View Full Version
Selasa, 14 Dec 2010

Mencari Sosok Super Mama yang Sebenarnya

Acara Super Mama beberapa waktu yang lalu di stasiun TV swasta cukup menyita perhatian banyak orang. Kelanjutan Mama Mia ini diyakini menjadi tontonan favorit karena melibatkan ibu dan anak yang notabene artis berwajah cantik dan ganteng. Kebolehan menyanyi diadu di atas pentas. Sang ibu diminta berpromo tentang anaknya di depan seratus juri votelock agar tidak tereliminasi.

Banyolan di sana-sini oleh sang host membuat tontonan ini semakin digemari. Dengan hanya sekitar lima pasang kontestan, acara Super Mama membutuhkan waktu sekitar lima jam yaitu mulai pukul 6 hingga 11 malam. Wow! Dengan alokasi waktu sebanyak itu, betulkah acara Super Mama mampu menghadirkan sosok mama yang super duper? Ataukah Super Mama ini sekedar lip service dunia infotainment yang jelas-jelas merupakan kepanjangan kapitalis? Yuk, kita kupas lebih dalam yuk!

Sihir Super Mama

Kemampuan menyihir bukan hanya nenek sihir ataupun milik Hari Potter yang emang bercerita tentang pernik-pernik dunia kepenyihiran. Kemampuan menyihir juga dimiliki oleh media bernama televisi dengan berbagai ragam acara unggulannya. Super Mama hanyalah salah satunya yang dianggap mampu meraup rating tinggi sehingga memancing pemasang iklan untuk berdatangan. Dan banyaknya iklan itu bermakna banyaknya duit yang akan berhamburan untuk acara tersebut.

Super Mama adalah ide brilian untuk menyedot iklan setelah pemirsa dibuat bosan dengan acara pencarian idola semacam AFI (Akademi Fantasi Indosiar) dan Indonesian Idol. Kenapa saya katakan brilian? Karena melibatkan sosok seorang mama atau ibu adalah hal yang sangat alami dibandingkan dengan program apa pun juga. Mama adalah sosok istimewa di hati manusia, siapa pun dia adanya. Sosok ini mampu menggugah sisi lembut manusia secara universal.

Kakak saya cowok bisa berkaca-kaca matanya setiap menyaksikan acara Mama Mia yang merupakan pendahulu ide Super Mama. Kenapa? Ia terharu melihat sosok ibu yang bernyanyi dengan harmonis dengan putrinya. Lalu dosen saya sering menyebut sistem penjurian dalam acara Mama Mia dan Super Mama sebagai contoh dalam salah satu mata kuliah. Bisa ditebak, beliau ini pastilah fans berat acara tersebut. Karena kalau tidak, bagaimana bisa beliau menyebutkan setiap perkembangan acara Super Mama dengan detil?

Dua contoh di atas hanya sedikit bukti tentang keberadaan sihir Super Mama. Sihir yang tanpa sadar mampu menyihir pemirsa untuk duduk manis selama kurang lebih lima jam! Bandingkan waktu sebanyak itu dengan berapa lama kamu belajar, mengaji, menghafal rumus fisika, dan hapalan surat dalam Al Qur’an. Walah, pastinya sihir Super Mama jauh lebih top. Belum lagi acaranya yang tersela oleh azan Magrib, apa iya sih para juri votelock, kontestan super mama dan para host sempat untuk menunaikan shalat? Kayaknya enggak banget deh.

Mama yang Tereksploitasi

Ketika melihat acara Super Mama, saya langsung merasa iba dengan sosok mulia ini. Bagaimana tidak bila di sana, sosok yang seharusnya dihormati dan dijunjung tinggi malah dijadikan bahan olok-olok. Mama yang latah menjadi semakin gencar digoda agar keluar latahnya. Mama yang periang terus digoda agar semakin terlihat lucu di panggung. Mama yang pendiam pun juga mnedapat krtitikan karena sikap pasifnya. Duh, mama.

....sosok yang seharusnya dihormati malah dijadikan bahan olok-olok. Mama yang latah menjadi semakin gencar digoda agar keluar latahnya dan semakin terlihat lucu di panggung....

Penampilan mama juga dikritik oleh komentator mode dalam hal ini diwakili oleh Ivan Gunawan. Yang alis mata kurang begini, yang bau kurang begitu, yang kerudung harus begini begitu dll. Penampilan mama yang semula anggun dan sederhana harus tereksploitasi demi kepuasan mata dunia entertainment.

