View Full Version
Selasa, 27 Feb 2018

Dikala Wanita Berusaha Menjadi Tulang Punggung

Oleh: Mirnawati ( Mahasiswi dan anggota LDK)

Agama Islam tidak membebani kaum wanita untuk memikul tanggung jawab menafkahi diri sendiri. Tetapi tanggung jawab itu dibebankan kepada bapak, suami atau seorang kerabatnya. Oleh karena itu, wanita muslimah yang paham tidak akan mencari pekerjaan diluar rumah kecuali jika hal itu benar-benar menuntutnya.

Misalnya karena tidak ada sama sekali orang yang menanggung kehidupannya dalam hal nafkah atau karena masyarakat sangat membutuhkan bantuan dirinya untuk melakukan tugas-tugas yang sesuai dengan fitrah kewanitaannya. Berkenaan dengan hal seperti ini, Islam membolehkan wanita bekerja, dengan syarat tetap menjaga kehormatan, memelihara agama dan akhlaknya.

Yang demikian itu karena Islam sengaja membebankan kepada para suami untuk menafkahi keluarga dan tanggung jawab menanggung hidup mereka sehingga istri dapat fokus mengerjakan tugasnya, yaitu mengurus rumah tangga dan menjadi seorang ibu yang baik. Dengan demikian, istri dapat menjadi penyejuk rumah tangga dan penghibur bagi suami dan putra-putrinya.

Dr. Mustafa As-Siba’I dalam bukunya, Al-Mar’atu Bainal Fiqhi Wal Qanun, mengungkapkan beberapa pemikiran orang Barat mengenai masalah ini. Berikut adalah ungkapannya yang mencerminkan kondisi wanita. Seorang filosof dan ekonom Perancis, Joul Simon, berkata “Wanita Barat telah berubah menjadi tuntunan dan barang cetakan. Pemerintah telah memanfaatkan mereka untuk bekerja di perusahaan-perusahaan. Dengan demikian mereka telah mendapatkan uang berdolar-dolar, tetapi di sisi lain mereka telah merobohkan tiang-tiang penyangga rumah tangga.

Memang benar laki-laki disana telah memanfaatkan jerih payah wanita, padahal dengan begitu pendapatan laki-laki menjadi berkurang karena keterlibatan wanita dalam pekerjaan laki-laki” selanjutnya dia bertutur, wanita seharusnya mempertahankan kodratnya sebagai wanita karena dia akan mendapatkan kebahagiaan dan dapat berbagi kebahagiaan itu dengan orang lain” (Dr. Muhammad Ali Al Hasyimi, Syakhshiyah  Al Mar’ah Al Muslimah, 1996: 402-404)

Di zaman sekarang banyak kita temukan fenomena bahwa telah banyak wanita bekerja diluar rumah entah memang untuk mengais rezeki karena terdesak, bekerja untuk melanjutkan karir atau bahkan memang karena hobi. Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS) pada Februari 2017, Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) pekerja perempuan meningkat sebesar 2,33%,  menjadi 55,04% dari sebelumnya yaitu 52,71% pada Februari 2016.

Bahkan, menurut riset dari Grant Thornton tahun 2017, Indonesia merupakan salah satu Negara yang mempunyai peningkatan terbaik dalam hal jumlah perempuan yang menduduki posisi senior diperusahaan dengan peningkatan dari 24% di tahun 2016 menjadi 28% ditahun 2017. (JawaPos.com)

Meskipun jumlah tenaga kerja wanita belum mendominasi tenaga kerja pria namun hal demikian menunjukan semakin banyak wanita yang tergiur untuk bekerja dan mempunyai penghasilan sendiri. Apalagi dizaman yang serba mahal ini, semua harga kebutuhan semakin meningkat belum lagi biaya kebutuhan lain seperti biaya pendidikan, wanita semakin terdorong untuk bekerja.

Tak heran jika disekitar kita banyak ditemui wanita yang sedang bekerja dengan berbagai profesi. Ketika dijalan banyak ditemui wanita yang menunggu bus jemputan karyawan PT, ketika ke supermarket ditemui lagi wanita sebagai SPG, ketika ke mall banyak juga wanita yang bekerja sebagai sales, pelayan ataupun kasir, di kantor ada, disekolah ada, dipemerintahan pun ada. Begitu banyaknya wanita yang bekerja diberbagai bidang dan profesi. Sampai ada pula yang rela menjual harga diri dan kehormatan demi memenuhi kebutuhan ataupun memenuhi gaya hidup yang hedonis, naudzubillah.

Sungguh dizaman sekarang banyak wanita yang menjadi pekerja, hal itu memang bukanlah suatu keharaman. Namun melihat fakta bahwa tak sedikit wanita bekerja tidak berdasarkan pada kebutuhan yang mendesak ataupun himpitan ekonomi melainkan hanya sekedar ingin mempunyai penghasilan sendiri, meneruskan karir, dsb, banyak pula wanita yang melupakan kodratnya.

