View Full Version
Sabtu, 19 Sep 2015

Perempuan Jangan Tinggalkan Peran Asasi

JAKARTA (voa-islam.com) – Peran publik seorang perempuan tidak boleh membuatnya meninggalkan peran asasinya sebagai ibu bagi anak-anak dan istri bagi suaminya. Sebab, peran publik sesungguhnya adalah perluasan dari peran asasi tersebut.

Demikian ditegaskan Ketua Bidang Perempuan dan Ketahanan Keluarga DPP Partai Keadilan Sejahtera, Dra Wirianingsih, Msi dalam silaturahim dengan Persatuan Istri Anggota Dewan PKS, Kamis (17/9/2015) di Kemang, Jakarta Selatan. Bertindak sebagai tuan rumah, dr Diana Abbas Thalib, istri Hidayat Nur Wahid yang juga Wakil Ketua MPR RI.

Bagi seorang Muslim, seluruh aktivitas dalam kehidupannya semestinya adalah aktivitas dakwah

Wirianingsih menjelaskan, hidup adalah amanah dari Sang Pemberi Hidup. Bagaimana menjalankannya, itu adalah pilihan. Bagi seorang Muslim, seluruh aktivitas dalam kehidupannya semestinya adalah aktivitas dakwah.

“Maka tak boleh memisahkan persoalan mengurus keluarga, mengurus anak dan suami dengan aktivitas dakwah. Sebab, mengurus keluarga itu sendiri adalah aktivitas dakwah. Bukankah ajakan kepada kebaikan itu pertama kali ada di dalam keluarga?” tutur ibu dari 10 anak yang semuanya hafal Alquran ini.

Wirianingsih menambahkan, takdir sebagai istri anggota dewan atau pejabat publik seharusnya membuat seorang perempuan mampu menjalankan peran dakwah lebih luas lagi. Dijelaskan, ada dua peran utama setiap perempuan, yakni peran asasi dan peran perluasan.

“Biasanya sering disebut peran domestik dan peran publik. Saya lebih suka menyebutnya peran asasi dan peran perluasan. Sebab, peran perluasan tidak meninggalkan  peran asasinya,” paparnya.

Dengan peran asasi, seorang perempuan bertanggung penuh di dalam rumah tangga suaminya. Sebagai ibu dari anak-anak, melahirkan dan mendidik generasi yang mencintai Allah. Sebagai istri, menjadi pendamping dan pendorong suami untuk selalu bersikap dan berperilaku yang berada dalam koridor kebaikan. Sementara dalam peran perluasan, setiap perempuan memiliki peluang-peluang untuk melakukan kebaikannya sendiri.

“Seperti ikan dan air, dua peran ini tak terpisahkan. Peran publik tak boleh melupakan peran asasi. Makanya, jalan perempuan untuk ke surga sangat banyak,” tandasnya. [sugih/voa-islam.com]

Editor: syahid


latestnews

View Full Version