View Full Version
Senin, 11 Jun 2012

Shabiha Mesin Pembunuh Bashar al-Assad Paling Biadab

Rezim Syiah Alawiyyin yang dipimpin Presiden Bashar al-Assad, memiliki mesin pembunuh yang paling biadab, yang bernama : Shabiha.

Milisi Shabiha bekerja bergandengan tangan dengan militer Suriah, yang melakukan pembantaian secara sadis dan biadab terhadap rakyat Suriah, yang ingin menggulingkan Bashar al-Assad, yang sudah berlangsung selama lima  belas bulan. Shabiha ini menjadi alat menciptakan “fear” (ketakutan) yang luas di masyarakat Suriah. Dengan cara-cara pembunuhan yang paling sadis.

Shabiha yang sangat dikenal sebagai kekuatan milisi, yang dipilih dari pasukan elite Suriah, dan menggunakan senjata yang paling canggih, bertindak dengan darah dingin, membunuhi para  aktivis dan keluarganya.

Shabiha melukan operasi “pembersihan” terhadap kantong-kantong pejuang Suriah, dan didukung pasukan elite Suriah, yang menjadi kepercayaan Bashar al-Assad. Sasaran yang menjadi target milisi Shabiha itu, mula-mula kota atau dearah yang menjadi sasaran dan target itu, dihujani dengan senjata berat, sesudah itu, milisi Shabiha  menangkapi  penduduk, menyiksa, memperkosa mayatnya di buang jalan-jalan.

"Rezim Bashar al-Assad menggunakan cara-cara kotor dalam melakukakn operasi militer, yang tidak mengenal perikemanusiaan. Pemantaian dengan cara yang sangat kejam, selalu dipertontonkan kepada rakyat.

Seperti pembantaian di kota Houla. Di mana lebih 100 orang tewas, dan banyak diantara mereka yang mati dalam kondisi  yang mengerikan, seperti tubuh mereka di sayat-sayat, dan dipotong-potong, dan mayat mereka dibuang didepan rumah para penentang rezim Bashar al-Assad”, ujar Jeff White, pengamat pertahanan dari Institute Washington untuk Kebijakan Timur Dekat.

Perang Sipil

Sesudah terjadinya pembantaian massal di Houla dan Qubeir dan kota-kota lainnya, dan sekarang jumlah korban yang tewas sudah mencapai lebih 20.000 orang, yang sebagai besar korban  yang menjadi lawan dari rezim Alawiyyin, dan ini akan membuka perang antara kekuatan Sunni dan rezim Alawiyyin. Nampaknya , polarisasi ini tidak dapat dihindari lagi, di mana seluruh dunia Islam mengutuk tindakan Bashar al-Assad, yang sangat kejam dan biadab.

Kekukatan kelompok  pejuang Sunni, yang berada diberbagai negara sekarang ini, bergegas pergi ke Suriah, dan mereka bergabung dengan para pejuang Suriah (FSA), dan melakukan koordinasi menghadapi rezim Bashar al-Assad. Mereka tidak dapat mengharapkan lagi PBB, dan negara-negara Barat, karena pembantaaian yang terus berlangsung, tanpa ada tindakan yang efektif, menghentikan kekejamann itu.

Munculnya Milisi Shabiha

Shabiha muncul pada 1970-an sebagai “Gangster Alawiyyin” yang anggota berasal  dari daerah pesisir yang masih memiliki  hubungan kekrabatan dan keluarga al-Assad. Mereka terlibat dalam narkoba dan penyelundupan senjata dari Lebanon. Di mana mereka perlahan-lahan menguasai jaringan ekonomi Suriah, seluruh jaringan bisnis, yang menjadi nafas kehidupan di Suriah.

Tapi, kemudian mereka terus berubah, bukan hanya mendominasi ekonomi, tetapi sekarang mereka mengontrol aparat keamanan di Suriah, di mana salah seorang  saudara Bashar al-Assad, Rifat mengontrol di bidang intelijen, dan kemudian menciptakan aparat ekstra, yang digunakan melakukan penculikan dan pembunuhan terhadap kelompok-kelompok  dan tokoh-tokoh Sunni, yang menjadi kekuatan oposisi Bahsar al-Assad.

Nama Shabiha diduga diambil dari kata bahasa Arab yang berarti : "hantu." Shabiha benar-benar menjadi “hantu” kehidupan rakyat Suriah. Rakyat Suriah setiap hari menghadapi hantu yang benar-benar menakutkan dan sangat kejam, tanpa  ada tandingannya.

Kekuatannya tidak nyaris tidak nampak, karena selalu melakukan dengan berbagai “cover”, yang sifatnya sangat tertutup, dan model gerakan “hit and run”, menyerang, menghancurkan, dan menghilang. Tidak banyak yang tahu siapa yang menjdi pemimpin milisi Shabiha. Tetapi, Shabiha lebih ditakuti oleh rakyat Suriah dibandingkan dengan pasukan rezim Bashar al-Assad.

Seorang penulis Suriah, Yassin Shalih al-Haj, mengatakan bahwa milisi Shabiha itu,  beroperasi, "di luar hukum dan penuh dengan rahasia”, ucapnya. Yassin menambahkan, mungkin nama “shabah” itu,diambil dari seorang  tokoh teroris Yahudi.

