View Full Version
Selasa, 23 Sep 2014

Zainab Al-Ghazali: Berjuang Mendirikan Negara Islam

Sore itu, pertengahan Februari 1964, hujan mengguyur Kairo. Sebuah kecelakaan lalu lintas menghantar Zainab Al-Ghazali, pemimpin Jamaah Muslimat, masuk Rumah Sakit Heliopolis. Ia mengalami gegar otak dan retak tulang paha. Operasi pembedahan tulang paha dilakukan di RS Madhar ‘Asyur, Kairo.

Kecelakaan itu ternyata memang disengaja untuk menyingkirkan Zainab, yang dilakukan pemerintahan Presiden Gamal Abdul Nasser – mobil yang dikendarainya ditabrak dari belakang hingga terguling. Pasalnya, organisasi yang dipimpinnya tidak disukai pemerintah. Terbukti, dengan adanya surat keputusan pembubaran Jamaah Muslimat yang sengaja dikirim kepada Zainab ketika masih dirawat di RS. Itu merupakan tindak lanjut larangan terbit majalah wanita Muslimat, yang dipimpin Zainab. “Secara pribadi, Nasser membenci Anda, Hajah! Ia tidak suka mendengar nama Anda disebut,” kata utusan Nasser saat menyampaikan surat itu.

Pemerintah berniat menggabungkan Jamaah Muslimat – yang berdiri sejak 1936, untuk menyebarkan dakwah Islam kembali kepada ajaran kitab Allah dan sunah Rasulullah – dengan Front Persatuan Sosialis. “Demi Allah, hal ini tidak mungkin saya lakukan. Allah akan melumpuhkan tangan saya kalau saya menandatangani pernyataan yang tidak bertanggung jawab ini. Dengan demikian, berarti saya mengakui pemerintahan tiran Nasser, yang telah membunuh Abdul Qadir Audah dan rekan-rekannya. Sungguh, orang yang telah membantai kaum muslimin adalah musuh Allah dan musuh kaum muslimin. Biarlah Nasser membubarkan Jamaah Muslimat, karena buat kami hal tersebut adalah jalan yang paling terhormat!”

Pendapat itu disampaikan Zainab pada rapat kilat Dewan Pimpinan Jamaah Muslimat pada 15 September 1964 guna membicarakan surat Nasser. Akhirnya rapat memutuskan menolak ajakan Nasser dan menolak menyerahkan kekayaan serta harta benda Jamaah tersebut kepada organisasi lain yang tidak sehaluan. “Pemerintah boleh menyita harta benda kami, tapi tidak bisa menyita akidah kami. Risalah kami adalah risalah dakwah dan risalah para dai. Kami berdiri di bawah naungan La ilaha illallah wahdahu la syarika lahu, Muhammadan abduhu wa Rasuluh. Keyakinan ini menunjukkan, tiada Tuhan selain Allah, yang patut kita perjuangkan terus-menerus hingga berdirinya negara dengan umat Islam yang sadar akan agamanya dan berhukum dengan syariatnya serta berjuang demi syiarnya,” kata Zainab.

Setelah ada penguatan dari dewan pengurus, Zainab mendapat bujuk rayu dari utusan Nasser. Bila Jamaah Muslimat dibubarkan, ia dijanjikan mengantungi izin terbit kembali majalah Muslimat dan akan diberi bantuan 300 pound tiap bulan dari pemerintah. Pemerintah juga menjanjikan pengembalian kantor pusat Jamaah Muslimat dan memberikan bantuan 20.000 pound setiap bulan, dengan syarat kantor itu menjadi cabang kantor Front Persatuan Sosialis.

Setelah bujuk rayu tidak mempan, beberapa intel pemerintah menyamar sebagai anggota Ikhwanul Muslimin (IM), bertandang ke rumah Zainab. Mereka menakut-nakuti Zainab dengan cara menceritakan tragedi 1954, saat Nasser membubarkan IM dengan paksa melalui penangkapan, penyiksaan, dan pembunuhan tokoh-tokoh IM. Namun, Zainab bergeming.

Bukan Ikhwan

Zainab memang tidak asing lagi dengan Jamaah IM. Hubungannya dengan Jamaah IM telah berlangsung sejak 1937. Sekitar enam bulan sesudah pembentukan Jamaah Muslimat, terjadi pertemuan antara Zainab dan Hasan Al-Banna, pendiri dan sekaligus pemimpin IM. Peristiwa ini terjadi setelah Zainab memberi ceramah di hadapan anggota Jamaah Muslimat di gedung Iikhwan di Al-Atabah. Saat itu, Al-Banna sedang merencanakan pembentukan Jamaah wanita. Ia menjelaskan pentingnya upaya mempersatukan barisan dan sikap kaum muslimin. Al-Banna menyarankan peleburan Jamaah Muslimat ke dalam Ikhwan bagian kewanitaan.

