View Full Version
Jum'at, 18 May 2012

Di Mana Bisa Berlindung Dari Maksiat di Jakarta?

Di mana bisa berlindung dari pengaruh maksiat? Di mana bisa selamat dari maksiat? Di mana bisa menjauhi maksiat? Di mana bisa terjaga dari maksiat? Mungkin tidak ada lagi tempat di Jakarta yang dapat menyelamatkan diri dari pengaruh maksiat.

Setiap sudut dan pelosok Jakarta, tak ada tempat tanpa maksiat. Semua sudut di  Jakarta sudah terkena pengaruh maksiat. Maksiat sudah menjadi budaya, dan bahkan sudah menjadi kebutuhan. Seperti makan dan minum. Maksiat menjadi aktifitas kehidupan sehari-hari. Tanpa lagi rasa malu.

Maksiat menjadi sumber kehidupan, dan menjadi aktitifas mendapatkan uang. Banyak keluarga yang menggantugkan kehidupannya dari aktifitas maksiat. Aktifitas maksiat dipandang sebagai aktifitas yang halal. Tidak mengenal lagi maksiat sebagai  perbuatan yang salah. Apalagi berpikir maksiat itu sebuah dosa dan melanggar agama.

Sepanjang jalan yang kita lalui di Jakarta, pasti akan menemui aktifitas maksiat. Tidak ada yang tidak bersentuhan dengan hal-hal yang berkaitan dengan maksiat. Di Jakarta masyarakat sudah berkompromi dengan maksiat. Di Jakarta masyarakat sudah toleran dengan maksiat.

Mall, gedung, hotel, losmen, panti pijat, karaoke, tempat hiburan, warung-warung di pinggir jalan, dan sejumlah sarana lainnya, semuanya menjadi tempat berlangsungnya maksiat. Di tempat-tempar warnet,  sekarang menjadi tempat baru, berlangsungnya tempat maksiat. Di angkutan pun  berlangsung maksiat. Sudah sering terjadi pemerkosaan di angkot.

Di situ semua berlangsung aktifitas maksiat. Tidak ada yang tidak bersentuhan dengan maksiat. Itulah kehidupan kota Jakarta, yang semakin jauh dari nilai-nilai Islam. Di Masjid  sekalipun tidak bisa terbebas dari aktifitas maksiat?

Di sepanjang jalan di Jakarta, tak luput menjadi tempat aktifitas maksiat. Di By Pass, Latuharhary, Sepanjang jalan Pelabuhan Tanjung Priok, Hayam Muruk, Gajah Mada, Prumpung, Senen, dan sejumlah tempat lainnya, merupakan pusat-pusat kegiatan maksiat.

Pelacur, banci, pengguna narkoba, dan peminum, ada di mana-mana. Jumlah mereka terus bertambah. Bukan lagi berkurang. Bahkan tari-tarian telanjang, sudah menjadi kesukaan, berlangsung di tempat-tempat hiburan. Sebuah aktifitas yang sangat ekstrim. Terus melanda kehidupan Jakarta.

Semuanya kehidupan yang sangat tak layak itu, pernah ditulis seorang mahasiswa IAIN dalam sebuah buku  yang berjudul “Jakarta Undercover”, yang menceritakan begitu  bejatnya kehidupan malam Jakarta. Tak ada lagi tempat yang tersisa, tanpa disentuh oleh maksiat. Kerusakan begitu menyeluruh.

Tak bisa berbangga dengan keberhasilan “pressure” (tekanan) Ormas Islam, yang akhirnya mendorong fihak aparat kepolisian membatalkan konser Lady GaGa, yang berasal dari Amerika. Tetapi, yang membeli tiket konser Lady GaGa itu, jumlahnya tidak sedikit, hampir mencapai lebih 200.000 anak muda. Begitu besar jumlah anak-anak muda yang menggemari maksiat.

Lihat setiap akhir pekan. Di mall, hotel, tempat rekreasi, di Jakarta seperti Ancol, yang menjadi pusat ajang aktifitas maksiat. Setiap akhir pekan  di mall, hotel, dan tempat rekreasi selalu berlangsung konser musik, yang diikuti ribuan anak muda.

Tak jarang anak-anak muda yang menggunakan jilbab, ikut larut dalam konser musik. Mereka larut dalam aktifitas konser yang massal itu. Kehidupan maksiat terus tumbuh dalam kehidupan. Kalangan menengah di Jakarta, seringkali aktifitas maksiat menjadi sebuah “rekreasi” akhir pekan.

