View Full Version
Kamis, 26 Aug 2010

Bagi Duit dong!!

Hati-hati, Kebiasaan "malak" pada si kecil bisa membuatnya berkembang jadi "pemeras" di kemudian hari. Ia harus segera diarahkan!

Bila kita amati, ada anak usia ini yang suka "malak" alias minta uang pada kerabat yang bertandang ke rumahnya. Bahkan, ada yang berani "malak" pada teman dekat ayah atau ibunya. Bikin malu orang tua, kan! Apalagi tak jarang, sesudah diberi uang, si kecil malah protes minta lebih, "Ya, masak cuma gopek ? Gopek  lagi, dong, Tante!"

Perilaku "malak" pada anak usia prasekolah, menurut Rahmitha P. Soendjojo , bisa merupakan hasil peniruan dari lingkungan sekitar. "Anak melihat orang tuanya punya kebiasaan seperti itu. Misalnya, kala tak punya uang, ibunya selalu meminta uang pada neneknya." Bisa juga karena ia melihat para sepupunya atau tante/oomnya kalau datang ke rumah selalu minta uang pada ibu/ayahnya atau ibu/ayahnya selalu memberi uang bila keponakan-keponakan datang. "Sehingga ia melihat, yang diomongin di lingkungannya itu duit melulu. Jadilah, ia belajar, oh, untuk mendapatkan duit itu caranya seperti itu. Menirulah ia," jelas psikolog dari Data Informasi Anak, Yayasan Kesejahteraan Anak Indonesia, Jakarta ini.

Apalagi kala ia melakukan untuk pertama kalinya, orang di sekelilingnya tertawa dan menganggapnya lucu. Sehingga ia melihat, ternyata aku mendapatkan uang dan enggak ada orang lain yang komplain. Maka, kala ada kesempatan, ia pun mencobanya lagi dan ia juga tetap mendapatkan uang lagi. Akhirnya ia belajar, meminta itu boleh dan aku bisa minta kepada siapa saja.

DIAJARKAN ORANG TUA

Namun yang umumnya terjadi, anak "malak" karena kurang pengajaran dari orang tua. "Anak tak diajarkan apa saja yang boleh ia minta pada orang lain dan mana yang seharusnya dimintakan pada orang tuanya," tutur Mitha, panggilan akrabnya. Seorang anak seharusnya meminta kepada orang yang bertanggung jawab pada dirinya, yaitu orang tuanya. "Nah, itu yang kadang lupa diajarkan orang tua pada anak."

Walaupun tentunya anak juga perlu tahu, apakah segala sesuatu itu harus diminta, apakah tak bisa mengusahakan sendiri. Misalnya, "Aku kepingin  tabunganku diisi, tapi bagaimana caranya, ya? Aku, kan, diberi uang saku, berarti aku harus bisa ngirit agar sisanya bisa kutabung." Nah, proses-proses demikian, menurut Mitha, seharusnya ditanamkan pada anak oleh orang tua. Ada kalanya anak "malak" karena ingin mencari perhatian. Pun kalau orang tua marah melihat perilakunya itu, "malah ia akan sengaja melakukannya." Karena ia berpikir, "Biasanya kalau aku minta duit sama orang lain, Mama suka ngomel-ngomel ." Jadi, yang dicari adalah omelan ibunya; karena dengan mengomel, berarti ibunya memperhatikan.

JADI PEMERAS

Namun tak tertutup kemungkinan juga, tanpa sadar orang tua sendirilah yang mengajari anaknya berbuat demikian. Ada, kan, orang tua yang bilang pada anaknya, misalnya, "Tuh, Nenek datang, minta duit sama Nenek untuk ditabung." Padahal, dengan berkata seperti itu, orang tua secara tak sengaja telah mengajari anak untuk mempunyai kebiasaan "malak".

Orang tua, tutur Rahmitha, harus memahami bahwa perilaku "malak" akan berakibat panjang. "Anak akan berpikir, ternyata untuk mendapatkan uang ada cara yang lebih mudah, yaitu dengan minta. Siapa yang diminta, terserah. Dengan demikian, anak tak belajar bagaimana cara mendapatkan uang, bahwa mendapatkan uang itu harus dengan bekerja keras." Anak juga akan berpikir, kalau ketemu kakek-nenek pasti akan mendapat uang. Akibatnya, ia hanya mau bertemu atau berkunjung ke kakek-neneknya kalau ada uangnya saja.

