View Full Version
Sabtu, 08 Jul 2023

Waspada Digitalisasi Merusak Generasi

 

Oleh: Hanum Hanindita, S.Si

Saat ini arahan menguasai dunia digital khususnya bagi generasi muda sangat gencar untuk dilaksanakan. Sebab pemuda memiliki potensi yang luar biasa dan dengan kecepatan mereka dalam menguasai dunia digital tentunya akan membawa kekuatan yang besar. Menurut KBBI digitalisasi artinya pemberian atau pemakaian sistem digital. Pada kondisi seperti ini aktivitas manusia secara umum tidak bisa dilepaskan dari ketergantungan dengan aneka perangkat digital dan internet.

Saat ini kelompok pemuda disasar sebagai pelaku utama yang akan mendorong serta mendongkrak nilai ekonomi digital pada era digitalisasi. Dilansir dari cnbcindonesia.com 11/11/22,  Presiden Jokowi dalam rangkaian penyelenggaraan KTT ke-40 ASEAN di Phnom Penh, Kamboja, mengatakan fokus Indonesia ke depan di antaranya adalah kapitalisasi bonus demografi dan penguatan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Jokowi juga menekankan bahwa bonus demografi harus dikapitalisasi agar Asia Tenggara dapat menjadi pusat pertumbuhan ekonomi sehingga kaum milenial dan generasi Z harus jadi pendorong transformasi digital di kawasan ini.

Berangkat dari sinilah edukasi tentang hak dan tanggung jawab dalam bermedia sosial menjadi perlu untuk dilakukan, sebab dengan pesatnya perkembangan dunia digital tentu akan membuka peluang manfaat bagi yang menggunakannya dengan benar, namun sebaliknya akan mengundang kejahatan jika dikendalikan oleh pihak-pihak yang sekedar mencari keuntungan.

Edukasi tentang hak dan tanggung jawab dalam bermedia sosial diberikan kepada pelajar MTs dan MA di Kota Bekasi, Provinsi Jawa Barat. Hal ini disampaikan dalam kegiatan yang digelar Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) RI bersama Gerakan Nasional Literasi Digital (GNLD) Siberkreasi. Kepala Seksi Pendidikan Madrasah Kementrian Agama Kota Bekasi Achmad Zainal Muttaqien mengatakan saat berada di dunia digital, tindakan yang dilakukan haruslah dengan penuh kesadaran, mengedepankan kejujuran, serta melakukan hal yang bernilai manfaat bagi kemanusiaan dan kebaikan. Selain itu, konten negatif yang isinya melanggar kesusilaan, perjudian, menghina dan mecemarkan nama baik, pemerasan, bullying, juga berita bohong, harus dihindari (jpnn.com, 15/06/23).

Jika kita cermati lebih jauh, posisi pemuda sebagai “pemain” digital tidak begitu saja menjadikan mereka pemain kunci yang bisa mengendalikan ekonomi digital. Hal ini dikarenakan pemuda hanyalah sebagai pengguna digitalisasi tersebut. Adapun “pengendalinya” tetaplah negara adidaya yang kini menguasai banyak teknologi. Dengan demikian, lebih tepat jika dikatakan bahwa pemuda justru merupakan sasaran pangsa pasar ekonomi digital itu sendiri, bukan jadi pengendali. Untuk itu kita perlu mewaspadai efek negatif dari era digitalisasi itu sendiri.

Mengapa bisa demikian? sebab saat ini dunia tengah menjadi asuhan sistem kapitalisme, termasuk perkembangan dunia digital pun tak luput dari pengaruh sistem tersebut. Digitalisasi dalam paradigma kapitalisme sangat rentan menyibukkan para pemuda untuk mengejar kepentingan materi  semata hingga melupakan potensi hakiki mereka, yakni potensi intelektual sebagai generasi. Manajemen serba kapitalistik hanya akan membajak potensi berharga pada diri pemuda. Belum lagi arus deras ide-ide sekuler dan liberal melalui digitalisasi pun sangat berpotensi mengikis, bahkan menghilangkan identitas para pemuda muslim. Promosi ide-ide kebebasan dan gaya hidup hedonis begitu mudah kita dapati melalui arus digitalisasi. Inilah cuplikan gambaran bahwasanya digitalisasi berpotensi merusak generasi.

