View Full Version
Rabu, 14 Feb 2018

Curahan Hati Emak Zaman Now

Sahabat VOA-Islam...

Ummi, ibu, mamah, emak dan banyak lagi sebutan untuk dirimu, satu kata dengan sejuta makna, ternyata berat untuk menjadi seorang dirimu (red ibu) dari semenjak mengandung, melahirkan, menyusui dan mendidik mu, tidak gampang seperti membalikan telapak tangan, ohh ibu, ketika engkau hamil, keadaan tubuh yang lebih lemah dari keadaan sebelum engkau hamil, daya tahan tubuh mu, yang tak sekuat saat engkau tak mengandung, engkau jalani dari  hari demi hari, dan bulan demi bulan, demi engkau dapat merangkaul buah hati mu yang akan terlahir di dunia ini.

Dan 9 bulan sudah kini ibu engkau mulai harap harap cemas, menantikan sosok mungil (red anak) yang akan mengisi hari hari mu, dengan tangisan tangisan nya, tapi taukah di balik sebelum sosok mungil itu lahir, banyak perasaan tak menentu engkau jalani, seperti sudah sangat cemas ketika belum ada tanda tanda akan melahirkan, pikiran semakin tak menentu sehingga berdampak pada kondisi tubuh sang ibu, padahal kondisi ibu ketika akan memasuki proses kelahiran harus benar benar fit, tetapi tak jarang juga banyak ibu yang stress sehingga berakibat pada kondisi tubuh nya seperti darah yang tiba tiba melejit bak harga kwh listrik sekarang hihihi.

Apalagi ketika jabang bayi tidak membawa mules mules pada ibu nya sehingga harus di induksi dan itu rasa nya woow banget (pengalaman pribadi) mules pun tiba dan ibu hanya bisa terus dan menerus berdo'a dan berdzikir sambil sesekali berteriak kesakitan sakit yg tak akan pernah laki laki rasakan, dan tiba saat nya bayi mungil itu keluar dari rahim ibu, wajah wajah sumringah terlihat ketika bayi di lahirkan dan tak terkecuali ibu, dia merasa lupa dengan rasa sakit yang di rasakan sebelum dia lahir. Itulah sedikit cerita dari proses menjadi seorang ibu.

Tapi tahukah ibu, di zaman sekuler seperti ibu, banyak ibu-ibu yang hilang kendali ketika mengasuh buah hati nya, banyak kasus seperti ada ibu yang tega menyemprotkan obat serangga karena sang anak "ngompol" terus hingga sang anak tewas, ada juga kasus ibu tega memasukan anak nya yang masih bayi ke dalem frizer, banyak juga ibu-ibu yang mengalami himpitan ekonomi sehingga pikiran nya tak karuan sampe menghabisi nyawa anak2 nya.

Sebegituh beratkah beban seorang ibu, padahal Allah telah menjanji kan pahala yang amat besar bagi seorang ibu, dari mulai mengandung melahirkan hingga masa masa menyusui, tidak kah ibu tergiur dengan apa yang telah Allah janjikan. Tetapi memang sulit untuk menjalani menjadi seorang ibu, merawat bayi yang baru lahir dan masih tetep dengan segudang aktivitas lain seperti melayani suami dan mengurus rumah tangga, di tambah lagi memikirkan harga sembako yang semakin naik, gas elpiji yang susah di cari, bayar listik terus terusan naik dari bulan ke bulan, padahal pendapatan suami yang tetap segitu gitu saja, tetapi pengeluaran tiap bulan terus terusan naik, dan itulah sedikit permasalahan yang menjadi daftar panjang ibu mengalami pikiran tak karuan, dan menyebabkan ibu gampang menjadi stress.

Di atas sedikit cerita tentang permasalahan seorang ibu, sekarang kita bahas "anak" di zaman sistem kapitalis sekuler seperti ini yaitu sistem yang memisahkan agama dengan kehidupan, agama hanya di pakai pada saat ibadah saja, seperti sholat, puasa, atau pada saat nikah, cerai dan kamatian, di luar aspek itu agama tidak boleh di bawa bawa apalagi di bawa ke ranah politik, udahh katanya pemerintahan jangan di susupi dengan agama.

