View Full Version
Rabu, 08 Jul 2020

Trending Bekal untuk Suami, Feminis Sakit Hati Bereaksi

 

Oleh: Aisyah Farha

            Apakah kamu salah satu yang meramaikan hastag #bekaluntuksuami beberapa waktu lalu? Hastag ini sempat beberapa hari viral di jagad maya, dimulai dari salah seorang istri yang mengupload foto bekal yang ia siapkan untuk suaminya tercinta. Dalam foto tersebut terlihat sebuah lunch box yang berisi varian makanan yang sangat menggoda.

            Bagi sebagian perempuan Indonesia, foto tersebut bisa menjadi inspirasi. Ibu-ibu memang sangat menyukai berbagai konten kuliner, apalagi bila konten tersebut bisa menjadi inspirasi yang bisa langsung dipraktikkan. Bekal untuk anak-anak dan suami adalah salah satu bentuk cinta dari seorang wanita yang berasal dari dalam hatinya, juga sebagai salah satu cara untuk menghemat keuangan.

            Foto bekal suami yang diunggah oleh salah satu netizen itu menjadi viral karena ada beberapa feminis yang mengkritiknya. Para feminis ini berkicau, mengapa tidak ada foto bekal untuk istri. Mereka merasa perbuatan melayani suami itu menginjak-injak harga diri wanita. Tetapi banyak juga netizen yang tidak setuju dengan pendapat para feminis ini.

Sekilas tentang Feminis

            Seperti diketahui, para feminis adalah golongan wanita yang mengusung kesetaraan gender, mereka ingin tidak ada perbedaan antara wanita dan pria. Menurut mereka wanita yang diam di rumah untuk melayani suami adalah bentuk belenggu penghinaan dan penindasan terhadap wanita. Mereka ingin menyetarakan wanita dan pria, sehingga wanita juga bebas untuk bekerja di luar rumahnya dan tidak terbelenggu lagi.

            Dengan landasan pemikiran yang seperti itu, wajar saja mereka meradang saat melihat seorang wanita yang menyiapkan bekal untuk suaminya. Mereka berpendapat wanita yang seperti itu tidak ada bedanya dengan asisten rumah tangga, bahkan lebih rendah karena tidak diupah.

            Wajar ketika para feminis berpikir demikian, karena kita saksikan para wanita saat ini begitu direndahkan. Jika ada tindak kekerasan, maka pastilah wanita yang jadi korban. Selama ini wanita harus menelan pahitnya kekerasan dalam rumah tangga, anak-anak perempuan menjadi korban pelecehan seksual bahkan oleh anggota keluarga terdekat. Wanita menjadi sosok tidak berdaya dan tersakiti.

            Dari rasa tersakiti inilah, para feminis bangkit dan bersatu untuk membela kaum wanita. Mereka ingin agar wanita bisa setara dengan pria, agar tidak ada lagi kekerasan terhadap wanita. Mereka ingin para wanita tidak hanya di rumah melayani suaminya, tapi juga berhak bekerja untuk mendapatkan uang. Dengan itu wanita bisa membiayai dirinya sendiri tanpa harus menunggu uang suami. Menurut mereka saat wanita bisa membiayai diri sendiri, maka wanita akan bisa lepas dari belenggu pria.

            Tetapi ada hal yang luput dari perhatian para feminis, yaitu akar masalah dari kekerasan yang menimpa wanita. Kekerasan terjadi bukan karena wanita lebih lemah dari pria, bukan juga karena wanita tidak bekerja di luar rumah. Semua hal yang menimpa wanita saat ini terjadi karena dunia sedang dalam pengaruh kapitalisme sekuler. Jika kita ingin sebuah masalah selesai, maka carilah solusi untuk akar permasalahannya.

Akar Permasalahan Kekerasan terhadap Wanita

            Kapitalisme sekulerlah yang bertanggung jawab atas semua kekerasan yang terjadi pada wanita saat ini. Sekuler adalah suatu paham yang memisahkan agama dari kehidupan dan menihilkan peran agama untuk solusi kehidupan kita. Sedangkan jika kita membaca sejarah, perlakuan tidak manusiawi terhadap kaum wanita itu semua penyebabnya adalah ketiadaan agama dalam kehidupan. Tentu saja agama disini adalah agama yang haq (benar).

            Kita lihat sejarah kelam untuk wanita sebelum Islam datang, tepatnya di Yunani, India, China, Persia, Romawi bahkan jazirah Arab. Dahulu masyarakat Yunani menganggap wanita sebagai penyebab segala macam musibah. Di India wanita tidak memiliki hak hidup sehingga saat suaminya meninggal ia pun harus ikut dibakar. Di China wanita tidak berhak atas harta warisan, karena mereka dianggap racun yang bisa merusak harta.