Edukasi yang dilakukan oleh pemerintah Bekasi pada generasi muda terkait menghadapi perkembangan proyek digitalisasi tidaklah cukup jika hanya sampai pada mengedepankan kejujuran,memberi manfaat berupa nilai kemanusiaan dan kebaikan. Sebab standar tersebut sangatlah minim dalam menciptakan filter yang kokoh serta garis batas yang tegas dalam membentengi generasi muda dari kejahatan digital berupa bullying,pornografi, serta tren tidak berfaedah yang mengancam nyawa.

Penting untuk membekali generasi agar mereka dapat memanfaatkan dunia digital tentunya sejalan dengan Islam. Sebab jika mereka hanya sekedar menguasai digital namun tanpa diiringi dengan bekal pemahaman Islam, pada akhirnya mereka hanya akan menggunakan dunia digital untuk memperkaya diri alias demi cuan semata. Dan parahnya lagi mereka akan menjadi tumbal-tumbal kapitalis demi terus berputarnya roda para penggerak bisnis. Oleh karenanya, butuh peran negara dengan sistem sahih untuk memastikan arus digitalisasi berjalan tanpa merusak fitrah dan identitas generasi. Dengan demikian bahaya dunia digital bagi generasi dapat ditangkis.

Maka pemuda muslim saat ini  harus terlebih dahulu menyadari potensi besar yang mereka miliki yang saat ini tengah dirampok oleh musuh-musuh Islam. Pemuda memiliki potensi sebagai  pemimpin yang terdepan dalam kebaikan, kreatif , mampu menyelesaikan masalah dan memiliki visi misi yang jelas serta mampu membawa dan menyebarkan kebaikan. Pemuda adalah penegak peradaban Islam, dan harus peduli terhadap setiap kerusakan yang terjadi sekarang, tidak hanya diam berpangku tangan. Pemuda harus memiliki keberanian dalam menyampaikan dan menegakkan kebenaran.

Pemuda harus sadar dan menjadikan Islam sebagai satu-satunya pandangan hidup sehingga segala perbuatan, makna bahagia dan sukses ditakar dengan standar yang tepat. Bukan seperti sekarang sukses ala kapitalis. Bahagia dan sukses yang hakiki adalah saat meraih ridho Allah dan kelak masuk ke surga Nya. Allah berfirman dalam surat Ali Imron ayat 185 yang artinya :“Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Dan hanya pada hari Kiamat sajalah diberikan dengan sempurna balasanmu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, sungguh, dia memperoleh kemenangan. Kehidupan dunia hanyalah kesenangan yang memperdaya.” (TQS Ali Imran : 185)

Maka, kecepatan dan kecerdasan pemuda muslim saat ini, dalam menguasai dan juga memanfaatkan dunia digital, sejatinya harus diarahkan dan dimanfaatkan dalam memberikan kontribusinya di umat untuk tegaknya peradaban Islam kelak. Para pemuda muslim adalah generasi cerdas teknologi. Mereka memiliki kreativitas dan inovasi yang luar biasa, termasuk dalam membuat konten di dunia maya. Dengan penguasaan dunia digital seharusnya akan memudahkan ide-ide Islam tersebar dengan cepat dan luas cakupannya, sehingga mempercepat kesadaran umat akan pentingnya menerapkan Islam secara sempurna dalam kehidupan.  Bukan hanya sekedar melaksanakan program pemerintah yang tujuan keberhasilan materi saja, apalagi hanya sekedar menjadi tumbal kepentingan kapitalis demi eksistensi mereka. Ini akan sangat disayangkan sekali. Wallahu alam. (rf/voa-islam.com)

Ilustrasi: Google


latestnews

View Full Version