Pemerintah kita mengekor saja sama negara adidaya Amerika. Padahal seperti yang kita tahu agama yang paling sempurna agama rahmat bagi seluruh alam adalah islam, yang dapat mengatur kehidupan, dari bangun tidur hingga tidur lagi, dari membangun rumah tangga hingga membangun negara di islam itu ada semua aturan nya. Liat saja salah satu keboborokan dari sistem yang di anut pada saat ini yang katanya mengekor pada negara Maju Amerika, generasi bangsa yang menjadi korban nya, contoh yang paling hangat pada saat akhir tahun kemarin pemerintah akhirnya mengesahkan bahawa prilaku LGBT (lesbi, gay, Biseksual, transgender) tidak dapat di pidana kan.

Yaaa seperti yang kita tahu bahwa ada sejumlah orang yang mengajukan ke mahkamah konstitusi bahawa pelaku LGBT harus di pidanakan, dan pada akhir tahun kemarin ternyata gugatan tersebut di tolak MK, Mk akhir nya memutuskan bahawa pelaku LGBT tak dapat di pidana kan. Sejumlah kalangan yang menggugat terlihat sangat sedih bahkan ada yang sampai meneteskan air mata, bagaimana tidak sedih mungkin kita juga sebagai orang tua merasa ikut prihatin dengan putusan MK itu, pasal nya sekarang semakin berat beban orang tua untuk mendidik anak anak nya menjadi anak anak yang penerus generasi umat, anak anak yang sholeh dan sholehah, anak anak ber akhlaku karimah, anak anak yang tak hanya melek teknologi tapi juga yang melek urusan umat.

Dari kasus LGBT yang paling sering terdengar banyak kasus dan yang paling banyak di espose adalah Gay atau laki laki suka laki laki. Yaaa walaupun kita udah emak emak dengan segudang aktivitas, tapi tetep emak emak juga harus melek informasi apalagi informasi yang lagi viral di sosial media, jadilah emak emak yang smart.

Baik, kita tinggalin masalah emak emak, kita fokus ke Gay, seperti yang kita tahu dan kita tak bisa tutup mata juga, sekarang tiap tahun kaum gay terlaknat selalu meningakat signifikan tiap tahunnya, tidak terkecuali di daerah daerah terpencil atau pelosok.

Karena faktanya kaum Gay itu mencari mangsa untuk memperluas jaringan, mereka memanfaatkan orang orang lembur( orang orang dari kampung) seperti yang saya baca baru baru ini di sosial media.

Ternyata yang mengidap HIV itu putera daerah terbaik, pas baca tulisan nya ternyata itu ada kaitannya dengan kaum terlaknat Gay. Jadi singkat cerita pemuda tersebut berasal dari kampung tetapi mempunyai otak yang cerdas sehingga di umur yang masih belia ia sudah menyelesaikan kuliahnya dengan nilai terbaik, hingga akhirnya dia di terima di salah satu perusahan di perkotaan, usut punya usut akhir akhir ini dia sering sakit sakitan dan ia selalu di rawat di rumah sakit terbaik di ruangan VVIV setiap berobat ataupun di rawat selalu VVIV dan itu semua dibiayi oleh sang bos dengan biaya umum tanpa asuransi apalagi BPJS, dan suatu ketika dia bilang kenapa dok saya mengidap penyakit ini padahal saya cuma punya 1 pasangan yaitu bos saya, dia itu sangat bersih koq.

Ya dokter tidak menjawab apapun, di luar ruangan terlihat orang tua yang sudah tua meneteskan air matanya dan kelihatan sangat sedih ketika akhirnya nyawa sang anak harus berakhir, ya Allah harus berapa puluh orang tua lagi yang merasa sangat sedih kehilangan putra mereka dengan kasus seperti di atas, apalagi sekarang kaum tersebut merasa enak dan leluasa beredar karena meras di lindungi pemerintah. Itu hanya 1 kasus dari banyak kasus yang terjadi akibat kaum terlaknat Gay muncul kembali.

