View Full Version
Selasa, 25 Aug 2015

Surga yang Dirindukan: karena Ketaatan adalah Pilihan

Bahasan yang tidak populer di kalangan perempuan termasuk muslimah adalah POLIGAMI. Tiba-tiba saja, perempuan bisa menjadi makhluk yang sangat kasar dan penuh angkara murka bila kosakata ini disebut. Berbagai istilah diberikan mulai dari yang halus semisal ‘surga yang tak dirindukan’ (bayangkan, sampai-sampai surga yang seharusnya menjadi mimpi semua manusia menjadi hal yang tidak lagi dirindukan bila dikaitkan dengan poligami!), hingga julukan tak manusia semisal (maaf) ‘perempuan yang kegatelan’, perebut suami orang, jomblo tak laku dan sebagainya.

Status yang berseliweran di beranda Facebook atau media sosial menjadi tak laku bila pro poligami. Tak jarang penulis status mengalami bullying yang sangat menjatuhkan mental. Salah seorang kawan yang sering menjadi narasumber program keislaman di TV sedang mengalaminya. Hanya karena ia menyampaikan apa yang menjadi hukum syara’ berkaitan dengan poligami di salah satu grup diskusi dunia maya, ‘serangan’ balik terhadapnya begitu gencar bahkan lebih dari yang bisa ia tolerir. Ia pun memutuskan menonaktifkan akunnya untuk waktu yang tak terbatas.

Begitu juga yang terjadi pada salah satu seleb Facebook pria yang terkenal statusnya lucu tapi penuh hikmah. Hanya karena ikut ‘share’ status tentang perempuan yang membisiki bahwa poligami dalam Islam boleh, ia dihujat dan dibully habis-habisan oleh banyak perempuan yang sedihnya mereka menyebut dirinya muslimah. Hingga akhirnya ia pun memilih mode ‘hide’ atau menyembunyikan status tersebut agar tidak makin banyak orang yang berkelakuan melebihi batas.

Sebaliknya bagi yang kontra poligami. Ia dan status-statusnya di media sosial akan mendapat sambutan hangat, dielu-elukan bahkan dipuja dan puji bernada sepakat. Lalu, akan berdiri dimanakah tulisan ini bermuara?

...Baik pro dan kontra, suka atau benci, poligami tetaplah menjadi bagian dari syariat Islam. Siapalah kita yang berani mengharamkan sesuatu yang dihalalkan oleh Allah?...

Baik pro dan kontra, suka atau benci, poligami tetaplah menjadi bagian dari syariat Islam. Siapalah kita yang berani mengharamkan sesuatu yang dihalalkan oleh Allah?

“Boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal ia amat baik bagimu dan boleh jadi pula kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu, Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahui” (QS. Al Baqarah: 216).

Tak dimungkiri bahwa praktik poligami banyak yang tak ideal di masyarakat, saat ini. Tapi jangankan poligami, yang monogami pun banyak juga yang tak ideal di tataran nyata. Apakah lantas karena ketidakidealan tersebut lantas syariat pernikahan sebaiknya ditiadakan saja sebagaimana syariat poligami yang disana-sini dihujat?

Dari sini, semoga kita bisa bijak untuk berpikir dan menentukan sikap ketika syariat Allah sedang dicakap. Karena sungguh, ada saatnya nanti ketika ujung jari kita pun akan dimintai pertanggungjawaban atas apa-apa yang diketikkannya. Semoga ketika saat itu tiba, kita bukan termasuk orang-orang yang merugi, insya Allah.

Saya pribadi pun, manusia biasa yang cukup sulit untuk membayangkan memunyai suami yang harus berbagi tidak hanya hati tapi ekonomi, waktu dan sebagainya. Aaarrrggg...rasanya nggak terima! Tapi ketika hati susah menerima, lalu saya berusaha mengingat-ingat salah satu bab di awal hijrah ketika masih berseragam putih abu-abu.

“Dan tidaklah sempurna iman seseorang sampai hawa nafsunya tunduk pada apa yang aku bawa.” Hadits Rasulullah SAW ini sahih. Dulu saya susah menerima wajibnya hukum berhijab (jahiliyah sekali), susah membayangkan pacaran itu aktivitas mendekati zina (bagaimana dapat jodohnya?), susah mengakui riba itu haram, dan susah-susah yang lain karena hawa nafsu lebih dominan.

Dan di titik ini, saya pun masih merasa tidak mudah untuk taat dan patuh pada hukum Allah terutama yang bersinggungan dengan sisi keperempuanan saya yaitu poligami. Meskipun begitu, tak hendak saya mencaci-maki (naudzubillah), menjadikan becandaan ayat-ayat Allah (makin parah ini) atau ikut bersuara yang seolah-olah umat Islam menghina syariat agamanya sendiri.

Bilapun ada sesuatu yang terlihat seolah-olah ‘keburukan’ dari syariat Islam, maka saya memunyai 2 opsi. Pertama adalah aplikasi yang salah dari umat Islam sendiri (hey...lihatlah banyak juga poligami yang para istrinya akrab sebagai sahabat) dan yang kedua adalah ghozwul fikri (perang pemikiran) dari musuh Islam untuk membuat umat Islam benci kepada syariat agamanya sendiri.

...Di luar sana ada muslimah-muslimah yang bisa menerima dengan baik ketika ia memunyai ‘sahabat’ baru dalam biduk rumah tangganya...

Banyak jalan menuju surga, tak harus jalan yang satu itu. Ini alasan yang lazim dikemukakan kaum perempuan terutama muslimah. Silakan, tak ada yang melarang bukan? Tentu saja tak boleh ada larangan pula bila ada yang memilih jalan ini tanpa harus diiringi suara negatif juga kan? Karena ternyata jenis kelamin boleh sama perempuan, tapi kualitas diri untuk menerima aturan Allah tak selalu setara.

Di luar sana ada muslimah-muslimah yang bisa menerima dengan baik ketika ia memunyai ‘sahabat’ baru dalam biduk rumah tangganya. Dan mereka ini cenderung adem-ayem, tak ikut hingar-bingar suara berisik dalam dunia media sosial. Mengutip salah satu seleb Facebook yang ada di list pertemanan, debat di dunia maya itu ibarat naik odong-odong. Berisik tapi tak membawa kita kemana-mana. Di saat yang lain sibuk adu argumen, muslimah-muslimah ini menjadi praktisi menjalin kehangatan persahabatan satu sama lain dalam biduk yang sama.

Akhir kata, sebagai PR bagi diri saya sendiri untuk mengangkat kisah-kisah perempuan yang kehidupannya samara (sakinah mawaddah wa rahmah) dalam berbagi biduk rumah tangga, ini adalah juga sebagai pembelajaran kecil bagi diri pribadi bahwa tak ada surga yang tak dirindukan meskipun ia bernama poligami. Karena laki-laki bernama suami hanyalah fana ketika ada yang abadi di sana untuk diraih yaitu ridha Ilahi. Wallahu alam. (riafariana/voa-islam.com)

Ilustrasi: Google


latestnews

View Full Version