Mereka lupa bahwa mereka adalah wanita, sekuat apapun dan sepandai apapun mereka memperoleh penghasilan mereka tetaplah tulang rusuk dan tidak akan menjadi tulang punggung. Akibatnya banyak masalah yang timbul, peran wanita yang seharusnya mengurus rumah dan merawat anak-anaknya, malah tertukar dengan suami. Suamilah yang melakukan pekerjaan rumah dan mengurus anak. Sinetron Dunia Terbalik merupakan contoh potret dari tertukarnya peran suami dan istri.

Sama halnya dengan wanita yang baru lulus sekolah menengah ataupun lulus kuliah, rasanya tidak afdhol jika tidak melanjutkan untuk bekerja. Seolah-olah menganggur bagi wanita itu suatu aib yang besar, atau wanita yang berpendidikan tinggi lalu akhirnya memilih untuk menikah dan menjadi ibu rumah tangga adalah hal yang salah.

Padahal, wanita memanglah harus berpendidikan tinggi dan mempunyai ilmu yang luas karena wanita adalah madrasah pertama bagi anak-anaknya. Tak sedikit pula orang tua ketika anak perempuannya lulus sekolah ingin agar anaknya bekerja, hal ini memang bukanlah suatu kesalahan. Namun seolah-olah tujuan akhir dari sebuah pendidikan adalah bekerja, jika demikian yang terjadi pada laki-laki memanglah sangat wajar bahkan menjadi tanggung jawab laki-laki untuk bekerja dan mencari nafkah.

Lain halnya dengan wanita, jika bekerja adalah suatu hal yang diharuskan maka tidak lama lagi jumlah pekerja wanita akan mendominasi pekerja laki-laki karena jumlah wanita memang sangatlah banyak. Dengan demikian, bagaimana nasib bangsa ini jika semua wanita yang bekerja sedangkan anak dan rumah tangga diurus oleh orang lain?

Bagaimana bisa mencetak generasi yang baik jika wanitanya saja sibuk bekerja dan tidak bertindak sebagai madrasah pertama bagi anak-anaknya? Pantas saja banyak anak yang frustasi dan lari ke hal yang negatif dikarenakan korban Broken Home. Kurangnya kasih sayang dan didikan dari orangtua mengakibatkan anak hilang kendali dan menggeluti pergaulan bebas.

Begitulah yang terjadi saat ini ditengah-tengah kita, seolah sistem yang mengharuskan wanita bekerja apalagi dengan berbagai iming-iming kesetaraan gender dan besarnya gaji yang dapat diperoleh terlebih lagi banyak lowongan pekerjaan untuk wanita maka wanita akan semakin tergiur untuk bekerja dan mempunyai penghasilan sendiri. Bukannya menuduh wanita yang bekerja adalah salah namun jangan sampai karena keasyikan bekerja kita lupa akan kodrat kita sebagai wanita, sebagai tonggak peradaban dunia. 

Boleh-boleh saja mempunyai cita-cita apapun, itu hal yang bagus. Namun tambahkan pula cita-cita bahwa kelak engkau akan menjadi ibu terbaik yang akan melahirkan generasi terbaik, generasi pejuang Islam, generasi yang akan meneruskan estafet kepemimpinan, generasi yang cerdas dan berakhlak baik. Tak lupa tambahkan pula cita-cita bahwa engkau akan menjadi istri shalihah yang menghiasi dunia dengan keshalihahmu yang tercermin lewat perkataan, perbuatan dan tingkah lakumu.

Seperti judul buku ustadz Felix Y. Siauw “Wanita Berkarir Surga” bahwa karir terbaik bagi wanita adalah menjadi anak, istri, dan ibu yang shalihah yang dirindukan surga. Abdullah bin Amr Radiallahu ‘anhuma meriwayatkan bahwa Rasulullah Saw. bersabda : “Sesungguhnya dunia itu adalah perhiasan dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah wanita shalihah.“ (HR. Muslim no. 1467).

Kemudian dalam hadits lain, Rasulullah Saw. bersabda: “Apabila seorang wanita shalat lima waktu, puasa sebulan (Ramadhan), menjaga kemaluannya dan taat kepada suaminya, maka dikatakan kepadanya : Masuklah engkau ke dalam surga dari pintu mana saja yang engkau sukai.“ (HR. Ahmad 1/191). Maa Syaa Allah, masih banyak lagi hadits yang menceritakan keistimewaan wanita shalihah.

Maka dari itu, jadikan kodrat kita bukan sebagai kelemahan yang mendorong kita bersaing dengan kaum laki-laki, namun jadikan kodrat kita sebagai acuan bertingkah laku sesuai koridor kita sebagai seorang wanita. Menjadi wanita karir memanglah keren, namun menjadi wanita yang mampu memperoleh gelar “wanita shalihah” sangatlah luar biasa. Wallahu‘alam bishshawab. [syahid/voa-islam.com]


latestnews

View Full Version