Saat itu Zainab tidak langsung mengamini. Setelah gagasan Al-Banna dibawa ke muktamar Jamaah Muslimat, ternyata para peserta muktamar menolak gagasan itu. Meski demikian, Zainab tetap berhubungan baik. Sehari setelah pemerintah membubarkan IM, Zainab malah berbaiat di hadapan Al-Banna. “Saksikanlah, saya berbaiat di hadapan Anda untuk berjuang mendirikan negara Islam. Persembahan yang hendak saya sampaikan demi tercapainya cita-cita-cita ini adalah darah saya serta reputasi Jamaah Muslimat,” ungkap Zainab di hadapan Al-Banna.

Setelah pemerintah sosialis Mesir membubarkan IM, Zainab meneruskan perjuangan dan cita-cita Al-Banna. Ia merasa risi mendengar pekikan para yatim yang ditinggal pergi bapak mereka akibat siksaan rezim Nasser, juga cucuran air mata para janda yang ditinggal mati suami. Korban keganasan terus bertambah. Orang kelaparan kian banyak. Beban hidup makin meningkat dan membuat sengsara banyak rakyat. Keruan saja, Zainab serta merta berkeinginan untuk memberikan sesuatu yang bisa mengurangi derita dan sengsara mereka. Lewat organisasi yang dipimpinnya, ia memberikan banyak sumbangan, baik moril maupun materiil.

Karena kegiatan dakwahnya makin meningkat, rumah dan perpustakaan Zainab menjadi sasaran empuk penguasa. Seluruh perbendaharaan buku yang berumur lebih dari seratus tahun dirampas, tanpa sisa.

Nikmatnya Penjara

Zainab ditangkap dan digiring ke penjara. Di tempat pengap inilah ia menyaksikan beberapa tokoh dan anggota IM digantung. Sebagian lagi dilepaskan. Sebagian lainnya masih berdiri dengan muka menghadap dinding menunggu giliran disiksa. Mereka para peserta Majelis Tafsir dan Hadis dalam pertemuan rutin di rumah Zainab. Salah seorang pemuda yang sedang diikat di palang kayu berteriak, “Ibu! Allah akan mempertebal ketabahanmu!”

“Anak-anakku, itulah baiat kita. Hai Bani Yasir, surga menantikan kalian,” sambut Zainab.

Para algojo itu kemudian mengayunkan tangannya dan menempeleng pipi dan telinga Zainab. Saat siksaan itu datang, ia mendengar suara, “Ya Allah, tabahkanlah hati mereka. Ya Allah, lindungilah mereka dari tangan-tangan para durjana! Ya Allah, kalau tidak karena Engkau, kami tidak akan memperoleh hidayah, tidak bersedekah, dan tidak menunaikan salat. Tabahkanlah hati kami dalam menghadapi ujian ini!”

Bunyi pecut terdengar sambut-menyambut, berlomba satu dengan lainnya. Namun, suara keimanan terdengar lebih kuat dan jelas. Sesaat kemudian terdengar suara, seolah-olah datang dari langit, “La ilaha illallah wahdahu la syarika lah.”

Lalu Zainab berteriak lagi, “Sabarlah, anak-anakku. Itulah baiat kita. Sabarlah, karena kalian akan mendapatkan surga!”

Zainab kemudian dimasukkan ke dalam sel nomor 24. Sel itu penuh anjing. Ia memejamkan mata dan menyilangkan kedua tangannya ke dada, karena merasa benar-benar takut.

Sementara itu terdengar pintu sel ditutup dengan rantai dan digembok. Anjing-anjing itu berebutan menerkam tubuh Zainab. Rasanya tidak ada bagian tubuh yang luput dari gigitan anjing. Sementara kedua tangan tetap dibenamkan ke bawah ketiak, Zainab menyibukkan diri dengan membaca Asmaul Husna.

Ia terus berdoa memohon pertolongan-Nya. “Sibukanlah aku, ya Allah, dengan Dikau dari yang lainnya. Ya Allah, yang Maha Esa, tempat orang mengadukan halnya, keluarkanlah aku dari dunia palsu ini. Keluarkanlah aku dari kesibukan palsu ini semua. Sibukanlah aku dengan Dikau, bawalah aku ke sisi-Mu, limpahkanlah aku dengan ketenangan-Mu, kenakanlah kepadaku busana kecintaan-Mu, anugerahkanlah kepadaku syahadat karena Engkau, cinta karena Engkau, dan rida dengan Engkau. Tabahkanlah, ya Allah, aku dan semua kaum muwahidin(umat yang bertauhid kepada Allah – Red.)!”

