pasar narkoba.

"Selain radikalisme dan bahaya narkoba, pemerintah juga terus memfokuskan terhadap kejahatan internasional seperti penambangan dan penangkapan ikan illegal serta penyelundupan manusia hingga meningkatnya ketegangan di Laut Cina Selatan dan stabilitas di Kawasan Asia Tenggara," tandasnya.

Mungkin juga Lluhut Panjaitan, memberi  informasi tentang menteri-menteri dari NU (PKB), menjelang gonjang-ganjing rencana reshufle  oleh Jokowi. Tentu, kalangan NU ingin menteri dari PKB aman, dan tidka dikurangi jatahnya. Apalagi, pertemuan itu ada Saefullah Yusuf, wakll gubernur Jatim, yang juga tokoh muda NU Jatim.

Sejarah NU pernah melawan penjajah, saat Surabya di duduki oleh pasukan Sekutu, yang dikenal peristiwa 10 Nopember, dan kemudian dikenal "Pertempuran Surabaya". Sekarang sama penjajah sudah masuk Indonesia, dan menguasai negara. Jadi  yang harus dihadapi NU itu, bukan teroris, ideologi "transnasional", dan "wahabi", tapi penjajah yang sudah mengangkangi Indoneisa.

(sasa/dbs/voa-islam.co) 


latestnews

View Full Version