            Lain lagi  di Persia, saat itu wanita adalah aib sehingga harus dikucilkan ke tempat yang jauh saat ia haid. Sedangkan di Romawi wanita hanya sekadar pemuas nafsu mereka saja. Para pria berhak mengusir wanitanya sesuka hati. Saat itu wanita tidak berharga dan tidak berhak punya harga diri.

            Di jazirah Arab juga demikian, anak perempuan yang dilahirkan hanya akan menjadi aib bagi ayahnya. Saking malunya memiliki anak perempuan, seorang ayah tega menguburnya hidup-hidup saat baru saja dilahirkan. Saat sudah dewasa, wanita di sana hanya menjadi hiasan yang dibanggakan. Wanita juga dijadikan harta warisan yang bisa dibagikan kepada ahli waris. Sangat menyedihkan!

Islam Hadir dan Menjadi Solusi    

Islam datang dan menghapus itu semua. Syariat Islam menjadikan wanita mulia, dengan segala kodrat yang dimilikinya. Secara umum Allah ta’ala menjadikan pria dan wanita sama kedudukannya. Sama-sama menanggung beban hukum aturan Islam, tidak ada yang dilebihkan satu dari yang lain. Pria dan wanita adalah partner yang saling melengkapi dengan perbedaan kodratnya, tetapi juga menetapkan secara khusus tanggung jawab mereka masing-masing.

            Kekhususan tanggung jawab ini berdasarkan kodratnya agar keberlangsungan kehidupan manusia tetap terjaga. Pria dengan kekuatan dan logika yang menonjol sangat menunjang dalam melindungi keluarganya dari api neraka dan mencari nafkah. Sedangkan wanita dengan segala kelembutannya berfungsi untuk mendidik generasi masa depan.

            Hati seorang wanita memang lembut, dipenuhi dengan kasih sayang. Seperti kata pepatah, kasih sayang ibu sepanjang masa. Kasih sayang di dalam hatinya tidak akan pernah lekang oleh waktu. Inilah yang menyebabkan seorang wanita bisa menahan rasa sakit selama sembilan bulan saat mengandung bayinya, ditambah periode nifas dan tahap menyusui selama dua tahun. Semua itu hanya bisa dijalani oleh makhluk yang benama wanita.

            Syariat Islam yang berasal dari Sang Pencipta manusia tidak akan menyalahi kodrat ini. Wanita dengan segala kelembutannya sangat dimuliakan dalam Islam. Hingga untuk masuk surga pun Allah mudahkan. Rasulullah bersabda, “Jika seorang istri melakukan shalat lima waktu, puasa di bulan ramadhan, memelihara kemaluannya dan menaati suaminya, niscaya dia akan memasuki surga Tuhannya” (HR. Imam Ahmad). Dengan bertakwa kepada Allah dan menaati suaminya, wanita akan masuk surga.

            Perintah Allah tidak menyalahi kodrat wanita. Wanita tidak perlu keahlian khusus untuk menaati suaminya, hanya berbekal ketaatan kepada Allah saja niscaya surga untuknya. Maka konteks melayani suami termasuk di dalamnya membuat bekal makan siangnya sudah sesuai dengan kodrat wanita, dan dengan itu juga wanita dapat meraih surganya.

            Untuk menciptakan suasana yang Islami, misalnya suami yang baik dan shaleh, tidak kasar terhadap wanita dan anak-anaknya, diperlukan kondisi yang Islami juga. Saat ini sekulerisme masih eksis di dunia, maka jangan harap kondisi islami dapat tercipta. Karena sejatinya sekulerisme hanya akan menjadikan manusia jauh dari ketakwaan, hingga jalan keluar yang ditawarkan belum tentu keberhasilannya, seperti yang dilakukan oleh para feminis yang salah jalan.

            Maka tugas kita adalah meninggalkan sekulerisme saat ini juga dan kembali kepada syariat Islam. Kita berdiri di barisan orang-orang yang ingin memuliakan Islam dan berjuang bersama mereka. Berjuang untuk mengembalikan kehidupan Islam yang akan menjadi rahmatan lil alamin. Tidak lupa selalu berdoa kepada Allah agar suasana Islami yang dulu pernah ada, bisa kita rasakan kembali saat ini. Wallahu a’lam bish shawaab. (rf/voa-islam.com)

Ilustrasi: Google


latestnews

View Full Version