View Full Version
Sabtu, 31 Mar 2018

Bukan Sekedar Gaya

Oleh: Anisya Dimyati

"Mik..kok gini jas hujannya?? Kan biasanya bawahnya celana?" tanya si bungsu ketika aku pilihkan jas hujan untuknya. 

"Mik...kok seragamku modelnya terusan kayak jubah e mbak Azizah? Aku malu sama teman-temanku nanti," keluh si bungsu suatu hari ketika seragam sekolahnya mulai aku rubah modelnya jadi berbentuk jilbab (= jubah).

"Mik...lihat mik, ini loh kerudungnya bagus ya?" celetuk mbak Azizah sambil menunjukkan gambar kerudung (yang motifnya bagus tapi pendek) di HP nya.

"Mik...kok adek dibelikan jubah terus, aku nggak?" ungkap mbak Azizah suatu hari.

Itulah beberapa ungkapan dan pertanyaan dari anak-anakku yang sudah mulai baligh diusianya.

Meskipun usia mereka masih belasan tahun, aku harus tetap bersikap tegas dan keras dalam mengajaknya taat pada aturan Allah. Tidak bisa tidak.

Itu semua kulakukan karena status mereka sekarang sudah mukallaf, yaitu orang yang dibebani hukum. Jadi sudah tidak boleh main-main atau lengah dalam beribadah.

Dipundaknya sekarang telah dibebani berbagai kewajiban sebagai seorang muslim sebagaimana orang dewasa. Semua kewajiban harus mereka tunaikan tanpa terkecuali. Tidak hanya sholat wajib yang 5 waktu dalam sehari, tapi juga kewajiban-kewajiban lainnya. Seperti menutup aurat sebagai seorang muslimah, puasa ramadhan, dakwah dan lain sebagainya.

Menutup auratpun tidak sembarangan, harus sesuai dengan yang diperintahkan Allah dan RasulNya. Tidak seenaknya yang penting sudah menutup aurat, sungguh tidak demikian. Karena dalam islam, semuanya diatur termasuk dalam hal berpakaian. Dan bagi seorang muslimah, pakaian yang diwajibkan atasnya ada 2 yaitu ; jilbab dan khimar. Sebagaimana perintah Allah dalam firmanNya :

وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلاَ يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلاَّ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَى جُيُوبِهِنَّ

Artinya :

"Katakanlah kepada wanita yang beriman, “Hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya kecuali yang (biasa) tampak daripadanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya..." ( Qs. An Nur : 31)

يَاأَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ ِلأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلاَبِيبِهِنَّ

Artinya :

"Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu, dan istri-istri orang Mukmin. Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka." (QS al-Ahzab [33]: 59).

Itulah mengapa aku harus tegas dan jelas ketika menyampaikan ke mereka terkait dengan hukum-hukum islam yang harus mereka jalankan. Terutama menjelaskan perbedaan JILBAB dan KHIMAR/KERUDUNG.

Bahkan untuk si bungsu aku tak segan-segan menghadap ke kepala sekolahnya untuk minta ijin terkait dengan seragamnya. Dan si bungsu mengetahui hal itu. Sehingga dia tak ragu lagi untuk "tampil beda" dengan teman-temannya. Selain di rumah aku terus berusaha untuk memberikan pemahaman padanya.

Lain halnya dengan kakaknya - mbak Azizah -, yang sudah memiliki pemahaman tentang islam karena memang dia sudah mulai ikut mengkaji islam sejak lulus sekolah dasar (SD). Sehingga aku tidak begitu susah mengarahkannya. Inilah enaknya kalau anak kita juga ngaji islam, mereka membantu meringankan tugas kita sebagai orangtua.

Dan atas pertanyaan dan ungkapan anak-anak diatas, akupun memberikan jawaban ke mereka :

"Iya dek, adek kan pakaiannya jubah, mana bisa pake jas hujan model celana? Nanti malah kelihatan bentuk badan dan kakinya."

Si bungsupun tersenyum malu mendengarnya

"Dek Rahma sudah baligh, jadi mulai sekarang pakaiananya harus jilbab/jubah, termasuk seragam sekolahnya. Gapapa, wong bagus kok. Dulu mbak Azizah seragamnya juga begitu. Apalagi umi juga sudah ijin ke kepala sekolahnya adek." Bujukku pada si bungsu. Dan diapun tersenyum sambil memegang seragam barunya.

Demikian juga ke mbak Azizah. Akupun juga mencoba menjelaskan bahwa dalam berpakaian itu harus tetap sesuai dengan aturan islam. Sesuai atau tidak??Tidak sekedar gaya-gayaan mengikuti trend yang ada.

Alhamdulillah. Akhirnya mereka paham dan mau mendengarkan apa yang disampaikan uminya.

Sebagai orangtua, tentu saja aku sangat senang dan selalu berdo'a semoga anak-anakku istiqamah menjalankan kewajibannya sebagai seorang muslim dan semoga Allah jadikan mereka generasi khairu ummah yang shalih-shalihah. Aamiin yaa Rabbal'alamiin.

(Do'a dan harapan dari seorang ibu yang takut akan pertanggungjawabannya kelak di hadapan Allah SWT.) [syahid/voa-islam.com]

 


latestnews

View Full Version