View Full Version
Rabu, 19 May 2010

Ramlah binti Abu Sufyan

Inilah sosok wanita yang patut dijadikan teladan bagi muslimah zaman sekarang. Bagaimana tidak? Orang-orang terdekat dan yang dicintainya merupakan musuh baginya. Mereka berusaha memurtadkan dan memalingkannya dari kebenaran. Dialah salah seorang Ummul Mu’minin yang banyak diuji keimanannya.

Sosok tersebut adalah Ramlah binti Abu Sufyan, putri seorang pemuka Quraisy dan pemimpin orang-orang musyrik hingga penaklukan Mekah. Akan tetapi,Ramlah binti Abu Sufyan tetap beriman sekalipun ayahnya memaksa dirinya untuk kafir ketika itu. Abu Sufyan tak kuasa memaksakan kehendaknya, justru anaknya menunjukkan pendirian yang kuat dan kemantapan tekad. Beliau rela menanggung beban yang melelahkan dan benan berat karena memperjuangkan akidahnya.

Pada mulanya beliau menikah dengan Ubaidullah bin Jahsy, seorang muslim seperti beliau. Tatkala kekejaman orang-orang kafir terhadap kaum muslimin, Ramlah hijrah menuju Habsyah bersama suaminya. Disanalah beliau melahirkan seorang anak perempuan yang diberi nama Habibah. Dengan nama anaknya inilah beliau dijuluki(Ummu Habibah)

Ummu Habibah senantiasa bersabar dalam memikul beban lantaran memperjuangkan diennya dalam keterasingan dan hanya seorang diri, jauh dari keluarga dan kampung halaman, bahkan terjadi musibah yang tidak ia sangka sebelumnya. Beliau bercerita, “Aku melihat didalam mimpi suamiku dengan bentuk yang sangat buruk dan menakutkan. Aku pun terperanjat dan bangun, kemudian aku memohon perlindungan Allah swt dari hal itu. Ternyata tatkala pagi datang, suamiku telah memeluk agama nashrani. Kuceritakan mimpiku kepadanya, namun dia tak menggubrisnya.”                                                                                                                               

Suaminya mencoba dengan segala kemampuan untuk memurtadkannya, namun Ummu Habibah tetap tak bergeming. Bahkan beliau justru mengajak suaminya kembali ke Islam, walaupun ditolak mentah-mentah dan malah suaminya semakin asyik dengan khamr. Hal itu berlangsung hingga dia meninggal.

Dinikahkan Dipengungsian

Hari-hari berlalu di bumi hijrah, dengan ujian-ujian berat menemani Ummu Habibah. Tetapi dengan keimanan yang dikaruniakan Allah swt, dirinya mampu menghadapinya. Suatu malam, ia melihat dalam mimpinya ada yang memanggilnya, “Wahai Ummul Mu’minin!” beliaupun terperanjat bangun. Beliau menakwilkan mimpi tersebut bahwa Rasulullah saw kelak akan menikahinya.

Setelah selesai masa ‘iddahnya, tiba-tiba ada seorang budak wanita (jariyah) dari Najasyi yang memberitahukan kepada beliau bahwa Rasulullah saw telah meminangnya. Alangkah bahagianya beliau mendengar kabar gembira tersebut. Setelah itu, beliau meminta Khalid bin Sa’id bin Al-‘Ash untuk menjadi wakil baginya menerima lamaran raja Najasyi (yang mewakili Rasulullah saw)

Suatu sore, Raja Najasyi mengumpulkan kaum muslimin yang berada di Habyah, dalam rangka melangsungkan pernikahan tersebut. Datanglah mereka dengan dipimpin oleh Ja’far bin Abi Thalib putra paman Nabi. Selanjutnya akad nikah pun dilangsungkan. Raja Najasyi menyerahkan mahar Rasulullah saw sebesar 400 dinar kepada Khalid bin Sa’id. Raja Najasyi lalu mengajak para sahabat untuk mengadakan walimah.

Bertemu Sang Suami

Setelah kemenangan Khaibar, sampailah rombongan Muhajirin dari Habsyah, Rasulullah bersabda, “Dengan sebab apa aku harus bergembira, karena kemenangan Khaibar atau karena datangnya Ja’far?” sedangkan Ummu Habibah datang bersama rombongan. Bertemulah Rasulullah dengannya pada tahun ke enam atau ke tujuh hijriah. Kala itu Ummu Habibah berusia 40 tahun.

Ummu Habibah menempatkan urusan agama pada tempat yang pertama. Beliau utamakan akidahnya daripada keluarga. Beliau menyatakan bahwa loyalitas beliau adalah untuk Allah dan Rasul-Nya bukan untuk seorang pun selain keduanya.

Bukti Keimanan

Salah satu bukti sikap beliau adalah terhadap ayahnya Abu Sufyan tatkala suatu ketika Abu Sufyan menemuinya dirumahnya dan saat itu beliau telah menjadi istri Rasulullah saw di Madinah.

Abu Sufyan datang untuk meminta bantuan kepadanya agar menjadi perantara dirinya dengan Rasulullah untuk memperbaharui perjanjian Hudaibiyah yang telah dikhianati sendiri oleh kaum musyrik. Abu Sufyan ingin duduk diatas tikar Nabi, namun tiba-tiba dilipat oleh Ummu Habibah. Abu Sufyan pun bertanya dengan penuh keheranan, “Wahai putriku, aku tidak athu mengapa engkau melarangku duduk diatasnya?” ia menjawab dengan penuh keberanian dan ketenangan tanpa rasa takut terhadap kekuasaan dan kemarahan ayahnya, “Ini adalah tikar Rasulullah saw, sedangkan anda adalah orang musyrik yang najis, aku tidak ingin anda duduk di tikar Rasulullah.” Abu Sufyan berkata, “Demi Allah, engkau akan menemui hal buruk sepeninggalku nanti.”

Namun Ummu Habibah menjawab dengan penuh wibawa dan percaya diri, “Semoga Allah memberikan hidayah kepadaku dan juga kepada anda wahai ayah, pemimpin Quiraisy apa yang menghalangi anda masuk Islam? Sedangkan anda menyembah batu yang tak dapat melihat maupun mendengar?!” Abu Sufyan lantas pergi dengan marah dan membawa kegagalan.

Setelah Rasulullah saw wafat, Ummu Habibah tinggal dirumahnya. Beliau tidak keluar kecuali untuk shalat, dan beliau tidak meninggalkan Madinah kecuali untuk haji. Hingga sampailah ajal beliau tatkala berumut tujuh puluhan tahun. Beliau wafat setelah memberikan keteladanan yang paling tinggi dalam menjaga kewibawaan diennya dan bersemangat diatasnya, tinggi dan mulia jauh dddari pengaruh jahiliyyah dan tidak menghiraukan nasab manakala bertentangan dengan akidahnya, seeemoga Allah meridhainya.

Dikutip dari :Buku Wanita-Wanita Teladan Dimasa Rasulullah


latestnews

View Full Version