Zainab membayangkan bajunya yang putih sudah kuyup berlumuran darah. Tapi, alangkah kagetnya ketika mengetahui bajunya tetap utuh dan tubuhnya tidak koyak secuil pun. “Mahasuci Engkau, ya Allah! Ternyata Engkau senantiasa bersamaku. Ya Allah, apakah seorang macam aku ini layak memperoleh anugerah-Mu dan kehormatan sebesar itu? Ya Allah, kepada-Mu semua puja dan puji,” doa Zainab.

Kemudian, para algojo penjara menggiring Zainab menelusuri lorong-lorong panjang yang gelap dan pengap. Ia dijebloskan ke dalam sel nomor tiga. Di dalam sel ini, ia menyaksikan para pemuda IM disiksa dan berdoa meminta pertolongan Allah. “Kapan terakhir kau ke rumah Zainab?” bentak algojo itu sembari melecuti pemuda-pemuda itu di hadapan Zainab.

Kalau menjawab “Tidak ingat”, mereka dipecut lagi, kemudian diperintahkan untuk memaki-maki Zainab. Tapi, mereka tidak mau mengaku. Padahal Zainab berharap, mereka mengakui saja, supaya para algojo tidak meneruskan penyiksaan.

Semua itu mereka lakukan untuk menakut-nakuti Zainab. Tokoh Jamaah Muslimat ini pun kembali berdoa berkali-kali sembari mencucurkan air mata.

Tidak bisa diingat lagi berapa sering siksaan bertubi-tubi terhadap Zainab. Dan setiap kali itu terjadi, doa selalu ia panjatkan. Tiba-tiba Zainab tertidur dan bermimpi berjumpa Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam. Dalam mimpi ia berada di padang pasir yang amat luas. Ia melihat barisan unta sedang berjalan. Pada salah satu punuk unta duduk seorang laki-laki yang wajahnya memancarkan cahaya terang. “Mungkinkah orang ini Nabi MuhammadShallallahu ‘alaihi wasallam?”

Tiba-tiba Zainab merasa seolah-olah laki-laki itu menjawab dan terus menegaskan bahwa dirinya adalah Rasulullah, “Engkau, Zainab, mengikuti jejak Rasulullah, hamba Allah dan rasul-Nya.” Zainab juga sempat dipanggil Rasulullah dalam mimpinya itu dengan panggilan nama kecilnya, “Zainab”.

Saat terbangun dari tidurnya ia merasa seolah-olah memiliki segalanya. Dan yang amat mengagumkan, ia tidak lagi merasakan pilu melihat dan mendengar rintihan para pemuda yang tengah disiksa, yang sengaja dipertontonkan kepadanya.

Tiba-tiba datang seseorang yang mengaku utusan Presiden Nasser. “Perkenankanlah saya dari Kantor Presiden Republik Mesir berusaha  menemukan kata sepakat dengan Ibu Zainab. Semua orang senang pada Ibu. Kami pun juga. Demi Allah, jika kita bersepakat, hari ini juga akan kami keluarkan Ibu dari penjara ini. Bahkan Ibu segera diangkat menjadi menteri sosial.”

“Apakah Hikmat Abu Zaid sebelum jadi menteri sosial juga Tuan pecuti terlebih dahulu dan Tuan masukkan sekamar dengan anjing-anjing?” tanya Zainab sambil menyebut menteri sosial di era Nasser yang tengah jaya itu.

“Sudahlah, yang sudah ya sudahlah. Penempatan Ibu dalam penjara benar-benar mengecewakan kami,” bujuk utusan Presiden Mesir itu.

“Apa yang kalian inginkan dari saya?” kata Zainab.

“Ikhwanul Muslimin telah menimpakan semua kesalahan kepada Ibu. Baik Hasan Al-Hudhaibi, Abdul Fattah Ismail, maupun Sayid Qutb (tokoh-tokoh IM),mengakui segala-galanya. Namun, kami curiga. Mereka tampaknya cuci tangan semata untuk menyelamatkan diri masing-masing dan melempar semua tanggung jawab ke pundak Ibu,” bujuk si utusan Mesir sambil berusaha mengadu domba.

Lagi-lagi, Zainab tidak mengakui akan mendirikan negara Islam dan tidak mau membubarkan serta bergabung dengan Front Persatuan Sosialis. “Sudah saya katakan, saya tidak ingin menjadi menteri, bahkan tidak pernah membayangkan jadi menteri. Tentang Jamaah Muslimat dan majalahnya, saya serahkan kepada Allah, karena itu milik-Nya.”