Belum lagi bila sang mama harus mengiba-iba di hadapan seratus juri votelock supaya anaknya dipilih sehingga bisa tampil lagi keesokan hari. Sungguh tak pantas seorang mama mengemis sedemikian rupa hanya demi segepok rupiah. Sosok mama yang mulia meluncur bebas ke area yang serba bebas dan tak ada lagi penghargaan atas jasa-jasanya.

UUD (Ujung-Ujungnya Duit) adalah tujuan dari program serupa meskipun dikemas dalam bentuk apa pun juga. Sangat khas Kapitalis yang memuja-muja harta dan popularitas meski semu adanya. Tidak berhenti mengeksploitasi para remaja belia dengan kontes-kontes idol dan Miss apa pun namanya, sosok ibu akhirnya terkena jerat eksploitasi ini. Tampil duet dengan sang anak, bisa anak laki-laki atau pun perempuan, klop sudah acara eksploitasi antara ibu dan anak demi meningkatnya rating.

Mama tereksploitasi atas nama kekompakan dengan sang anak. Biar Mama tampil berkerudung yang penting anak masih tetap bisa gaya. Sosok mama sesungguhnyalah hanya sebagai pajangan untuk mendongkrak popularitas sang anak yang masih muda dan segar. Jangan berharap mama akan menjadi bintang dalam acara ini meskipun judulnya Super Mama. Bahkan bila ada sosok mama yang menonjol lebih daripada anaknya, maka sang komentator pasti akan menyarankan mama untuk mundur dan memberi kesempatan anaknya untuk maju. Intinya, tetap yang muda, segar dan cantik yang jadi idola. Mama kembali terpuruk meski terpoles sesaat sekedar hiasan si anak tampil. Mama oh mama, nasibmu kini.

....Super Mama adalah milik semua mama yang mempunyai anak unggul dan bisa dibanggakan....

Mama yang berprestasi

Super Mama adalah milik semua mama yang mempunyai anak unggul dan bisa dibanggakan. Siapakah anak unggul dan bisa dibanggakan ini? Kalo kamu bertanya pada mama yang di kepalanya hanya duit dan duit saja, maka jawabnya pastilah tidak sama dengan mama yang di benaknya menginginkan sang anak menjadi pejuang dan pembela Islam. Jauh beda banget.

Lagu Super Mama masih memakai lirik terdahulu dari tayangan Mama Mia. “aku dan mama, maju ke depan, menggapai dunia.” Pertanyaannya, benarkah dengan acara itu, mama dan anak mampu maju ke depan untuk menggapai dunia?

Lirik lagu Super Mama, jujur saja, mampu menggetarkan hati saya. Karena tak jarang banyak sosok mama yang rela ‘menjual’ anaknya ke dunia entertainment dengan alasan mengembangkan potensi dan bakat si anak. Bukannya sibuk belajar dan mengasah akhlak agar mulia, si anak yang masih sangat belia menjadi akrab dengan blitz kamera, berakting semu di depan sutradara, bahkan keluar masuk acara pesta hura-hura dan pergaulan bebas. Persis banget dengan isi nyanyian untuk menggapai dunia. Namun benarkah dunia bisa digapai hanya dengan acara seperti itu? Lalu, bagaimanakah dengan akhirat? Masih perlukah dunia ‘hereafter’ ini untuk digapai juga?

Bayangan yang muncul dalam benak saya tentang menggapai dunia adalah sosok Super Mama yang bukan sekedar tereksploitasi di TV demi menarik pemasang iklan. Mereka ini benar-benar menghasilkan anak-anak yang mampu menggapai dunia dalam makna sebenarnya. Bayangan sosok Mama yang muncul adalah mereka sosok-sosok yang mampu melahirkan dan mendidik anak-anak hebat pengguncang dunia selevel penakluk Konstantinopel; Muhammad Al-Fatih. Mama yang berkualitas super sehingga menghasilkan anak-anak sehebat Ibnu Taimiyah, Imam Bukhari, Imam Muslim, Umar Bin Abdul Aziz, dll. Dunia benar-benar di tangan mereka, namun akhirat juga tak dilupakan.

....Super Mama yang sesungguhnya adalah mereka sosok-sosok yang mampu melahirkan, mendidik dan menghasilkan anak-anak sehebat Ibnu Taimiyah, Imam Bukhari, Imam Muslim, Umar Bin Abdul Aziz, dll. Dunia benar-benar di tangan mereka, namun akhirat juga tak dilupakan....

