View Full Version
Selasa, 20 Jan 2026

Kemana Surya Paloh?

(Sebuah Gugatan dari Tanah Rencong yang Tenggelam)

Langit Serambi sedang runtuh, Tuan.

Bukan oleh peluru, bukan oleh dentum meriam,

Melainkan oleh air bah yang menelan nisan-nisan,

Menenggelamkan sejarah, menyisakan kelam.

Darah itu... bukankah darahmu juga?

Yang mengalir dari hulu Seulawah hingga ke muara.

Katanya kau anak kandung tanah rencong yang perkasa,

Pemilik suara menggelegar yang biasa membelah angkasa.

Tapi hari ini, saat ibumu-Aceh- tergapai-gapai,

Saat lumpur menutup atap dan dingin menusuk sampai ke tulang,

Di mana "Restorasi" yang lantang kau gadai?

Di mana auman brewok yang biasa garang menantang?

Apakah panggung Jakarta terlalu silau cahayanya?

Hingga gelap di kampung halaman tak lagi terbaca mata.

Apakah hangatnya koalisi meninabobokan rasa?

Hingga tangis saudaramu dianggap angin lalu belaka.

Kami tidak minta kau mengeringkan samudra dengan tanganmu,

Kami hanya bertanya: Ke mana wajah itu?

Ke mana langkah kaki yang katanya rindu pulang?

Saat Aceh tenggelam, sang putra justru menghilang.

Tuan,

Tanah ini sedang tidak butuh pidato berapi-api.

la hanya rindu anaknya yang peduli, yang sudi berbagi hati.

Jangan sampai sejarah mencatat dengan tinta kelabu:

Bahwa kau ada saat panen suara, tapi gaib saat kami disapu debu. [PurWD/voa-islam.com)

Sumber: FB Azmuni-bodrex Wilder


latestnews

View Full Version