View Full Version
Rabu, 15 Dec 2010

Mencintai Kehilangan

Kehilangan adalah sebuah kenikmatan
kenikmatan bagi hati yang menikmati dan mengikhlaskan.
Kehilangan bukanlah momen mencari kambing hitam atas suatu kesalahan, tapi saat yang sangat berharga untuk memperkuat pikiran baik kepada Allah.

Begitulah memang adanya..
kenikmatan hati dan ruh yang terlingkupi dalam energi iman.
sama sekali tak ada waktu tersisa untuk sebuah prasangka, selain senyum untuk Allah sang maha kuasa dan yang maha perkasa, bila semua titipan telah kembali diambilnya.

Tersebutlah seorang wanita bernama Umu Sulaim. Suatu hari, anaknya sakit panas. Tepat pada saat itu, suaminya Abu Tholhah tengah pergi mencari nafkah.

Menjelang malam, anak kesayangannya itupun meninggal.

Umu Sulaim meminta kepada kerabatnya, untuk tidak memberitahukan kepada Abu Thalhah, tentang kematian anaknya. “Biar aku saja yang memberi tahu,” katanya. Ketika Abu Thalhah pulang, dia pun bertanya tentang kondisi anaknya. Umu sulain menjawab dengan senyum “ Dia sudah lebih tenang,” .

Selanjutnya, sebagai istri yang baik, maka dia pun melayani suaminya. Dan setelah semua selesai, bertanyalah Umu Sulaim. “Suamiku sayang. Bagaimana pendapatmu, jika ada orang menitipkan barang ke kita, ketika sudah tiba waktunya dia meminta barangnya untuk dikembalikan?”
“Tentu harus di kembalikan,” kata suaminya.
“Tidak boleh marah?” desak istrinya.
“Ya,” jawab suaminya tegas.
“Anak kita sudah diambil pemiliknya….”

Abu Tholhah tampak sangat marah karena tidak diberi tahu sejak awal. Abu Thahlah mengadukan masalah ini kepada Nabi Muhammad Sollalahu Allaihi Wassalam.

Yang telah dilakukan oleh Umu sulaim atas prasangkanya baiknya pada Allah telah terbukti. Keikhlasannya pun terjawab. Nabi Muhammad Sollalahu Allaihi Wassalam membenarkan tindakan istri Tholah. Beliaupun lantas mendoakan agar apa yang telah dilakukan suami istri di malam itu menjadi berkah, dan akan menghasilkan seorang anak sebagai pengobat hati keduanya. Sembilan bulan berikutnya, anak mereka lahir, dan diberi nama Abdullah.

Sungguh...Kehilangan adalah sebuah kenikmatan
kenikmatan bagi hati yang menikmati dan mengikhlaskan.
Kehilangan bukanlah momen mencari kambing hitam atas suatu kesalahan, tapi saat yang sangat berharga untuk memperkuat pikiran baik pada Allah.

Dan kehilangan pun pernah menimpa Nabi Ayyub A.S.. Beliau kehilangan kekayaan,dan orang orang yang disayanginya.Tidak hanya sampai disana, Beliau pun menderita penyakit yang menggorogoti seluruh tubuhnya. Sampai-sampai ia berdo’a, “Ya Allah, penyakit ini boleh jadi menggerogoti seluruh tubuhku. Tapi ya Rabb, jangan sampai penyakit ini juga menggeroti hati dan lisanku, sehingga aku masih mampu berzikir kepada-Mu.”

Subhanallah...

Begitulah ketabahan Nabi Ayyub. Beliau ikhlas atas kehilangan kesehatan dan penyakit yang dititipkan yang bahkan semua orang jijik melihatnya.

Dan buah kesabaran dan keikhlasan selalu akan membahagiakan. Pada akhirnya Allah mengembalikan kembali semua kehilangan yang dialami Ayyub.

Maka bersabarlah ketika ujian cinta kepada Allah atas nama kehilangan itu datang. Bahwa semakin besar cinta, semakin berat pulalah ujian cinta itu. Dan, setelah ujian itu berakhir, maka akan terbukti sudah iman dan cinta kita. Ketika semua telah dikembalikan atau digantikan dengan yang lebih baik,insyaallah semua akan terasa lebih nikmat

Sungguh, Kehilangan adalah sebuah kenikmatan
kenikmatan bagi hati yang menikmati dan mengikhlaskan.
Kehilangan bukanlah momen mencari kambing hitam atas suatu kesalahan, tapi saat yang sangat berharga untuk memperkuat pikiran baik pada Allah.

Seiring dengan kehilangan yang diwakilkan oleh kata ‘musibah’, maka dengan prasangka baik pada Allah, sebuah kata itu berganti manis dengan sebutan ‘rahmat’.

Atau, Ketika Teguran Allah yang unik untuk mengingatkan hambanya atas kesalahan atau maksiat, dengan sebuah kehilangan, maka teriring dengan prasangka baik pada Allah..kesemua itu akan berubah dengan sangat menyejukkan, menjadi ‘ampunan’.

kehilangan adalah sebuah proses mendapatkan
dan begitu pula sebaliknya, mendapatkan adalah bagian dari kehilangan.
proses ini mengajarkan kita agar tidak tamak pada realitas
dan menyadari hakikat diri sebagai manusia yang memiliki titik nadir pada suatu masanya.

Kehilangan adalah sebuah proses yang harus dilalui dalam perguliran kehidupan. Memang, sesungguhnya apapun yang ada dalam kehidupan kita di dunia ini, tiada yang abadi

Kehilangan adalah sebuah kenikmatan
kenikmatan bagi hati yang menikmati dan mengikhlaskan.
Kehilangan bukanlah momen mencari kambing hitam atas suatu kesalahan, tapi saat yang sangat berharga untuk memperkuat pikiran baik pada Allah.

Innalillahi wa innailaihi rojiun

(syahidah)


latestnews

View Full Version