View Full Version
Selasa, 17 Feb 2015

Seruan Netanyahu Kepada Yahudi Eropa dan Skenario Akhir Zaman

JERUSALEM (voa-islam.com) - Dalam beberapa tahun  terakhir ini, semakin dahsyat gerakan 'anti Semit' (anti Yahudi) yang menggelegak di seluruh daratan Eropa. Masyarakat Uni Eropa semakin benci terhadap puak Yahudi. Mereka eksklusif, kaya, dan menjadi parasit bagi Eropa.

Kelompok-kelompok pengusaha Yahudi di berbagai bidang semakin luas di Uni Eropa. Mereka bergerak dibidang finansial, industri, media, dan sejumlah usaha lainnya, dan menempatkan rakyat Eropa, hanya sebagai 'budak'. Mereka menguasai sistem ekonomi Eropa, termasuk sektor perbankan. Semua itu membuat muak rakyat Eropa.

Ditambah tindakan Zionis-Israel di tanah Palestina yang sangat kasat mata. Penyerbuan militer ke Gaza dan Tepi Barat yang meluluh-lantakkan Palestina itu, membuat kebencian semakin memuncak di Eropa.

Berbagai perusahaan di Eropa melarang dan menolak produk-produk Israel. Tapi, kebencian terhadap Yahudi ini, sudah tak tertahankan lagi, termasuk di Belgia, di mana tempat paling besar puak Yahudi, sesudah Prancis.

Di hampir semua negara Eropa sekarang ini, sudah tidak ada lagi tempat yang aman bagi puak Yahudi. Terakhir serangan yang dilakukan oleh Ahamedy Choluobaly terhadap swalayan milik Yahudi yang menewaskan empat orang Yahudi.

Melihat kondisi yang ada di Eropa itu, maka Perdana Menteri Israel, Benyamin Netanyahu menyerukan agar para Yahudi Eropa berimigrasi ke Israel. Sementara itu, para pemimpin Eropa menyayangkan seruan Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, bagi kaum Yahudi untuk bermigrasi massal ke Israel. 

Netanyahu mengeluarkan seruan itu menyusul penembakan di Kopenhagen akhir pekan lalu. "Gelombang serangan teror diperkirakan akan terus berlanjut, termasuk serangan antisemitisme dan pembunuhan. Kami katakan kepada orang-orang Yahudi, untuk saudara-saudara kita, Israel adalah rumah Anda dan setiap orang Yahudi. Israel sedang menunggu Anda dengan tangan terbuka," katanya.

Menanggapi hal ini, Perdana Menteri Perancis, Manuel Valls - yang berbicara setelah beberapa ratus batu nisan Yahudi dirusak di sebuah pemakaman di timur Prancis - mengatakan bahwa ia menyesalkan seruan itu. Ia mencatat bahwa perdana menteri Israel itu "Kini berada di tengah-tengah kampanye pemilihan umum." 

Presiden Prancis, François Hollande, berkeras pada hari Senin, ia tidak akan membiarkan orang-orang percaya bahwa orang-orang Yahudi tidak lagi memiliki tempat di Eropa. "Orang-orang Yahudi memiliki tempat mereka di Eropa dan, khususnya, di Prancis," katanya.

Kanselir Jerman, Angela Merkel, mengatakan pemerintahnya akan melakukan segala cara untuk memastikan tempat ibadah  Yahudi aman. "Kami senang dan bersyukur bahwa ada kehidupan Yahudi di Jerman lagi," kata Merkel di Berlin. "Dan kami ingin terus hidup dengan baik bersama-sama dengan orang-orang Yahudi yang berada di Jerman pada hari ini."

Pimpinan Rabbi Denmark, Jair Melchior, mengatakan ia kecewa dengan pernyataan Netanyahu. "Teror bukan alasan untuk pindah ke Israel," katanya.

Sebaliknya, kata dia, orang-orang dari Denmark pindah ke Israel karena mereka mencintai Israel, karena Zionisme tetapi bukan karena terorisme. "Jika cara kita berurusan dengan teror adalah dengan berpindah ke tempat lain, kita semua harus lari ke pulau terpencil," katanya.

Mantan Presiden Israel, Shimon Peres, juga mengkritik seruan agar Yahudi Eropa pindah ke Israel dengan menyebutnya bermotif politis. "Jangan datang ke Israel karena posisi politik, tetapi karena Anda ingin datang dan tinggal di Israel. Israel harus tetap menjadi tanah harapan dan bukan tanah ketakutan," katanya.

Namun, ini seperti di dalam 'Nubuwat' bahwa tidak akan datang hari Kiamat, sampai orang-orang Yahudi dikalahkan oleh orang-orang Mukmin. Sekarang secara alamiah orang-orang Yahudi akan berkumpul di tanah Palestina yang sekarang menjadi negara Israel. Mereka dikumpulkan dan berkumpul, kemudian dibinasakan. (afghan/dbs/voa-islam.com)


latestnews

View Full Version