“Tapi, kenapa Anda berusaha  membangkitkan kembali Ikhwanul Muslimin? Kenapa?” gertak utusan Presiden Mesir itu.

“Paham kita berbeda secara mendasar. Abdel Nasser mengira telah berhasil membubarkan dan merampas harta benda Jamaah Muslimat. Sedang seluruh kaum muslimin berkeyakinan, panji-panji perjuangan mereka ada di tangan Allah. Dan, apa yang mereka yakini itu tidak mungkin bisa dibubarkan oleh manusia,” kata Zainab tandas.

“Ikhwanul Muslimin sama saja dengan Jamaah Muslimat. Ia tidak bisa bubar, dan dakwah Allah berjalan terus di jalan-Nya. Kedaulatan Nasser bisa lenyap, namun kalimat Allah akan tetap abadi. Apabila kematian telah tiba kelak, kita akan dihadapkan ke muka pengadilan Allah. Pada saat itulah orang-orang zalim akan sadar ke tempat mana mereka akan kembali. Agama Allah akan selalu tetap tegak, dan pada setiap waktu akan tampil generasi yang tegak pula mempertahankan kebenaran, membela agama Allah dan di jalan Allah.”

Maka, kembalilah pukulan dan siksaan dialami Zainab. Tapi, ia tidak menoleh kepada mereka. Ia menyibukkan diri dengan memperbanyak menyebut nama Allah. Bujuk rayu dan siksaan terus berganti, karena Zainab tidak mengakui akan mendirikan negara Islam dan membubarkan Jamaah Muslimat.

Setelah siksaan bermacam-macam tidak mempan, Zainab dihadapkan kepada Nasser. Ia melihat, Nasser menyandarkan badannya pada Abdel Hakim Amer, tangan kanan Nasser, sambil mengenakan kacamata hitam.

Nasser memberikan segelas air jeruk kepada Zainab. Zainab merasa ada sesuatu yang penting yang bakal terjadi.

Tiba-tiba, seorang bernama Syamsu Badran – seorang intel yang sangat kejam, kepercayaan Nasser – berucap dengan pongahnya, “Hai, Zainab, aku harap kau menjawab pertanyaanku dengan jujur. Seandainya Ikhwanul Muslimin berhasil duduk dalam pemerintahan, lalu kami ini dihadapkan pada kalian, tindakan apakah yang akan kalian ambil terhadap kami?”

“Tidak ada niatan kami untuk menduduki kursi pemerintahan. Kami penyandang panji  La ilaha illallah,” ungkap Zainab, lantang.

“Gantung dan siksa dia. Kami inginkan dia tetap hidup untuk diseret ke pengadilan, agar bisa ditonton serta dijadikan pelajaran oleh setiap rakyat negeri ini,” teriak Syamsu kepada para algojo.

Akibat siksaan yang begitu kejam, Zainab berkali-kali tidak sadarkan diri dan dirawat di rumah sakit. Setelah sembuh, ia dijebloskan kembali ke dalam penjara dan disiksa secara kejam agar mengakui segala perbuatannya.

Hari sidang pengadilan tiba. Pemerintah sengaja menyediakan pembela untuk Zainab dari pengacara Kristen, yang tidak sehaluan. Menjelang pengadilan, kembali Zainab mendapat teror. “Yang penting kamu tidak membantah apa pun yang tercantum dalam berita acara. Kalau kamu mengajukan permohonan ampun kepada pengadilan dengan alasan Al-Ikhwan telah mengecoh kamu dan menyatakan pula penyesalanmu atas segala perbuatanmu, pengadilan akan mengurangi hukumanmu…”

 

Pengadilan Sandiwara

Sehari menjelang pengadilannya, Zainab tidur dan bermimpi. Dalam mimpi, ia berdiri menghadap dinding. Tiba-tiba dinding penyekat itu lenyap. Lalu ia berdiri di tengah padang pasir luas, seluas bumi. Dari tempat itu, memancarlah cahaya menyinari segenap penjuru bumi. Ia kembali melihat Rasulullah berdiri di hadapannya yang menghadapkan mukanya ke kiblat.

“Dengarkanlah suara kebenaran itu, Zainab?” ucap Rasulullah.

Dari kejauhan terdengarlah suara lantang yang menembus langit dan bumi, “Kalian akan saksikan pagelaran pengadilan kebatilan yang berpedoman pada hukum amburadul. Kalian, para penyandang amanat dan pelopor kebenaran, akan mereka jatuhi hukuman yang zalim dan sewenang-wenang!”

