View Full Version
Selasa, 28 May 2019

Ketua MUI Sumbar ke MK: Fa Dzakkir

JAKARTA (voa-islam.com)- Teruntuk yang terhormat tuan-tuan dan puan para Hakim Mahkamah Konstitusi (MK). Entah taushiyyah ini akan bernilai di mata tuan-tuan dan puan entah tidak.

Hamba ini hanya berusaha menjalan tugas yang diamanahkan oleh Allah SWT Pencipta Alam Semesta.

Ia berfirman dalam Al-Qur’an:

{فَذَكِّرْإِنَّمَاأَنتَمُذَكِّرٌ} [21] {لَّسْتَعَلَيْهِمبِمُصَيْطِرٍ} [22]

“( 21 ) Maka berilah peringatan, karena sesungguhnya kamu hanyalah orang yang memberi peringatan.

( 22 ) Kamu bukanlah orang yang berkuasa atas mereka, (QS. al-Gasyiyah 88 : 21-22)

Ayat itulah yang menggerakkan jemari hamba menuliskan taushiyyah ini.

Sedangkan tujuan yang menjadi cita dan harapan, juga terdapat dalam firman Allah SWT:

ۚإِنْأُرِيدُإِلَّاالْإِصْلَاحَمَااسْتَطَعْتُۚوَمَاتَوْفِيقِيإِلَّابِاللَّهِۚعَلَيْهِتَوَكَّلْتُوَإِلَيْهِأُنِيبُ[هود٨٨] 

“....Aku tidak bermaksud kecuali (mendatangkan) perbaikan selama aku masih berkesanggupan. Dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah. Hanya kepada Allah aku bertawakkal dan hanya kepada-Nya-lah aku kembali”. (QS. Hud 11:88)

Bila tuan-tuan dan puan suka dengan isinya, ambillah! Kalau tidak, biarkanlah dia menjadi peringatan buat diri hamba dan orang-orang yang menerimanya.

Tuan-tuan dan puan yang saya hormati !

Hamba termasuk orang yang tidak setuju dengan pendapat yang mengatakan bahwa “keadilan tidak ada di muka bumi ini”. Hamba juga menentang mereka yang menilai bahwa “manusia tidak mungkin berlaku adil”.

Hamba tak akan membantahnya dengan memaparkan peristiwa demi peristiwa keadilan Rasulullah SAA yang diwarisi oleh para shahabat beliau seperti Abu Bakar r.a dan ‘Umar Ibn al-Khatthab r.a karena bagi sebagian intelektual, cerita itu bagaikan nostalgia yang sulit terulang di zaman kini.

Hamba hanya akan mengemukakan suatu keyakinan yang menjadi bagian dari ‘aqidah bahwa Allah swt tidak akan meletakkan suatu beban di luar batas kesanggupan insan untuk memikulnya. 

Begitu pula, Allah swt juga tidak akan memerintahkan untuk mengadakan sesuatu yang tidak mungkin diwujudkan.

Karena itu, selama keadilan dan bersikap adil itu merupakan perintah Allah SWT, maka ia masih dalam kemampuan manusia untuk melakukannya serta mewujudkannya.

Nah, bukankah Allah SWT yang menyuruh manusia berlaku ‘adil dalam firman-Nya:

اعْدِلُواهُوَأَقْرَبُلِلتَّقْوَىٰۖ 

“....Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada taqwa ...”. (QS. al-Maidah 5:8)

Dengan demikian, berarti keadilan itu bisa dilakukan oleh manusia dan bisa mereka wujudkan di dunia ini.

Berdasarkan keyakinan itu, hamba menghimbau tuan-tuan dan puan yang terhormat agar bersikap adillah dalam perkara kedaulatan rakyat saat ini. Wujudkanlah keadilan yang diamanahkan kepada tuan-tuan dan puan. Kalau tuan-tuan dan puan menyimpang dari keadilan maka sekedar berbagi peringatan, hamba kutipkan sabda Rasulullah saw berikut ini:

عَنْبريدةفالفالرسولصَلَّىاللَّهُعَلَيْهِوَسَلَّمَقَالَ: ” الْقُضَاةثَلَاثَةاثْنَانِفِيالنَّارووَاحِدفِيالْجَنَّةرجلعرفالحقفقضىبهفهوفيالجنةورجل  عرفالحقفلميقضبهوجارفيالحكمفهوفيالنارورجللميعرفالحقفقضىللناسعلىجهلفهوفيالنار(رواهالاربعةوصححهالحاكم)

“Dari Buraidah r.a. beliau berkata, Rasulullah saw bersabda: 

Ada tiga golongan hakim. Dua akan berada dalam neraka dan satu di dalam surga. Hakim yang mengetahui mana yang benar kemudian ia memutuskan hukuman sesuai dengan yang diketahuinya, maka ia akan berada dalam surga.

Hakim yang mengetahui mana yang bernar tetapi ia tidak menjatuhkan hukuman atas dasar kebenaran itu, maka ia akan berada dalam neraka. Hakim yang tidak mengetahui mana yang benar, lalu ia menjatuhkan hukuman atas dasar ketidaktahuannya itu, maka ia juga berada di dalam neraka“. (HR. Abu Daud)

Wallahu a’lam.

*Ketua MUI Sumbar, Buya Gusrizal

(Robi/voa-islam.com)


latestnews

View Full Version