View Full Version
Selasa, 24 Dec 2019

Hari Ibu, Muslimah Jepara Gelar Diskusi

JEPARA (voa-islam.com)--Hari Ibu yang bertepatan pada Ahad (22/12) lalu menjadi hari yang spesial bagi para muslimah Jepara. Pasalnya, mereka mengadakan acara silaturahim sekaligus berdiskusi tentang isu ibu dan generasi kekinian. Dengan mengusung tema "Ibu... Riwayatmu Kini" para muslimah terlihat sangat antusias mengikuti rangkaian acara hingga selesai. Diawali oleh pembukaan dan pembacaan ayat suci Al-Quran, Insya Allah semakin menambah keberkahan di hari itu.

Kemudian, Ustadzah Yudiana membuka diskusi dengan menyodorkan sederet fungsi sebuah bangunan keluarga. Bahwa keluarga harus mampu menjadi masjid, madrasah pertama dan utama, benteng muslim, amar ma'ruf nahi mungkar bagi masyarakat, pembentuk pejuang peradaban, serta rumah sakit. Yang mana jika fungsi tersebut berjalan optimal akan menghadirkan surga di rumah. Hingga kelak mengantarkan kepada surga Allah subhanahu wa ta'ala. Lebih dari itu, melalui rahim keluarga juga dapat terlahir generasi dan peradaban yang gemilang.

Jauh panggang dari api. Realita yang dialami keluarga muslim ironis sekali. Hari ini kita masih dikepung oleh liberalisme dalam seluruh aspek kehidupan. Sebut saja liberalisasi perilaku dimana begitu menjamurnya pergaulan bebas, narkoba, dan miras. Mulai dari bocah ingusan, remaja ababil, sampai bapak-ibu yang sudah separuh abad mempertontonkan kemaksiatan secara terang-terangan.

Sudah menjadi rahasia umum bila pacaran disertai dengan seks bebas. Bahkan, aktivitas haram tersebut sengaja divideokan lantas diviralkan melalui media sosial. Yang bapak-bapak dan ibu-ibu juga tidak ingin ketinggalan pentasnya. Mereka mengorbankan istrinya untuk dicicipi oleh lelaki buas lain. Tidak tanggung-tanggung, rumah pun disewakan untuk bisnis prostitusi kecil-kecilan. Belum lagi aktivitas seks bebas yang menyalahi naluri orientasi seksualnya, seperti yang dilakukan oleh kaum LGBT. Wa iyyadzubillah.

Ada lagi liberalisasi pemikiran dimana ide-ide kufur bebas disebarluaskan sehingga bermunculan aliran-aliran yang sesat dan menyesatkan. Dari segi budaya, hukum, dan ekonomi juga semakin deras arus liberalisme. Hal ini nampak jelas pada gaya hidup kaum muslimin yang berubah berkiblat kepada Barat. Ramai muslimah yang menanggalkan hijabnya beralih ke rok mini, baju ketat, berjalan berlenggak lenggok dengan menonjolkan auratnya. Budaya kekorea-korean juga merasuki gaya hidup kita. Makan, minum, berpakaian, bersosialisasi, sudah jauh dari adab Islami. Sebaliknya, mengekor kepada budaya kufur.

Mirisnya, semua itu diamini oleh negara. Negara bukan hanya diam seribu bahasa atas liberalisme yang mengancam akhlak generasi. Lebih dari itu, negara justru bergandengan mesra dengan musuh-musuh Allah. Mereka tak segan-segan membuka kran investasi selebar-lebarnya. Menjual aset pribumi kepada perusahaan luar negeri. Membiarkan lapangan pekerjaan dikuasai oleh tenaga kerja asing dan aseng. Sementara jutaan penduduk pribumi semakin jatuh miskin hingga mati kelaparan.

Akibatnya, para perempuan terpaksa menanggung beban keluarga. Para ibu lebih banyak menghabiskan waktu di luar rumah untuk bekerja. Lalai dalam pengasuhan dan pendidikan anak-anaknya. Hingga menelantarkan mereka tanpa pengawasan sedikit pun. Anak-anak menjadi bebas bermain gadget, aktivitas ibadah pun bablas. Mereka asik mengakses konten-konten negatif dari internet, liar berselancar di media sosial. Tanpa sadar, tahu-tahu anak sudah terjerumus kedalam perzinaan. Kalau anak sudah hamil di luar nikah, siapa yang berhak disalahkan?

Pada akhirnya, banyak keluarga muslim diliputi suasana permusuhan, perselingkuhan, kekerasan, dan persengketaan. Menjadi keluarga yang penuh konflik, rapuh, hingga hancur. Perceraian tidak terelakkan. Bahkan, pembunuhan terhadap anggota keluarga sendiri juga marak terjadi. Bangunan keluarga sebagai benteng pertahanan terakhir telah hancur berkeping-keping.

Sayangnya, hukum hari ini tidak mungkin berpihak kepada kita, yang hanya rakyat biasa apalagi kepada kaum jelata. Sebab, kita hidup di negara sekuler-kapitalis. Mustahil mengharapkan perubahan dari tangan negara. Menggantungkan harapan hidup yang indah dan sejahtera kepada negara sama saja seperti menelan racun sekulerisme. Bukannya berubah ke arah lebih baik, yang ada mati bunuh diri.

Lantas, satu-satunya upaya terbaik adalah mengambil Islam sebagai solusi. Dengan cara mengokohkan fungsi keluarga samara yang dibangun atas dasar ketaatan kepada Allah (aqidah Islam), menjadikan syariat Islam sebagai tolok ukur perbuatan, dan memiliki visi menggapai ridho Allah. Selain itu, kita juga harus membangun profil muslimah tangguh sebagai seorang ibu pencetak generasi pejuang, istri shalihah pendamping para pejuang, dan pemimpin para muslimah pejuang syariah.

Semua itu hanya dapat diwujudkan dengan perubahan terintegrasi. Melalui pengkajian Islam secara mendalam, memahaminya, dan menjadikannya sebagai cara pandang kehidupan. Maka, wajib bagi kaum ibu untuk menuntut ilmu Islam (tholabul ilmi) dalam bentuk pembinaan rutin yang terarah dan terencana. Dengan tetap mengoptimalkan perannya sebagai seorang hamba yang bertakwa, ummun wa rabbatul baiti, dan hamilu dakwah.

Diperlukan juga sinergitas bersama masyarakat. Dengan mewujudkan masyarakat taat syariat yang diikat oleh pemikiran, perasaan, dan aturan yang sama yaitu berdasarkan Islam. Sungguh, perubahan hakiki hanya dapat diraih dengan penerapan Islam di negeri. Dan sikap jiwa seorang muslim adalah bersegera bertaubat dan berubah, tanpa menunda-nunda.*[Ayu/Syaf/voa-islam.com]


latestnews

View Full Version