Aktifitas maksiat seperti air bah, yang sudah tidak dapat dibendung. Oleh siapapun. Aktifitas maksiat menggulung masyarakat yang awam atau yang terdidik. Aktifitas maksiat ini mendapat dorongan yang kuat oleh media. Media massa terus mendobrak kehidupan masyarakat, yang masih malu dengan maksiat, kemudian mereka meninggalkan rasa malunya, dan ikut dalam belantara maksiat.

Sementara  itu, aktifitas keagamaan semakin kering, dan tidak lagi diminati oleh masyarakat, dan kalangan muda di Jakarata. Apalagi, sesudah masyarakat terus disuguhi dengan isu terorisme, sekarang sekolah dan kampus diawasi dengan sangat ketat aktifitas mereka. Kemudian dampaknya aktifitas Rohis di sekolah dan kampus semakin menurun, dan akhirnya siswa sekolah dan mahasiswa di kampus memilih beraktifitas yang bersentuhan dengan maksiat.

Belum lama  ini diputar di bioskop-bioskop di Jakarta, film : “Lovely Man”, yang mengisahkan seorang ayah, yang meninggalkan anak-isterinya, dan pergi ke  Jakarta, dan menjadi seorang banci, dan pekerjaannya sebagai banci itu, digunakan menghidupi anak-isterinya di kampung. Sementara itu, anaknya sekolah di pesantren. Sungguh walaupun film ini sebuah fiksi, mungkin ini kehidupan sesungguhnya yang ada di Jakarta.

Menjadi banci saja sudah merupakan perbuatan terkutuk, tetapi menjadi banci sebagai sebuah pekerjaan, dan hasilnya untuk menghidupi anak-isterinya yang ada dikampung. “Saya tidak pernah sekalipun tidak mengirimkan uang kepada ibumu setiap bulan”, ujar Ipul kepada anaknya Cahaya, yang menggunakan jilbab itu.

Sangat rancu dan serba paradok kehidupan di Jakarta sekarang ini. Paradok dalam kehidupan. Karena tidak seorang pun sekarang  yang dapat menjadi panutan secara utuh. Secara akhlak dan moral.

Belakangan masyarakat dikejutkan ramainya pemberitaan seorang habib yang melakukan praktek “homo” yang memimpin sebuah majelis taklim terkemuka di Jakarta, seperti dituturkan oleh media di Jakarta.

Lantas  mau apa kita? Membiarkan kemaksiatan dan segala bentuk penyimpangan? Berdamai dengan kemaksiatan?

Misi kehidupan manusia, terutama sebagai seorang mukmin, menegakkan amar-ma’ruf dan nahi munkar. Banyak masyarakat yang melakukan amar-ma’ruf, tetapi hanya sangat sedikit yang melakukan nahi munkar.

Kebaikan yang dilakukan orang-orang mukmin itu, habis digerogoti oleh kemunkaran, yang semakin menggurita dalam kehidupan ini. Sampai kemunkaran mendominasi kehidupan mereka.

Apalagi kalau pemerintahan di DKI, tidak lagi mempersoalkan tentang kemaksiatan yang ada. Karena kemaksiatan mendatangkan uang, yang bisa memperbesar  penerimaan PAD (Pendapatan Asli Daerah). PAD di Jakarta sekarang ini  lebih dari  Rp 40 triliun rupiah, belum lagi termasuk anggaran dari pusat.

Pernah Gubernur DKI Jakarta, Ali Sadikin, yang waktu itu menggalakkan perjudian, dan mendapatkan kritikan dari tokoh Islam, dan menolak perjudian, Ali Sadikin dengan sangat tandas, mengatakan, “Siapa yang menolak  perjudian, jangan lewat diatas jalan yang dibangun dari  hasil  judi”, ucapnya. Sekarang betapa banyaknya sumber pendapatan yang berasal dari maksiat.

Apa yang  harus  kita lakukan dengan kehidupan Jakarta ini? Cukupkah hanya dengan mengatasi banjir, kemacetan, dan kemiskinan yang menghempa penduduk Jakarta ini? Sejak dulu sampai sekarang semua gubernur di DKI, selalu yang menjadi topik pembicaraan hanyalah soal kemacetan, banjir, dan kemiskinan.

Sesungguhnya, yang menjadi ancaman masyarakat di Jakarta, tak lain semakin tumbuhnya kemaksiatan, yang sudah tidak lagi dapat dikontrol, dan masyarakat bersikap toleran  dengan kemaksiatan. Inilah yang akan menghancurkan kehidupan mereka. Wallahu’alam.


latestnews

View Full Version