

MADINAH (voa-islam.com) – Panggilan Baitullah tidak mengenal batasan usia. Jika Allah SWT telah berkehendak mengundang hamba-Nya, maka tidak ada satu pun yang dapat menghalangi.
Mbah Mardijiyono Karto Sentono , Pria asal Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) itu tercatat sebagai jemaah haji tertua Indonesia tahun ini dengan usia mencapai 103 tahun.
Kakek yang sehari-harinya bekerja sebagai petani ini akhirnya menginjakkan kaki di tanah suci Madinah. Kedatangannya disambut dengan suasana penuh haru oleh para petugas haji Indonesia.
Lahir pada tahun 1923, Mbah Mardijiyono tetap menunjukkan semangat luar biasa meski usianya telah melewati satu abad. Dengan bantuan tongkat, ia masih mampu beraktivitas secara mandiri, mulai dari berjalan, mandi, hingga menjalankan ibadah sehari-hari.
Perjalanan panjang dari Indonesia menuju Tanah Suci pun tidak tampak mengurangi semangatnya. Wajahnya terlihat tenang, segar, dan penuh rasa syukur. Saat ditanya soal rahasia umur panjang dan tetap sehat di usia lebih dari 100 tahun, Mbah Mardijiyono menjawab dengan sederhana.
“Kuncinya itu hati harus selalu senang, selalu gembira. Apa pun yang terjadi dalam hidup, jangan terlalu dipikir berat. Dibawa senang saja, dibawa ikhlas. Itu yang membuat badan tetap sehat dan umur dipanjangkan oleh Allah,” ujar Mbah Mardijiyono.
Perjalanan hajinya tahun ini sejatinya direncanakan bersama sang istri. Namun sebelum keberangkatan, istrinya lebih dahulu wafat. Meski demikian, niat Mbah Mardijiyono untuk memenuhi panggilan Allah tidak berubah.
“Sebenarnya saya ingin berangkat bersama istri. Tapi Allah sudah lebih dulu memanggil beliau. Saya sedih, tapi niat ibadah ini tetap harus saya jalankan. Saya yakin istri saya ikut mendoakan dari sana,” tuturnya dengan mata berkaca-kaca.
Bukti Kekuatan Niat dan Doa
Meski fisik sudah tampak renta, semangat terpancar jelas dari wajah Mbah Mardijiyono saat turun dari bus menuju hotel tempatnya menginap di Madinah. Penantian panjang selama bertahun-tahun kini berbuah manis. "Senang sekali," ungkapnya singkat dengan raut wajah penuh syukur saat tiba di Tanah Suci.
Bagi Mbah Mardijiyono, keterbatasan fisik di usia satu abad lebih bukanlah penghalang untuk menyempurnakan rukun Islam kelima. Harapannya sangat sederhana namun mendalam: ia ingin bisa beribadah dengan khusyuk di Masjid Nabawi dan Masjidil Haram.
Pelayanan Petugas: Ladang Pahala
Pihak berwenang dan petugas haji memberikan perhatian khusus kepada Mbah Mardijiyono. Petugas dengan sigap membantu menggendong dan mendampingi beliau demi memastikan kondisi kesehatannya tetap terjaga selama menjalani rangkaian ibadah.
Salah satu perwakilan petugas menyampaikan bahwa merawat jemaah lansia seperti Mardijiyono adalah sebuah kehormatan. "Ini amanah dari Allah untuk merawat beliau. Menghantarkan beliau meraih haji mabrur adalah jalan bagi kita semua untuk mendapatkan rida Allah," ujarnya.
Pelajaran bagi Generasi Muda
Kisah Mbah Mardijiyono menjadi simbol kuatnya azam (tekad) seorang hamba. Hal ini menjadi pengingat bagi umat Muslim, khususnya generasi muda, bahwa ibadah haji bukan sekadar kemampuan finansial atau fisik, melainkan tentang keteguhan niat dan panggilan hati.
Semoga keberangkatan Mbah Mardijiyono menjadi inspirasi bagi kita semua untuk terus memperkuat niat menuju Baitullah, karena bagi Allah, tidak ada yang mustahil jika hamba-Nya bersungguh-sungguh dalam doa dan usaha. [PurWD/voa-islam.com]