Setelah suara itu lenyap, Zainab menoleh kepada Rasulullah. Rasul menunjuk ke sebelah kanan Zainab dan bersabda, “Dakilah gunung itu, Zainab. Di puncaknya kau akan jumpai Hasan Al-Hudhaibi. Sampaikanlah kata-kata itu kepadanya!”

Singkat cerita, setelah bermimpi dan berdialog panjang lebar dengan Rasulullah, Zainab kembali tenang dan berhasil menghalau rasa sakit serta duka yang amat pedih itu.

Tanggal 17 Mei 1966, Zainab diangkut ke pengadilan dan dimasukkan ke dalam kurungan besi. Pengadilan sandiwara itu pun digelar. Setelah melalui pengadilan yang alot, ia divonis dengan hukuman seumur hidup dengan kerja paksa, dan semua barang bukti dinyatakan disita untuk negara. “Seumur hidup dengan kerja paksa, demi negara Islam yang berhukum Al-Quran dan As-Sunah, insya Allah,” ungkap Zainab menerima hukuman itu.

Lima hari setelah jatuhnya keputusan pengadilan itu, tiba-tiba datanglah Sayid Qutb, salah seorang pemimpin IM, dai, dan ahli tafsir Al-Quran ternama di Mesir, yang hendak dihukum mati. Ia berharap, Zainab, yang masih dalam terali besi yang sempit itu, bisa menerima kenyataan yang bakal terjadi dengan tabah. Zainab pun gembira menerima motivasi dari Qutb.

Beberapa hari kemudian Zainab mendengar kabar, para pemimpin IM telah dihukum mati. Seiring dengan itu, ia mendengar kabar pula, suami Zainab meninggal dunia.

Setelah cukup lama di penjara militer, Zainab dipindahkan ke penjara Al-Qanathir, sebuah penjara sipil. Meski di penjara ini tanpa ada pecut dan cambuk, ia tetap merasakan siksaan batin yang luar biasa. Ia menyaksikan para perempuan bekas pelacur, pencuri, yang diperlakukan seperti binatang.

Di penjara ini pula, Zainab akhirnya mendengar berita kematian Nasser, berpindah dari mulut ke mulut disertai tangisan dan jeritan. Tapi, ia sendiri tidak menangis dan menjerit atas kematian “pahlawan segala pahlawan” bagi rakyat Mesir itu.

Sehari setelah kematian Nasser, seorang sipir membuka pintu sel Zainab dan memukul kepala Zainab. Esok harinya, pada 9 Agustus 1971, pagi-pagi benar seorang sipir berlari-lari mendatangi sel Zainab dan minta agar Zainab segera menghadap kepala penjara di kantornya. Ternyata, tanpa diduga, ia dikejutkan dengan berita keputusan pembebasan dirinya.

Ia duduk seorang diri di kantor itu, menantikan penyelesaian surat-suratnya. Hatinya seraya disayat-sayat dan air mata terus mengalir dengan derasnya ketika ia  melangkahkan kaki ke luar dari penjara.

Ternyata, mobil yang mengantarkan Zainab dibelokkan ke kantor dinas intelejen. Ia dimasukkan ke dalam sebuah kamar dari pukul 12 siang hingga sembilan malam. Setelah itu, ia diinterogasi.

“Apakah Anda akan kembali mengunjungi orang-orang Al-Ikhwan?” gertak seorang perwira intelejen.

Seorang perwira intelejen kemudian bicara panjang lebar yang intinya meminta Zainab tidak lagi berhubungan dan saling kunjung sesama Al-Ikhwan. “Apa yang kalian bicarakan kepada saya, saya tolak. Tolong saya kembalikan lagi ke penjara Al-Qanathir!” ucap Zainab.

“Baiklah, Hajah, saya ucapkan selamat kepada Anda. Anda bebas berdakwah dan menyusun organisasi bersenjata Al-Ikhwan,” ungkap perwira intelejen itu.

“Organisasi bersenjata adalah skenario yang kalian susun sendiri untuk lakon kalian. Sebenarnya sarana untuk mendirikan negara Islam adalah berdakwah, seperti yang dicontohkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dan sahabatnya. Itulah risalah dan misi semua kaum muslimin, baik Ikhwanul Muslimin maupun bukan,” ujar Zainab.

Wanita yang tegar ini pulang ke rumah pada pukul tiga dini hari, 10 Agustus 1971. Dan bersama kaum muslimin ia kembali berdakwah guna menegakkan amar makruf nahi munkar, sesuai yang diamanatkan Allah dan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. (may/voa-islam.com)


latestnews

View Full Version