View Full Version
Senin, 06 Feb 2017

Bangun Rekonsiliasi, MUI Dorong Dialog Nasional

 

JAKARTA (voa-islam.com)--Sekjen Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH. Anwar Abbas mendorong agar diadakan dialog nasional untuk menyelesaikan tuduhan-tuduhan yang sedang menimpa umat Islam.

"Kita berpikir bagaimana persatuan dan kesatuan bangsa harus tetap kokoh. Kita berpikir bagaimana agar NKRI tetap utuh. Perlu ada dialog bersifat nasional. Seperti kata KH. Din Syamsuddin, Ummat Islam disudutkan dan tersudut. Diposisikan sebagai ummat yang tertuduh," kata Kyai Anwar saat mendengarkan aspirasi sejumlah ormas Islam dalam audiensi ke MUI Pusat di Jl. Proklamasi No. 51 Menteng Jakarta Pusat, Jum'at (3/2/2017).

Menurut Kyai Anwar, tuduhan yang sedang dihadapi umat Islam saat ini sangat luar biasa. Di antaranya, anti NKRI, anti Pancasila, snti Kebhinnekaan, dan anti Toleransi. Suatu tuduhan yang sangat menyakitkan.

"Kalau umst Islam sesuai tuduhan tersebut, maka negara ini tak akan ada. Tidak ada Indonesia. Tuduhan tersebut ahistoris. Tidak didukung bukti empirik," tegasnya.

Kyai Anwar menegaskan bahwa seandainya keadilan dan kebenaran di Indonesia sudah hilang. Maka, implikasinya tinggal menunggu waktu negara ini akan hancur. 

"Dan kita tidak mau begitu, MUI menghimbau semua pihak untuk menghadapi semua masalah yang menimpa kita akhir-akhir ini, dengan arif bijaksana. Dengan pikiran yang lapang. Dan dada yang terbuka," ucapnya.

Lebih dari itu, MUI juga mengimbau kepada pemerintah dan politisi untuk mengadakan dan membuka dialog bangsa dan memikirkan apa yang terjadi hari ini. Ia mengajak semua pihak untuk mempersiapkan masa depan Indonesia yang gemilang. 

"Mari kita bergandeng tangan seluruh pihak. Dan berbicara bersama-sama serta memberikan solusi," cetusnya.

Lanjut Kyai Anwar, KH. Ma'ruf Amin memberikan tekanan tiga hal dari dialog yang akan dilakukan. Pertama, dialog itu memberikan dan menawarkan solusi atas masalah bangsa. Kedua, dialog merumuskan langkah antisipasi yang akan disiapkan. Ketiga, adalah rekonsiliasi, agar hubungan kebangsaan yang kusut bisa kembali rapi.

"Mari kita berdo'a agar rakyat kita bisa terurus dengan baik. Hidupnya tentram dan damai. Kita berada dalam suasana damai, aman, tentram dan bahagia di Negara Kesatuan Republik Indonesia," tandasnya. * [Bilal/Syaf/voa-islam.com]


latestnews

View Full Version