View Full Version
Ahad, 09 Feb 2020

Ketika Ananda Jatuh Cinta, Beginilah Seharusnya Respon Orangtua

 

Oleh: Umi Diwanti

“Rasa cinta pasti ada pada makhluk yang bernyawa.”

Bait lagu Oma Titiek Sandora ini benar adanya. Allah menciptakan rasa cinta pada manusia termasuk terhadap lawan jenisnya. Tentu saja bukan untuk membuat manusia terluka atau sengsara tapi agar spesies manusia tidak punah. Sebuah fitrah jika ananda kita pun merasakannya.

Di tengah buruknya pergaulan anak zaman sekarang, tentu menjadikan kita para orangtua parno terhadap interaksi anak-anak. Tapi jangan sampai kekhawatiran membuat kita salah langkah dalam menyikapi perkembangan naluri ananda.

Fakta buruk yang terjadi akibat pacaran jangan membuat kita serta merta frontal pada saat anak menyatakan rasa suka pada teman lawan jenisnya. Namun, jangan pula membiarkannya hingga beresiko fatal.

Dua cerita nyata ini sekiranya bisa menjadi pelajaran penting buat kita.

Pertama, seorang bunda yang merasa bahwa anak perempuannya telah memilih lelaki yang tepat. Dianggapnya baik perangai dan agama laki-laki tersebut, lalu dibiarkan bahkan terkesan didukung hubungan keduanya.

Dia diizinkan bertamu, mengobrol bahkan orang tua mempercayakan putrinya pada si lelaki tersebut. Hingga suatu ketika saat jelang ujian akhir SMP, sang anak terlihat ogah-ogahan belajar. Tak sengaja, sang bunda menemukan sebuah pesan di ponsel anandanya.

“Sayang sudah diminum belum ramuan penggugur kandungannya?”

Orangtua mana yang tidak tidak histeris membaca pesan macam itu? Dan tahukah bunda, ternyata sms itu dari lelaki yang dianggap baik dan layak buat anandanya tadi.

Setelah ditelusuri, ternyata kejadian nahas itu bermula di rumah meraka sendiri. Saat kedua orangtua keluar rumah, sang lelaki datang bertandang. Seperti biasa, merasa direstui sang anak pun merasa tak mengapa menyuruh sang lelaki masuk rumah.

Agar hal serupa tidak menimpa ananda, kita harus menentukan sikap yang benar dan tepat jika suatu saat ananda mencertiakan perihal rasa cintanya, pada kita.

Pertama, dengarkan ananda bercerita hingga tuntas. Jangan dipotong dan disela apalagi dihakimi. Kalau perlu eksplore lebih dalam, sejauh mana rasa yang dia punya.

Kedua, apresiasi dan tampakan rasa gembira bahwa ananda sudah mau memilih kita jadi teman curhatnya. Sampaikan pula ke ananda, tak perlu ragu jika mau cerita apapun ke Bunda, insya Allah rahasia terjaga dan Bunda bersedia menjadi pendengar setia.

Ketiga, apresiasi juga orientasi cintanya sudah benar. Katakan bahwa hal demikian adalah lumrah, anugerah dari Allah.

Jika ananda sudah cukup dewasa, sampaikan perlahan tujuan Allah terhadap penciptaan rasa cinta terhadap lawan jenis tersebut. 

Keempat, pahamkan anak tentang status kita sebagai makhluk. Bahwa kita tidak serba tahu termasuk siapa jodoh kita. Karenanya kita harus menjaga kemuliaan kita sebagai perempuan atau laki-laki.

Simpan rasa itu di dalam hati saja. Fokuslah menyiapkan diri dengan mencari banyak ilmu. Agar nanti saat tiba waktunya kita boleh mengungkapkannya, kita telah siap menjalaninya. Yakni saat kita siap untuk menikah atau dinikahi.

“Boleh kok Nak suka sama siapa aja lawan jenismu. Karena rasa cinta itu fitrah. Tapi Allah punya cara agar cinta menjadi pahala. Menikah. Menikah itu perlu bekal ilmu yang banyak agar bisa bahagia. Karenanya sekarang ananda fokus siapkan ilmunya dulu ya. Kalau jodoh tak kan kemana. Kalau bukan jodoh meski sudah kemana-mana ya gak akan bersatu juga. Yang ada hati nyesek, iya kan sayang?”

Boleh ceritakan bagaimana kisah Ali dan Fatimah saling menyimpan rasa. Dan akhirnya Allah pertemukan mereka dalam pernikahan mulia yang teramat romantis.

Kelima, sampaikan rahasia tentang cinta. Memendam cinta memang tidak mudah bahkan cenderung bikin gelisah. Tapi ada juga triknya agar rasa itu bisa hilang. Naluri termasuk rasa cinta tidak datang dari dalam tubuh. Dia akan muncul bila ada rangsangan dari luar. Supaya gak terlalu kepikiran upayakan tidak melihat dan mendengar apapun tentang dia sementara belum tiba saatnya.

Naluri ini tidak akan membawa pada kematian bila tak dituruti. Beda dengan kebutuhan jasmani yaitu makan dan minum yang bila tak dipenuhi bisa bikin mati. Rasa ini bisa dialihkan pemenuhannya pada hal lain. Misalnya perbanyak kegiatan positif, olahraga, atau puasa. Alihkan untuk banyak membaca buku dan kegiatan agama.

Selain teralihkan, insyaallah ilmu yang didapat akan membuat ananda semakin bijak menyikapi rasa yang melanda.

Keenam, jangan sekali-kali kita melarang anak untuk pacaran dengan alasan temporal yang tidak benar. Misal, “Awas ya, belum boleh pacaran, nanti belajarnya terganggu!”

Atau, “Ingat ya anak kecil belum boleh pacaran”, “Belum kerja gak boleh pacaran dulu, buat sendiri aja masih minta ortu, masak mau pacaran?!”

Jika alasan demikian yang kita lontarkan, jangan heran jika akhirnya ananda justru pacaran secara diam-diam. Apalagi jika ternyata anak merasa belajarnya justru tambah bagus setelah pacaran. Ia akanb merasa tak ada alasan memenuhi nasihat kita.

Terakhir, tentu saja sebagai ortu kita harus meluangkan banyak waktu dan perhatian pada anak-anak kita. Pastikan setiap kebutuhan mereka kita ketahui dan pahami. Jangan sampai ananda merasa kesepian hingga (kadang sudah tahu pacaran tak baik) tetap memilih menjalin hubungan dengan lawan jenis yang kerap memberinya perhatian.

Buat anak putri, peran ayah sangat diperlukan. Jadikan diri ayah menjadi cinta pertama sang putri. Demikian sebaliknya, peran bunda sangat diperlukan untuk ramaja putranya.

Jadilah sahabat yang menyenangkan dan fungsikanlah jiwa kepemimpinannya. Jangan selalu menjadikannya ‘anak’ yang selalu diatur segala sesuatunya.

Mintalah pendapatnya, perlindungannya  dan bantuannya. Saat anak mendapatkan perlakuan sesuai perkembangan, niscaya mereka mudah untuk tidak mencari lagi penyaluran di luar sana. Hingga waktunya tiba mereka tumbuh dewasa, siap menikah dan dinikahi. Maka saat itu cinta yang mereka punya niscaya akan membawa pada pahala dan bahagia; baginya, dan orangtuanya. Wallahu alam. (rf/voa-islam.com)

Ilustrasi: Google


latestnews

View Full Version