Salah satu mama super itu bernama Khonsa’. Ia berputra empat orang dan semuanya ia serahkan untuk Allah dan syahid di jalan-Nya. Bukannya sedih, Khonsa’ bahkan bersyukur karena ia telah mampu mempersembahkan putra-putra terbaiknya untuk kemenangan Islam. Dan ia juga yakin, dirinya dan anak-anaknya pastilah kelak akan bertemu di surgaNya. Lalu ada juga sosok mama bernama Asma binti Abu Bakar yang mempunnyai anak hebat karena syahid melawan kemungkaran; Abdullah bin Zubair RA. Subhanallah.

The Real Super Mama

Yang dibutuhkan seorang anak hingga mampu mencapai kesuksesan dunia akhirat adalah the real super mama, bukan super mama palsu, imitasi atau bahkan jadi-jadian. The real super mama adalah mama yang mampu menjadi pendidik anak-anaknya dalam arti sebenarnya Bukan Cuma sekedar kompak di atas panggung, the real super mama adalah sosok mama yang kompak dengan anak-anaknya dalam semua aspek kehidupan. Seorang mama hebat yang mampu menghantarkan sang anak menjadi sosok yang hebat. Bagaimanakah sosok riil super mama yang hebat ini?

Super Mama adalah ibu yang harus mempunyai kepribadian Islam. Pola pikir dan pola sikapnya hanya Islam saja sebagai standard dalam menjalani kehidupan termasuk dalam hal mendidik anak-anaknya. Bukan seperti yang tersaji pada episode Super Mama palsu di TV ketika mama berkerudung tapi si anak malah mengumbar aurat dengan bebas.

Super Mama adalah ibu yang menyadari bahwa mendidik anak dengan baik dan benar sesuai tuntunan Islam adalah satu-satunya pilihan yang harus diambil. Mama akan mendidik anaknya dengan baik bukan hanya sejak dalam kandungan, melainkan sejak dalam pemilihan jodoh siapa yang bakal menjadi ayah yang baik bagi anak-anaknya kelak. Mama yang baik tidak asal comot laki-laki tanpa peduli kualitas agamanya. Mama seperti inilah yang nantinya akan melahirkan generasi hebat karena sejak menanam ‘benih’ beliau ini sungguh berhati-hati.

Super Mama akan dengan sabar memantau perkembangan anak-anaknya sesuai dengan tuntunan Qur’an. Bukan dengan lagu Beethoven yang katanya bisa mencerdaskan otak bayi, tapi mama yang baik yakin bahwa hanya bacaan Al Qur’an dan majelis-majelis ilmu yang mampu mendidik otak bayi agar berkembang maksimal. Bayi pun tumbuh menjadi anak yang shalih dan shalihah karena berada di tangan seorang mama hebat seperti ini.

....Super Mama menanamkan kecintaan pada Allah dan Rasul-Nya sejak dini. Mama yang baik akan menyertai perkembangan putra putrinya dengan kemampuan sendiri yang dilandasi keimanan....

Super Mama menanamkan kecintaan pada Allah dan Rasul-Nya sejak dini. Mama yang baik akan menyertai perkembangan putra putrinya dengan kemampuan sendiri yang dilandasi keimanan. Bukan menyerahkan ke pembantu atau pun ke rumah penitipan anak. Sosok mama seperti ini ingin memastikan pendidikan anaknya benar-benar sesuai dengan kepribadian Islam. Anak-anak pun tumbuh menjadi pembela dan pejuang Islam sejati. Meskipun banyak lomba Idol di TV, didikan mama super tak akan tergiur demi popularitas semu semata. Jadilah anak-anak ini tumbuh menjadi remaja berkualitas yang mengukir prestasi dengan otak dan akhlak, bukan dengan otot dan gemulai lenggak-lenggok di panggung maksiat.

Super Mama memang ada. Tapi sosok ini tak mungkin kita dapati di panggung hiburan yang sifatnya semu dan sementara. Kita butuh sosok panutan super mama yang benar-benar super, bukan polesan kosmetik dan produk kilat dunia entertainment. Kita rindu super mama selevel Khadijah, Aisyah, Khonsa’, Asiyah, Asma’, dan wanita-wanita lain yang memang super. Wanita-wanita ibunda para syuhada yang memang mempersembahkan anak-anaknya untuk perjuangan dan kejayaan Islam. Ibunda para ulama, para mujtahid, para mujaddid, dan para pengemban dakwah yang ikhlas inilah yang pantas disebut super mama sejati.

Sungguh, sangat rindu hati ini akan hadirnya the real super mama yang mempersembahkan putra-putrinya untuk perjuangan kembalinya syariat dalam naungan Khilafah. Siapakah dia adanya? Semoga kita nanti adalah salah satunya, insya Allah.  [riafariana/voa-islam.com]


latestnews

View Full Version