"Itu, kan, suatu asosiasi yang tak benar," tukas Mitha. Lebih jauh lagi, jika perilaku "malak" menjadi suatu kebiasaan, maka anak akan tak mengenal etika. "Dengan seenaknya ia meminta uang pada orang lain." Dampak yang lebih dalam lagi, ia akan punya persepsi bahwa meminta adalah cara paling mudah untuk mendapatkan uang. "Jadi, anak tak dipupuk untuk bagaimana berusaha mendapatkan uang, bahwa uang itu tak bisa didapat tanpa adanya usaha."

Yang lebih parah, karena ia sudah merasa keenakan dengan perilakunya itu, lama-lama ia bisa bertindak kriminal. Misalnya, memeras teman-temannya yang lebih kecil di sekolah. Oleh karena itu, saran Mitha, pada orang tua yang mendukung anaknya "malak", kita wajib mengingatkan bahwa anak bukan sumber mencari uang. Mungkin caranya bisa dengan bergurau. Misalnya, "Gila, kamu! Masak, sih, kamu ngajarin  anak kamu minta-minta begitu."

AJAK DIALOG

Nah, bila kita tak pernah mengajari si kecil "malak" namun ia melakukannya, tak perlu panik. Yang perlu kita lakukan adalah menggali informasi pada si kecil, "Kenapa minta uang? Uangnya berapa, sih, yang kamu mau?" Misalnya, ia minta uang Rp. 10 ribu, tanyakan lagi, "Sebenarnya uang Rp. 10 ribu itu untuk apa, sih? Kalau kamu dapat uang Rp. 10 ribu akan kamu belikan apa?" Dengan adanya dialog, menurut Mitha, anak akan sadar, "Iya, ya, benar enggak, sih, aku perlu uang?" Sebab, terangnya, anak usia prasekolah sebenarnya belum tahu makna uang.

"Walaupun ia tahu, kalau mau beli sesuatu, entah itu permen atau eks krim, harus pakai uang. Tapi, kan, anak seusia itu belum butuh duit. Kalau ia butuh sesuatu, ia tinggal minta pada orang tuanya. Orang tuanyalah yang nantinya akan menyediakan bendanya." Anak pun harus diberi tahu bahwa ia tak boleh minta uang atau sesuatu pada tamu yang datang, sekalipun si tamu adalah kerabat kita sendiri. Katakan kepadanya, "Kalau Kakak mau minta uang, minta sama Ayah atau Bunda, ya." Bila ia bertanya, kenapa, katakan saja, "Kakak minta uang itu untuk apa? Minta sesuatu itu, kan, kalau kita memang butuh. Masak kalau tidak ingin sesuatu, bilang minta? Kalau memang enggak butuh, ya, enggak perlu minta-minta duit."

Tentunya akan lebih efektif bila kita tak hanya sekadar melarang, tapi juga memberikan alternatifnya. "Misalnya, ia minta uang untuk jajan. Nah, suatu saat kita belanja bulanan atau mingguan, sediakan stok makanan kesukaan anak. Juga sehari-harinya sediakan kue-kue di rumah, sehingga anak tak perlu lagi mencari makanan kecil dengan cara jajan," tutur Mitha. Kalau ia bilang minta uang untuk ditabung, maka terangkan bagaimana cara menabung yang benar.

Misalnya, "Menabung itu dilakukan kalau kita bisa menyisihkan uang. Jadi, kalau kamu dikasih Rp. 1000 untuk jajan, tapi kamu hanya membelikan Rp. 500, maka sisanya yang Rp. 500 kamu masukkan ke tabungan. Bukan malah kamu sengaja minta uang untuk ditabung, tapi harus diusahakan sedikit demi sedikit hingga penuh; itu yang namanya menabung. Minta uangnya juga bukan ke tamu, tapi ke Bunda atau Ayah."

INGATKAN PARA TAMU

Untuk mendapatkan hasil yang lebih efektif, Mitha menyarankan agar semua orang yang terkait di lingkungan rumah juga diberi tahu. Misalnya, sang tante suka memberi uang jika diminta, nah, beri tahu si tante agar lain kali jangan suka memberi uang pada anak kita. "Boleh saja ia memberi kalau ada event  tertentu. Misalnya, di hari Lebaran, ulang tahun, naik kelas, dan sebagainya."

