View Full Version
Rabu, 18 Jul 2012

Mari Menjadi Golongan Putih Alias Golput

Jakarta (voa-islam.com) Hakikatnya puasa (shaum) adalah bentuk penghambaan seseorang secara totalitas kepada Allah Azza Wa Jalla.

Puasa sebuah ibadah yang bersifat pribadi, yang mencakup hubungan seorang hamba dengan Rabbnya semata.Orang lain tidak tahu.

Apakah seseorang itu puasa atau tidak. Mungkin bisa saja seorang secara zahir nampak berpuasa, tetapi ternyata sejatinya ia tidak berpuasa.

Tetapi, di dalam Islam, beribadah atau menyembah Allah Rabbul Alamin, tidaklah terbatas pada mentaati sejumlah bentuk pemujaan (ibadah), seperti melaksanakan shalat wajib atau berpuasa. Sebaliknya, bagi seseorang yang menjadi hamba Allah Rabbu Alamin, mencakup seluruh aspek kehidupan. Tidak ada dalam kehidupan ini, yang tidak dilepaskan atau dibebaskan dari beribadah kepada Allah Rabbu Alamin.

Firman-Nya :

"Aku tidak menciptakna jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku". (QS : Az-Zariyat : 56).

Begitulah. Bagi seorang mukmin yang sempurna imannya, adalah seseorang yang mengabdikan seluruh hidupnya hanyalah melayani Allah Azza Wa Jalla.  Tidak yang lain. Tidak kepada ilah-ilah, selain Allah Azza Wa Jalla.

Ia hidup hanya untuk Allah, bekerja hanya untuk Allah, dan mengabdikan seluruh denyut jantungnya, daya upayanya demi Allah semata. Allah menjadi tujuan dan seluruh orientasi hidupnya. Allah Azza Wa Jalla, benar-benar menjadi ghoyah (tujuan) akhir hidupnya. Kebahagiaan dan kesedihan hidupnya tak dipisahkan dengan tujuan hidupnya, yatiu mengabdi kepada Allah Azza Wa Jalla.Ia benar-benar menyadari bahwa dunia ini bukan sesuatu yang penting,  melainkan tempat cobaan.

Karena itu, seseorang yang mengabdikan hidupnya hanya kepada Allah Azza Wa Jalla, tak pernah hendak lupa, tentang hakikatnya dan tujuan hidupnya. Ketika saat bahagia, tak pernah lupa bersyukur, dan ketika menderita tetap bersabar, dan selalu berkhusnudzhon kepada Rabbnya, dan tidak mengingkarinya. Kehidupan yang dijalaninya selalu dalam rangka ketaatan, ketundukan, dan ketaqwaannya kepada Allah Azza Wa Jalla.

"Hai manusia! Sesungguhnya janji Allah adalah benar. Maka, sekali-kali janganlah kehidupan dunia memperdaya kamu dan sekali-kali janganlah orang yang pandai menipu memperdayakan kamu tentang Allah". (QS : Fatir :5)

Memang, perjuangan melawan hawa nafsu adalah pertempuran yang terbesar bagi seorang Muslim. Betapa banyak Muslim yang jatuh tersungkur, karena kalah melawan hawa nafsunya. Hidupnya menjadi hina dina. Nafsunya mengalahkan tujuan hidupnya, yaitu mengabdi kepada Rabbu Alamin.

Jika ingin menjadi manusia mulia di dunia dan di akhirat, seorang Muslim harus membatasi keinginannya, yang mana dapat diterima dan mana yang tidak dapat diterima. Jangan sampai menjadi hamba "buthun" (perut) dan "farj" (kemaluan).

Manusia-manusia yang hina dina, ialah manusia yang dikalahkan oleh keinginan syahwat "buthun" dan "farj"nya. Seluruh hidupnya hanya diarahkan dan diorientasikan kepada pemenuhan kebutuhan "buthun" dan "farj", yang kemudian mengubah hidupnya secara total, yang menyebabkannya jatuh menjadi binatang ternak, dan lebih hina dibandingkan dengan binatang ternak.

Kemuliaan seorang Muslim, manakala ia berhasil mengalahkan seluruh dorongan dan keinginan nafsunyanya, yang merupakan bentuk nafsu dari "buthun" dan "farj"nya.