Ibroh dari kasus di atas kita sebagai orang tua harus lebih lagi protec ke anak harus lebih lagi memperhatikan pergaulan anak anak, harus lebih lagi waspada terhadap orang orang yang di sekitar kita, dan kita sebagai orang tua harus terus rangkul anak anak kita, bukan hanya jadi orang tua, kita harus bisa jadi sahabat teman yang enak, supaya anak kita tidak sungkan untuk menceritana semua permasalahan pada dirinya kepada kita, karena bahaya ketika anak lebih memilih orang lain, untuk mencurahkan permaslahan ataun unek unek yang ada pada dirinya, karena kabanyakan orang lain hanya akan menjerumuskan ke hal hal yang tidak baik. Maka 1 tugas lagi bagi orang tua untuk dapat menjadi orang ternyaman bagi anak anak kita.

Memasuki tahun masehi yang baru, saya sebagai emak emak berharap pada pemerintah untuk lebih dapat melindungi kaum ibu dan anak, khusus kaum ibu, stop untuk menaikan harga sembako stop menaikan harga listrik, sedia kan gas elpiji yang banyak supaya beban pikiran kaum ibu agak sedikit berkurang, karena jangan di tanya sebetul nya di dalam pikiran bukan hanya itu yang menjadi pikiran tapi masih banyak pikiran yang lain, belum lagi masalah anak atau samakin berat mendidik anak, di zaman sistem seperti ini, karena bisa di katakan kemanapun anak pergi atau main itu bisa menjadi ancaman bagi anak itu sendiri.

Tetapi kita juga sebagai orang tua tidak bisa mengekang atau mengurung anak terus menerus di dalam rumah, karena nanti nya anak tidak bisa bersosialisai dengan orang lain, kita juga tidak bisa hanya menjadikan anak kita baik atau sholeh/ sholehah, tetapi anak tetangga atau orang lain, tidak terdidik dengan benar, nah disni lah penting nya dakwah amar amar ma'ruf,mungkin emak nya bisa mendakwahi kepada orang tua nya, supaya dapat mendidik anak anak nya lebih baik lagi, ataupun kita sebagai orang tua, jangan acuk tak acuh dalam mendidik anak, kalau ada waktu coba terjun berperan ketika anak anak sedang asyik bermain tidak ada salah nya kan apalagi menjadi sahabat yang menyenangkan ketika anak anak sedang asyik bermain.

Di tahun yang baru ini juga, kami berharap negara bisa lebih melindungi hak untuk anak, hak untuk bermain dengan tenang hak untuk belajar ataupun sekolah dengan aman, berharap anak anak kita bisa aman kemnapun dia pergi tanpa was was dan takut akan kejahatan yang mengintai mereka, apalagi sekarang di perparah dengan banyak nya kejahatan seksual terhadap anak anak.

Sebetul nya masih banyak permasalahan permasalahan yang di hadapi emak emak zaman now, di atas hanya sedikit dari beberapa pemasalahan yang ada di negeri ini, tetapi sebetulnya kita tak dapat menggantungkan harapan kepada sistem yang sedang kita anut sekarang, karena terbukti tidak akan berhasil apabila sistem nya tidak di ganti, karena masalah demi masalah di negeri ini semakin tumbuh subur di karenakan hilang nya sistem yang adil, karena sistem ini buatan manusia, mahluk yang tak pernah luput dari khilap dan dosa.

Kita berharap sistem ini dapat di ganti dengan sistem islam, aturan hidup yang telah di tetap kan oleh yang Maha Hidup yaitu Allah SWT, karena islam adalah Rahmatan lil a'lamin. Waallohu a'lam. [syahid/voa-islam.com]

Kiriman Rika Triyani, Anggota komunitas Forum bunda solehah Tanjungsari Kab. Sumedang

Share this post..

latestnews

View Full Version