View Full Version
Rabu, 02 May 2018

Grand Syekh Al-Azhar Ahmad Muhammad Ahmad ath-Thayyeb Sambangi PBNU

JAKARTA (voa-islam.com)- Islam merupakan agama wasathiyah (moderat) dan i'tidal (adil/proporsional). Karena itu, Islam tak mengenal ekstremisme termasuk untuk tujuan-tujuan yang mengatasnamakan agama. Tidak ada paksaan dalam agama (la ikhraha fiddin). Bagi Islam, kebinekaan budaya, keragaman ras dan suku, perbedaan pendapat, merupakan sesuatu yang niscaya. Manusia di mana saja tak akan dapat menghindar dari keragaman.

Yang paling masuk akal bisa dilakukan adalah saling menghormati perbedaan-perbedaan tersebut, tanpa menampik pentingnya menjalin persatuan dan kehidupan bersama secara harmonis enengok problem dunia saat ini, khususnya umat Islam di sejumlah negara di Timur Tengah, seperti Pelestina, Suriah, Yaman, Mesir, Libya, Afganistan, dan sekitarnya. Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) mengungkapkan keprihatinan atas konflik berdarah yang menelan banyak sekali korban.

Penderitaan tak hanya dari segi fisik dan material, tapi juga berdampak pada aspek ruhani dan spriritual. Suasana konflik membuat hawa permusuhan mudah disulut termasuk melalui fitnah, hasud, dan isu-isu sentimen perbedaan identitas dan paham. Tanpa mengingkari adanya faktor ekonomi dan politik, PBNU juga perlu menyerukan kepada umat Islam di mana saja untuk tidak mudah terpancing dengan isu perbedaan identitas dan paham yang sesungguhnya lumrah dalam kehidupan ini.

Kaum Muslimin perlu mengendalikan ego kelompok masing- masing, menggalang persatuan nasional, dan membangun peradaban yang lebih baik bersama-sama. Spirit Islam wasathiyyah menjadi modal kuat untuk keperluan ini: menyinergikan ruh keagamaan dan kebangsaan dalam satu jiwa sekaligus Indonesia menjadi contoh yang baik tentang sudah tuntasnya "perselisihan" antara Islam dan nasionalisme.

Tanah air kita menunjukkan kenyataan bahwa seorang nasionalis bisa sekaligus menjadi islamis, sementara seorang islamis bisa sekaligus nasionalis. Arus umum kebermasyarakatan kita menampilkan wajah demikian. Karakter keberislaman di Nusantara semacam ini adalah hasil dari pergulatan panjang sejarah, sejak Wali Songo yang mengguna pendekatan budaya dalam berdakwah, para ulama pendiri republik ini, hingga kiai atau tuan guru yang setia terhadap prinsip-prinsip moderatisme yang diajarkan para pendahulunya. 

Pancasila yang menjadi filosofi dan landasan pokok negara Indonesia merupakan perwujudan dari ajaran Islam Nusantara yang menjunjung toleransi atas kebinekaan, dan kearifan budaya. Pancasila merupakan jangkar bagi kapal Indonesia yang ditumpangi oleh lebih dari 250 juta jiwa dengan berbagai etnik dan latar belakang agama yang berbeda.

Para ulama NU memandang Pancasila sebagai faktor pemersatu bangsa Indonesia dan karenanya NU menjaga persatuan tanah air dan kesatuan bangsa Indonesia dan menganggap NKRI sebagai bentuk final yang tidak dapat diubah-ubah. Pancasila tidak berkeinginan untuk menjauhkan Islam dari masyarakat tetapi bahkan akan menyuburkan nila-nilai Islam dalam masyarakat. Kisah di atas menunjukkan pandangan NU terhadap Pancasila yang sejalan dengan realitas kita aat ini.

Penerapan Pancasila menurut NU bukanlah paksaan melainkan didasari oleh kesadaran penuh tentang kemaslahatan agama dan negara yang tidak dapat dipisahkan. Berbeda dengan pandangan sebagian orang Eropa yang gagal memahami tentang iman, agama dan keadilan sosial yang menurut mereka tidak dapat dipersatukan sama sekali. Sementara di Indonesai mayoritas bangsa Indonesai memahami dengan baik bahwa Iman kepada Allah menyatu dengan keadilan sosial. Bahkan melalui Pancasila, Islam bersinergi dengan nilai-nilai kemanusiaan, persatuan (nasionalisme), dan demokrasi. 

 Kehadiran Grand syekh Al-Azhar Ahmad Muhammad Ahmad ath-Thayyeb ke Indonesia menjadi momen penting untuk saling bertukar pikiran, saling mengingatkan, tentang problem dunia Muslim saat ini. PBNU berharap, posisi beliau yang sangat penting di Timur Tengah, setidaknya di Mesir, bermanfaat untuk mendiseminasi pemikiran-pemikiran Islam wasathiyah ala Nusantara, sebagai inspirasi gagasan bagi peradaban yang lebih damai. 

Faktor eksternal pasti ikut andil dalam kekisruhan di Timur Tengah, sebagaimana faktor internal berupa ideologi ekstrem dan fanatisme kelompok. Bila urusan internal bisa selesai, setidaknya kekuatan nasional negara-negara kaya minyak tersebut meningkat dan potensi untuk menghalau kolonialisme dari negara-negara asing bisa lebih maksimal. (Robi/voa-islam.com)


latestnews

View Full Version