View Full Version
Jum'at, 28 Sep 2018

Media Sosial Mengancam Pernikahan?

Oleh : Qiya Amaliah Syahidah

Media sosial (medsos) seperti Facebook maupun Twitter telah menjadi salah satu sarana interaksi sosial pada saat ini. Medsos, memungkinkan manusia bisa saling berkomunikasi jarak jauh bahkan sampai bertatap muka. Namun, tingginya kasus perceraian di beberapa daerah di Indonesia disinyalir akibat pengaruh medsos.

Tingginya angka perceraian

Pengadilan Agama Kabupaten Karawang, Jawa Barat, menerima seribuan gugatan cerai sejak Januari-Juli 2018. Panitera Muda Hukum Pengadilan Agama Karawang Abdul Hakim mengatakan bahwa banyaknya perceraian itu yang terjadi karena media sosial.

Lebih lanjut, ia menuturkan bahwa sesuai dengan pembuktian dalam persidangan kasus perceraian di Pengadilan Agama Karawang, cukup banyak pasangan suami-istri bercerai karena kecemburuan dari pertemanan pasangannya, hingga perselingkuhan yang bermula dari media sosial. Menurut dia, media sosial seperti Facebook, Instagram, dan WhatsApp pemicu perceraian merupakan tren baru (Liputan6.com, 10/09/2018).

Bukan hanya tahun ini, tahun lalu pun, perceraian akibat media sosial sudah mulai menggila. Panitera Pengadilan Agama Kota Depok Entoh Abdul Fatah mengatakan, ratusan pasangan suami-istri di Depok, Jawa Barat, bercerai karena penggunaan media sosial. Tercatat sebanyak 157 pasangan bercerai karena sejumlah akun media sosial (Kompas.com, 30/09/ 2017).

Mengacu pada fakta tersebut, Pegiat internet sehat dari Information and Communication Technology (ICT) Watch, Acep Syaripudin mengatakan bahwa media sosial (medsos) sebagai penyebab perceraian bukanlah hal baru. Akibat dari ketidakpahaman akan etika bermain internet, banyak konflik berawal dari media sosial. Artinya, harus ada kontrol dalam penggunaan medsos. Pengguna harus tahu batas, tahu privasi, data dan etika serta yang penting tentu saja interaksi yang tidak berlebihan yang dapat membuat goyah rumah tangga (Republika.co.id, 05/10/2017).

Akar Masalah

Tingginya angka perceraian yang dipicu oleh aktivitas di medsos, tidak lain karena masyarakat tidak memahami tata aturan interaksi antara laki-laki dan perempuan. Hal ini karena berkembangnya paham liberalisme yang telah mendominasi dalam memanfaakan medsos. Sehingga seringkali mengabaikan batas-batas kesopanan.

Tidak jarang kita mendapati para perempuan mengugah foto profil yang menampakkan aurat dan mengekspos kecantikan.  Bahkan kalau perlu diedit dengan aplikasi agar terlihat lebih cantik dan menarik. Curhat habis-habisan di Facebook dan berinteraksi dengan lawan jenis tanpa batas.

Para laki-laki pun tak jauh berbeda. Tak jarang mereka suka menyimpan foto perempuan lain, chatting bebas dengan perempuan. Semua ini memicu kecemburuan dan perselingkuhan yang ujung-ujungnya menimbulkan perceraian.

Secara umum, tingginya kasus perceraian yang dipicu oleh medsos disebabkan  oleh dua faktor. Pertama, faktor individu. Tidak adanya ketakwaan pada individu serta lemahnya pemahaman terhadap hukum-hukum syariat sehingga tidak memahami batas interaksi lawan jenis di medsos.  Faktor tidak adanya ketakwaan ini pula sehingga individu tidak merasa adanya pengawasan dari Allah terhadap aktivitas yang dilakukan.

Kedua, faktor sistemik. Sekulerisme yang menjadi asas interaksi dalam kehidupan sosial,  telah menempatkan agama dan Tuhan hanya ada di tempat dan waktu pelaksaaan ibadah ritual saja.

Sehingga berdampak pada tata aturan kehidupan dalam interaksi laki-laki dan perempuan bebas tanpa batas-batas syar'i. Lemahnya negara dalam melaksanakan fungsi pengawasan terhadap medsos telah menimbulkan ancaman perceraian yang terus meningkat setiap tahunnya. Maka mengharap negara akan melakukan fungsinya  tentu merupakan hal yang mustahil.  Karena negara dalam sistem kapitalis  justru harus menjaga kebebasan individu termasuk dalam memanfaatkan medsos.

Sistem pendidikan yang berlandaskan sekulerisme yaitu pemisahkan agama dari kehidupan telah melahirkan manusia yang kosong dari nilai ruhiyah. Sehingga, tidak memiliki sifat merasa diawasi oleh Allah SWT dalam setiap aktivitas kehidupan, baik di dunia nyata maupun di dunia maya. Oleh karena itu berharap kepada sistem sekulerisme untuk meredam laju perceraian akibat medsos sungguh suatu yang mustahil.

Justru paham kebebasan yang menyebar di seluruh sektor kehidupan menumbuhsuburkan pergaulan bebas. Belum lagi media beraroma liberal semakin terasa eksistensinya.  Akibatnya, dimana-mana dengan mudah kita jumpai hal-hal yang membangkitkan naluri seksual. Perselingkuhan tidak terelakkan. Baik di dunia nyata dan maya, angkanya semakin meningkat.

Solusi Islam

Jalan satu-satunya untuk menangkal persoalan  ini adalah dengan ketakwaan individu yang kokoh. Karena dengan ketakwaan seseorang akan berusaha menghindari interaksi dengan lawan jenis,  dimana pun dan kapan pun. Ketakwaan ini pula yang  memberikan kesadaran adanya pertanggungjawaban Allah baik di dunia nyata maupun maya.

Penting adanya penerapan aturan tata pergaulan dalam masyarakat yang akan mampu meminimalisir godaan dan rangsangan syahwat. Dalam hal ini, negara seharusnya mengusahakan adanya teknologi informasi yang berguna untuk kebaikan, dan bukan malah menimbulkan mudharat.  Wallahu a'lam bisshawab. (rf/voa-islam.com)

*Penulis adalah Muslimah Media Konawe

Ilustrasi: Google


latestnews

View Full Version