Terangkan pula bahwa kita sedang mendidik anak untuk tak meminta-minta pada orang lain, sekalipun pada kerabat. Bila si kecil sudah terlanjur meminta uang pada tantenya, tegaskan kembali aturan kita, "Lain kali kamu enggak boleh minta uang sama Tante yang datang, ya. Kalau Tante tadi, kan, lama enggak ketemu kamu sehingga ingin ngasih kamu. Nah, sekarang kamu simpan uang itu. Tapi kamu ingat, kan, kalau kamu tak boleh minta uang pada Tante atau siapapun juga, kecuali pada Ayah dan Bunda?"

Selain itu, sang tante pun sebaiknya diberi tahu untuk ikut mengarahkan jika ia dimintai uang oleh anak, jangan langsung memberi. Misalnya, anak minta uang untuk ditabung; katakanlah, "Tante enggak kasih sekarang, ya. Tante akan kasih kamu uang nanti kalau kamu ulang tahun. Sebentar lagi kamu, kan, mau ulang tahun." Dengan demikian, si kecil pun akan mengerti bahwa hanya pada event-event tertentu saja ia akan mendapat uang atau hadiah. Juga ia belajar bagaimana menunda kebutuhannya.

Tapi, bagaimana dengan kakek-nenek? Karena biasanya kakek-nenek, kan, susah direm; enggak tega kalau tak memberi kepada cucu saking sayangnya sama cucu. Menurut Mitha, berdayakanlah si kecil. Ajarkan juga makna memberi, tak hanya meminta. Misalnya, "Yuk, kita ke rumah Kakek-Nenek. Kita belikan apa, ya, sebagai oleh-oleh buat Kakek dan Nenek. Kamu punya uang enggak? Yuk, kita belikan sesuatu. Kamu punya uang berapa, nanti Mama tambahi." Jadi, anak diajarkan bahwa kalau ke rumah kakek-nenek itu tak hanya bisa meminta uang, tapi juga memberi pada mereka.

TAK BISA HILANG SEKETIKA

Tentunya kita tak bisa langsung mengharapkan kebiasaan "malak" akan hilang dalam seketika dari diri anak. "Karena kemampuan anak untuk menyerap kata-kata, kan, masih terbatas. Sehingga ketika kita menjelaskan pada seorang anak, dibutuhkan waktu yang agak lama atau berulangkali," terang Mitha. Jadi, jangan "terbit" rasa keki dulu, Bu-Pak, "Kamu, kok, enggak ngerti-ngerti , sih, kan, sudah Mama bilangin bahwa itu enggak boleh dilakukan." Percayalah, bila kita konsisten dalam menerapkan aturan, maka si kecil pun akan melihat.

Namun selain konsisten, kita juga harus konsekuen. Jadi, bila si kecil sudah diberi tahu beberapa kali namun ia masih juga pada perilaku "malak"nya, maka ia harus menerima konsekuensinya. Misalnya, tak boleh menonton film kartun kesayangannya selama beberapa hari atau jam menontonnya dipotong, dan sebagainya. Sebaliknya, jika ia bisa menghentikannya, "tunjukkan penghargaan buatnya," ujar Mitha.

Bila ia menunjukkan perbuatan yang baik, tak lagi meminta-minta, akhir bulan kita berikan uang tambahan untuk tabungannya. Katakan kepadanya, "Mama senang sekali karena waktu Tante datang tadi, Kakak enggak minta uang sama Tante. Nanti akhir bulan ini, Mama akan kasih tambahan uang untuk tabungan Kakak."

Suatu saat uang itu bisa digunakan anak untuk dibelikan hal-hal yang ia butuhkan seperti kertas gambar, buku cerita, boneka, dan sebagainya. "Jadi, ada suatu proses ketika ia mengumpulkan uang dan ketika ia membeli sesuatu. Hal inilah yang perlu diajarkan kepada anak." Selain itu, dengan kita mengungkapkan penghargaan terhadap perilaku positif anak, umumnya anak akan sibuk mencari hal positif apa lagi yang akan dilakukannya. Sebab, terang Mitha, pada dasarnya anak senang menyenangkan orang tuanya. "Tapi kalau ia lebih banyak diomeli dan dilihat kesalahannya, ia akan bingung; ia tak akan menemukan mana yang benar, salah lagi-salah lagi." Jadi, kuncinya terletak di tangan Ibu dan Bapak, lo!  (rps/tn)


latestnews

View Full Version