View Full Version
Rabu, 02 Oct 2024

Cinta Rasulullah Sepanjang Masa, Bagaimana dengan Cintamu?

 

Oleh: Umi Hanifah

Orang yang mencintai pasti akan melakukan apa saja demi yang dicintai. Manusia yang harus dicintai di muka bumi ini adalah Rosulullah SAW setelah mencintai Allah. Selanjutnya mencintai keluarga, saudara, sahabat, dan yang lain karena Allah.

Cinta menurut lmam Al-Baidowi dalam kitab min muqowimat cinta adalah keinginan untuk taat. Imam Al-Zujaj berkata, cintanya manusia kepada Allah dan Rasulullah adalah menaati keduanya dan rida terhadap segala perintah Allah dan segala ajaran yang dibawa Rasulullah saw. Inilah cinta yang mendatangkan kebaikan.

Cinta kepada Allah dan Rosulullah saw inilah yang diperlukan manusia, karena mencintai yang tepat dan pasti membawa pada kebahagiaan yang hakiki. Cinta yang tidak akan bertepuk sebelah tangan, karena tanda manusia dicintai Allah adalah mendapatkan ampunan, pahala, dan rida-Nya kepada hamba.

Siapa saja yang mencintai Rosulullah saw maka beliau teladan sepanjang masa. Artinya tidak ada teladan terbaik selain Beliau saw dalam setiap aspek, baik sebagai suami, sahabat, tetangga, anak, ayah, bahkan sebagai kepala negara di Madinah.

Sejarah mencatat, sebagai ayah Beliau saw menyayangi dan membimbing keluarganya untuk taat dan berbuat baik. Sebagai suami Beliau saw selalu ada waktu untuk bercengkerama dengan para istrinya meski ditengah kesibukan dakwahnya. Sebagai sahabat, Beliau saw tidak membedakan baik pada yang tua, muda, kaya, maupun yang papa. Semuanya dekat dengan Beliau saw. Sebagai kepala negara Beliau saw mampu mengubah manusia jahiliyah menjadi generasi terbaik, sehingga lslam tegak menjadi sebuah peradaban yang agung. Semua itu karena Beliau saw diutus untuk menebar rahmat ke semua alam.

وَمَآ أَرْسَلْنَٰكَ إِلَّا رَحْمَةً لِّلْعَٰلَمِينَ

Artinya: Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam. (QS Al-Anbiya 107).

Hidup Beliau saw semata-mata untuk mengemban risalah lslam agar manusia bisa merasakan manisnya iman. Meskipun Beliau saw sudah dijamin masuk surga, namun aktivitas dakwah tiada lelah terus dilakukan sehingga Islam bisa menguasai jazirah Arab dan sekitarnya. Padahal tantangan yang dihadapi sampai mengancam jiwanya. Beliau saw dilempari batu hingga betisnya berdarah namun tak ada keluhan apalagi cacian, justru kalimat indah keluar dari lisannya yang mulia. Beliau ingin agar dari keturunan mereka menjadi pembela agama Allah, dan terbukti Allah mengabulkan doanya.

Hingga menjelang wafatnya yang Beliau saw kenang adalah umatnya, bukan keluarga dan yang lainnya. Beliau saw sangat ingin agar umatnya selamat dari jilatan api neraka. Sungguh cinta Beliau saw adalah cinta sejati. Lantas bagaimana dengan cinta kita kepada Beliau saw?

Sekali lagi cinta perlu bukti. Beliau saw melarang wanita membuka aurat di depan publik apalagi sengaja memamerkannya. Riba, membunuh, menipu, berzina, minum khamr, tidak berhukum pada aturan Allah, LGBT dan lainnya adalah hal-hal yang dibenci Beliau saw. Namun dalam sistem sekularisme hari ini hal itu dianggap lumrah jika dilakukan banyak orang, padahal mengaku mencintainya. Mereka mengaku beriman dan taat pada sebagian yang diperintahkan namun mengingkari sebagian yang lain. Mereka tidak takut ancaman siksa neraka, artinya cinta mereka palsu dan itulah orang yang sesungguhnya kafir.

“Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada Allah dan rasul-rasul-Nya, dan bermaksud memperbedakan antara Allah dan rasul-rasul-Nya, dengan mengatakan, "Kami beriman kepada sebagian (dari rasul-rasul itu), dan kami kafir terhadap sebagian (yang lain)," serta bermaksud (dengan perkataan itu) mengambil jalan (lain) di antara yang demikian (iman atau kafir), merekalah orang-orang yang kafir sebenar-benarnya. (TQS An-Nisa 150-151). Allahu a’lam. (rf/voa-islam.com)

ILustrasi: Google


latestnews

View Full Version