Ketika, muncul pemberontakan rakyat tahun lalu, tiba-tiba rakyat Suriah, dikejutkan dengan munculnya, nama kelompok milisi Shabiha, yang sebelumnya tidak  pernah terdengar. Namun, belakangan diketahui oleh rakyat Suriah, Shabiha menjadi alat dan bagian yang tidak terpisahkan dengan mesin pembunuh rezim Bashar al-Assad.

Shabiha dikenal rakyat Suriah, mula-mula sebagai “gangster” yang penuh dengan kekerasan, dan tangannya  selalu berlumuran darah. Sekarang menjadi mesin pembunuh rezim Bashar al-Assad, yang setiap hari membunuhi ratusan rakyat Suriah,  tanpa sedikitpun belas kasihan.

Michael Weiss, seorang ahli Suriah di Henry Jackson Institute yang berbasis di Inggris, mengatakan  mula-mula Shabiha itu, sebagai “gangster”, yagng menyelundupkan narkoba dan senjata dari Lebanon ke Suriah, kata Weis. Tetapi, kekuatan milisi Shabiha sekarang ini digunakan oleh rezim Alwiyyin, sebagai tukang jagal, yang setiap harinya tugasnya menjagal, mereka yang dianggap ancaman terhadap al-Assad.

Milisi Shabiha memakai celana komprang  dan t-shirt, dan sering  terlihat dibarak-barak militer Suriah.  Mereka berkeliling kota Damaskus, dan kota-kota lainnya, dengan  menggunakan pick up putih, sambil mengacungkan senjata mereka,ujar  Weiss. Mereka  benar-benar hantu, yang sangat menyeramkan bagi kehidupan rakyat Suriah.

Anggota milisi Shabiha itu, banyak mencukur kepala dan membiarkanb janggotnya, dan menggunakna pakaian hitam-hitam. Para millisi Shabiha yang masih berjenggot dan menggunakan celana  komprang,  memang sangat membingungkan. Weiss mengatakan, karena mereka "ingin terlihat seperti Salafi". Ini sebuah penyamaran atau kamuflase yang mereka lakukan,  sehingga rakyat  akan berpikir, mereka adalah kaum Sunni fundamentalis.

Shabiha membeli senjata "pasar gelap", menurut  versi pasukan keamanan Suriah.  Weiss mengatakan, Shabiha menjadi agen mata-mata untuk rezim Bashar al-Assad. Assad tidak hanya menggunakan badan intelijen resmi, tetapi lebih banyak mengandalkan informasi dari Shabiha.

Mereka mengumpulkan senjata  lebih banyak dari pasar gelap, khususnya untuk  menghadapi para pejuang. Lebih lanjaut,  Weiss mengatakan Shabiha menjarah harta benda, mempemerkosa, dan membunuh sebanyak yang mereka bisa lakukan.

"Houla adalah hasil yang dicapai milisi Shabiha”, ujar Weis. Pembantaian yang  paling mengerikan sepanjang sejarah kehidupan, dan itu hanya pernah terjadi di Suriah.

Rezim menggunakan Shabiha untuk  melakukan "kejahatan yang sangat tidak masuk akal," kata Weiss. Tetapi, Shabiha menjadi alat rezim Bashara al-Assad, melakukan penipuan (kamuflase), di mana setiap operasi militer, yang sangat eksessif (berlebihan), selalu mengatakan bukan tanggung jawab militer Suriah. Jadi ada pasukan selain militer, yang kejahatan diluar pasukan resmi Suriah, yaitu milisi Shabiha.

Pembantaian Terasa Menakutkan

Para pengamat mengatakan Shabiha juga beroperasi di bagian lain negara, seperti Deir Ezzor di timur. Weiss mengatakan ada laporan dari kekuatan yang pro dan perpanjanggan tangan pemerintah, seperti militan Kurdi, Syiah Lebanon ( Hesbullah), pasukan al-Madhi (Irak), dan pasukan Garda Republik (Iran).

Wilayah Alawiyyin meliputi sepanjang pantai Suriah, yang berpusat di  Latakia. Joshua Landis, Direktur Pusat Studi Timur Tengah dan Profesor Studi Timur Tengah di University of Oklahoma, mengatakan kota-kota  pusat Sunni, seperti Homs, Hama dan provinsi Idlib di barat, yang sebagian besar rakyatnya sangat “miskin”,  dan hidup di pedesaan, kota-kota itulah yang menjadi pusat lahirnya "pusat revolusi." Tetapi, bukan semata masalah kemiskinan yang menjadi akar konflik Sunni-Syiah Alawiyyin, tetapi kekejaman rezim Bashar al-Assad itu, tak pernah berhenti, sepanjang sejarah kekuasaannya.

Sejak zammannya Hafez al-Assad, rezim Alawiyyin itu menganut faham Baath (sosialis/komunis), karena Suriah menjadi sekutu Soviet,dan sampai hari ini dilindungi oleh Rusia, yang menjadi pendukung utamanya. Rusia,Cina, dan negara-negara Asia Tengah, yang dulunya menjadi satelit Soviet, bersama dalam  pertemuan di Shanghai, Cina,  belum lama ini menegaskan menolak intervensi asing, menghadapi Suriah.

Al-Assad bukan hanya sesat secara agama (Syiah -Alawiyyin), tetapi negara Suriah, sudah menjadi alat Soviet, Rusia, dan Cina, yang ingin menghancurkan  dunia Islam, lewat tangan dinasti Bashar al-Assad. (af)

 


 


latestnews

View Full Version