View Full Version
Senin, 05 Sep 2016

Generasi Penerus Bangsa dalam Pusaran Prostitusi

Oleh: Khairun Nisa’ D.N.R. (Mahasiswi UNAIR Surabaya)

Satu lagi, pasca rentetan panjang kasus penganiayaan dan pemerkosaan anak dibawah umur. masyarakat kembali digemparkan dengan terbongkarnya kasus prostitusi anak untuk gay. Praktik prostitusi ini terbongkar oleh Badan Reserse kriminal (Bareskrim) Polri Senin 30 Agustus 2016. Menurut Kepala Badan Reserse Kriminal (Bareskrim) Polri Komisaris Jendral Ari Dono Sukmanto, terdapat 99 nama korban yang terlibat, 27 diantaranya adalah anak-anak, dan yang paling muda berusia 13 tahun.

Direktur Tindak Pidana Ekonomi dan khusus Bareskrim Brigjen Agung Setya pada Kamis 1 September 2016 menjelaskan, pada mulanya para korban yang masih tergolong anak-anak tersebut diajak oleh tersangka E membantu berdagang sayur di pasar. Namun lama kelamaan, tersangka E membujuk para korbannya untuk masuk dalam prostitusi. Tentu dengan iming-iming penghasilan yang berlipat lebih banyak. Lagi-lagi, kondisi ekonomi menjadi salah satu alasan terperosoknya generasi bangsa kedalam lembah keterpurukan. Padahal seharusnya mereka memiliki hak untuk dilindungi dan mengenyam pendidikan layak.

Bisa kita bayangkan, bagaimana kondisi fisik dan psikis korban yang masih berusia belia. Sesungguhnya kasus ini dapat dijadikan momentum berbenah. Alasan apa yang menjadikan rentetan kasus yang mengancam generasi penerus bangsa ini tak kunjung usai. Bagaikan fenomena gunung es, dengan celah potensial terjadinya kasus serupa. Tentu kita tidak ingin, jika adik kita, saudara kita ataupun orang-orang terdekat kita menjadi korban dari kerusakan sistemik yang menyasar generasi muda penerus bangsa.

Peran keluarga menjadi salah satu faktor penting. Seorang perempuan memiliki kedudukan yang mulia dalam Islam. Dipundak seorang ibu terdapat amanah istimewa yang harus dijaga, yakni sebagai umm warabatul bayt. Ia bertanggung jawab mencetak generasi bertaqwa. Sebab, lewat perantara orang tualah, nilai-nilai akidah pertama kali ditanamkan. Yang terjadi saat ini, paham feminisme buah dari system kapitaslis-sekularis semakin digalakkan. Perempuan dituntut mengambil peran dalam segala sektor. Alih alih agar dapat meraih keberdayaan. Justru hal tersebut seringkali menjadi pengalihan dari peran sesungguhnya seorang ibu. Yakni memastikan nilai-nilai akidah benar benar tertanam dan mengakar kuat pada buah hati mereka. 

Sesungguhnya, kasus seperti ini akan kembali terulang. Selama system yang berlaku di Indonesia masih tetap sama. Kapitalisme akan melahirkan orang-orang yang memandang kekayaan materi adalah hal utama yang harus dikejar dan dimiliki. Sehingga para orang tua sibuk mengejar pundi pundi pemasukan. Sedangkan penanaman akidah dan kasih sayang terhadap buah hati sering kali disepelekan. Belum lagi bagi mereka yang terlahir dari keluarga berstastus ekonomi rendah, mau tidak mau sejak usia belia mereka harus ikut membanting tulang bekerja membantu orang tua. Halal-haram pun tidak lagi menjadi pertimbangan. Cukup bagi mereka memilih pekerjaan yang sekiranya lebih menguntungkan dan menghasilkan banyak pemasukan.

Sudah saatnya kita menyadari bersama, bahwa Islam hadir sebagai solusi, bukan hanya seputar permasalahan ibadah. Tapi kemuliaannya menjaminkan kesejahteraan dalam segala aspek kehidupan. Tentu hanya dengan penerapan Islam kaffah dalam sebuah institusi Khilafah. Wallahu a’lam bisshawab. [syahid/voa-islam.com]


latestnews

View Full Version