View Full Version
Sabtu, 18 Jun 2011

Tetap Bersyukur Dalam Kurangnya Kita

Seseorang menangis kepada sahabatnya dan mengeluhkan kehidupannya yang tiada berujung pada sebuah kesukaan.Dia juga tak henti- hentinya mengkomplain dan memaki diri sendiri dan keadaan yang sedang menimpanya. Pikirnya, semua adalah terjadi karena kekurangannya  yang di"karunia"kan Allah. Rasanya hidup benar- benar membosankan. Namun, jalan takdir kematian belumlah sampai padanya. Sang Sahabat lalu berkata,

Allah yang menganugrahkan kelebihan, Allah pula yang menganugrahkan kekurangan pada kita, tapi percayalah Allah bukan sedang mendholimi kita. Bersyukurlah ketika kita masih bisa menjadi manusia yang penuh dengan kelemahan, karena disana berarti kita masih merasa membutuhkan Allah sang maha kuasa, dengan kata lain, kita tidak menjadikan diri kita sombong dalam banyaknya kekurangan kita seperti halnya iblis. Keluhan yang timbul itu adalah bahasa lain dari sebuah pengharapan ,jika disikapi secara sempurna. Tapi keluhan bisa menjadi dongkrak penggali lubang kesengsaraan kita sendiiri kalau terus dibiarkan menjadi bagian dari kualitas diri.

Bayangkan ketika kita harus menjadi sempurna. Kesempurnaan di dunia tidak melahirkan apa-apa kecuali hanya kesendirian. Kesempurnaan tidak membutuhkan siapa- siapa karena semua sudah jelas- jelas terpenuhi dan memenuhi. Kesempurnaan didunia tidak memunculkan apa- apa kecuali kebosanan. Siapa manusia didunia ini yang tidak bosan dengan sesuatu yang monoton? Kesempurnaan didunia tidak menumbuhkan kerjasama. Jika tak ada kerjasama, maka tak akan ada hubungan hati sesama manusia. Jika tak ada hubungan hati, maka tak akan ada kasih sayang, saling menghargai.

Kekurangan juga adalah sarana menguji kualitas diri tentang seberapa gentleman atau pengecutkah kita. Betapa banyak orang yang menjadikan kekurangan sebagai alasan pemakluman kesalahan dan kelebihan sebagai kendaraan kecongkakan. Disinilah waktu yang tepat untuk kita mengetahui dan kemudian membenahi.

Kekurangan juga mengajarkan kesabaran bagi para pelakon sebuah proses. Para manusia pengejar kesempurnaan dapat memulai dari yang tidak sempurna terlebih dahulu, kemudian memperbaiki satu bagian demi satu bagian, sehingga yang kita inginkan akan terwujud di depan mata. Benar- benar tidak ada karya besar yang muncul dengan sekali duduk.

Kekurangan menyebabkan manusia kreatif menapaki hidup. Banyak manusia yang bingung dengan hidupnya, wajar memang. Karena jalan hidup yang tahu hanyalah Allah sang maha penguasa. Tidak ada yang tahu ataupun bisa memastikan apa yang bakal terjadi sedetik didepan.Kekurangan manusia dalam hal ketidaktahuan itu yang merangsang mereka untuk bersiap- siap dengan semua kemungkinan yang terjadi. Bayangkan jika ketidaksempurnaan itu absen. Maka proses terhenti dan semua akan terasa datar.

Ketidaksempurnaan menimbulkan pengharapan. Seringkali, ketidak sempurnaan manusia membawanya pada sebuah masalah yang tanpa titik terang untuk keluar. Maka harapan hidup selanjutnya adalah terpanjat dalam sebait doa kepada sang maha sempurna. Disanalah akhirnya sebuah hubungan spiritual terjadi antara sang Raja hidup dan hambanya. Manusia masih bisa hidup beberapa hari tanpa makan minum dan atau kebutuhan lainnya, tapi manusia tidak akan bisa hidup tanpa harapan walaupun hanya sedetik saja. Tidak percaya? Coba tanyakan "masih adakah arti hidup ini indah" kepada seseorang yang sudah bosan hidup?

Kekurangan melahirkan kesyukuran pada sebuah keadaan. Banyak orang yang masih mengeluh setelah diberi tangan dan kaki sepasang dan akal yang sehat. Padahal kesemua itu memungkinkan kita untuk membenahi segala sesuatu yang terjadi dan akan terjadi kepada kita. insyaAllah.

Maka cintailah kekurangan diri sendiri dan makhluk disekitar kita, karena dari sana kita merasa dibutuhkan dan membutuhkan. Kekurangan justru menciptakan kerjasama dan hubungan hati karena adanya perjuangan dari sebuah menyatukan. Kekurangan jika disikapi dengan kelembutan hati akan membuat hidup semakin hidup dan harapan tidak akan tinggal harapan.Maka lebih baiklah kita meminimalisir keluhan atas kekurangan diri sendiri, yang justru akan menambah diri kita semakin kurang.

(Syahidah)


latestnews

View Full Version