View Full Version
Senin, 21 Sep 2026

Dr. Akmal Sjafril: Perang Pemikiran dimulai dari Perang Kata

BANDUNG (voa-islam.com) - Pertarungan tidak selalu berlangsung secara fisik di medan perang. Ia dapat berupa kata-kata, gagasan, dan cara manusia memandang kehidupan. Perang itu disebut ghazwul fikri. Dalam pertemuan Sekolah Pemikiran Islam (SPI) Bandung yang berlangsung di Masjid Istiqamah, Bandung, pada Kamis (17/09/2026) tersebut, Dr. Akmal Sjafril S.T., M.Pd.I., menjelaskan bahwa ghazwul fikri merupakan perang pemikiran yang berlangsung secara terencana dan sistematis. Menurutnya, pemikiran disebarkan melalui kata-kata yang kemudian membentuk konsep dan cara pandang manusia. 

“Ketika sebuah konsep diterima secara terus-menerus, ia dapat membentuk cara pandang, yakni cara seseorang memahami realitas, menentukan nilai, hingga mengambil sikap dalam kehidupan,” jelas Akmal. “Dalam penyebarannya, sebuah gagasan masuk melalui berbagai ruang yang dekat dengan kehidupan manusia, diantaranya media massa, pendidikan dan hiburan. Ketiga ruang tersebut memiliki pengaruh besar karena mampu menjangkau banyak orang serta membentuk persepsi masyarakat terhadap suatu persoalan.

Penulis buku Islam Liberal:Ideologi Delusional itu memaparkan bahwa informasi yang diterima masyarakat lewat media massa tidak hanya membawa fakta, tetapi juga dapat mengandung sudut pandang tertentu. Framing berita dan pemilihan istilah dalam surat kabar yang terus digunakan dalam ruang publik dapat perlahan membentuk cara pandang masyarakat memahami suatu persoalan. Oleh karena itu, kemampuan membaca secara kritis menjadi penting agar seseorang tidak sekadar menerima informasi, tetapi juga memahami nilai dan konsep yang berada di baliknya.

Kepala SPI Pusat itu juga menjelaskan bahwa selain media massa, pendidikan menjadi salah satu ruang yang memiliki pengaruh besar dalam membentuk cara pandang. Menurutnya, proses pendidikan tidak hanya berkaitan dengan menerima ilmu, tetapi juga membutuhkan kemampuan berpikir kritis agar seseorang mampu memahami konsep secara menyeluruh. Ia mencontohkan bahwa terdapat sejumlah karya tulis hingga disertasi yang lahir dari pemahaman konsep yang kurang tepat, sehingga menghasilkan kesimpulan yang keliru.

Ruang hiburan juga memiliki pengaruh dalam membentuk persepsi manusia terhadap kehidupan. Podcast, talkshow, sosial media, film, musik dan berbagai produk budaya tidak hanya memberikan hiburan tetapi seringkali membawa nilai dan pesan tertentu yang dapat mempengaruhi cara pandang seseorang melihat dirinya, hubungan sosial maupun tujuan hidup.

Namun, menghadapi arus berbagai gagasan bukan berarti seorang muslim cukup menolak semua hal dari luar. Dalam pertemuan tersebut, murid Sekolah Pemikiran Islam diajak memahami bahwa bekal utama menghadapi perang pemikiran adalah ilmu. Akal yang diberikan Allah kepada manusia perlu dimaksimalkan agar seseorang mampu memahami, menganalisa dan menyikapi berbagai gagasan dengan bijak.

“Dalam menghadapi ghazwul fikri, kita perlu memiliki keberanian untuk ‘berperang’ atau melakukan perlawanan. Selama ini kita melihat perjuangan sebagai proses bersabar, belajar, dan menyusun strategi dengan matang, dan itu memang penting,” ungkap Fadhilla salah satu murid SPI Bandung yang mengikuti pertemuan tersebut.

Fadhilla yang kini berprofesi sebagai psikolog itu juga menambahkan, “Namun ada satu hal yang terlewatkan, yaitu kesiapan untuk menghadapi dan melakukan konfrontasi ketika diperlukan. Karena itu kita harus mengasah keberanian, memperkuat ilmu, sekaligus membangun kepercayaan diri agar lebih siap menghadapi berbagai tantangan pemikiran,” pungkasnya. (Miftahul Hidayah/Ab)


latestnews

View Full Version