Manusia harus melawan dengan segala kekuatan yang dimiliki menghadapi dorongan nafsu jiwanya, seperti keegosian, irihati, sombong, tamak dan serakah. Menghapuskan kecenderungan dan keinginan yang buruk itu, sebuah perjuangan sangat berat, dan bagi yang memenangkannya akan mendapatkan kemuliaan.

Jiwa kita mempunyai kecenderungan untuk menyenangi hasrat dan keinginan yang sia-sia. Iblis akan selalu membisikkan ke telinga kita, bahwa kita akan merasa puas, ketika kita memperoleh harta, kekayaan, pangkat, dan kekuasaan.

Itulah kehendak jahat yang selalu dibisikan oleh iblis ke telinga Muslim. Banyak yang tidak dapat melawan bisikan itu, dan kemudian terbawa oleh  bisikan iblis, dan kemudian berlaku dan berbuat sesuai dengan bisikan iblis.

Sejatinya, semua kesenangan itu, tak ada yang akan pernah memuaskan orang-orang yang beriman dalam arti yang sebenarnya. Semakin memiliki banyak harta, kekayaan, pangkat dan tinggi jabatan, dan tidak akan pernah dapat memuaskannya. Terus ada dorongan keinginan memiliki yang lebih banyak lagi, harta, kekayaan, dan kekuasaan. Itulah tabiat manusia.

Karena itu, Allah Azza Wa Jalla memerintahkan melaksanakan puasa (shaum), sebagai sarana (wasilah), menghentikan segala ketamakan, keserakahan, dan berbagai bentuk keinginan, yang tak pernah kunjung usai itu.

Tujuan puasa, sejatinya mengembalikan manusia kepada fitrahnya, sebagai orang-orang Mukmin, yang bertaqwa, mengabdikan hidupnya hanya kepada Allah Azza Wa Jalla. Tidak lagi kepada keinginan-keinginan dan kehendak duniawi.

Firman-Nya :

"Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu  berpuasa, sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa". (QS : al-Baqarah : 183).

Jika puasa itu dilaksanakan benar, maka implikasinya akan menghentikan seluruh kehendak manusia, yang bersumber dari syahwat "buthun" dan "farj". Sepanjang sejarah kehidupan manusia, kerusakan yang terjadi, akibat dari persoalan "buthun" dan "farj".

Semua peristiwa besar dalam sejarah kemanusiaan, yang terjadi sumbernya hanyalah berasal dari "buthun" dan "farj". Manusia yang memiliki harta banyak, pasti akan menikmati kehidupannya dengan memanjakan "buthun" dengan hidangan yang lezat, dan memanjakan "farj" dengan banyak melakukan perbuatan faqisah.

Orang-orang yang sudah menghamba kepada "buthun" dan "farj"nya, tak pernah merasakan kenikmatan dan kepuasan. Sekalipun sudah segala bentuk kenikmatan makanan dan perempuan didapatkannya, tetapi tetap tak pernah merasakan kepuasan.

Jiwanya akan terus gelisah. Jiwanya tak pernah merasa tenang. Takut kehilangan harta, kekayaan, pangkat, dan jabatan yang tinggi. Karena hanya dengan harta, kekayaan, pangkat, dan jabatan yang tinggi itu, mereka merasa dapat memuaskan segala kehendak nafsunya yang bersumber dari "buthun" dan "farj".

Sesungguhnya, jiwa kita akan  merasa puas, jika menyerahkan diri kita sepenuhnya hanya kepada Allah Azza Wa Jalla. Tidak kepada keinginan dan kehendak nafsu  yang rendah. Manusia diciptakan hanya untuk menyembah kepada Allah Rabbu Alamin.

Firman-Nya :

" .. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allahlah hati kita menjadi tenteram". (QS : Ar-Ra'd : 28)

Tidak ada lagi yang dapat memberikan ketenangan dan kepuasan pada diri setiap Mulsim, selain mengorientasikan seluruh hidupnya hanya kepada Rabbul Alamin. Berbakti kepada-Nya. Menyembah hanya kepada-Nya. Taat hanya kepada-Nya. Mencintai hanya kepada-Nya.

Lihatlah manusia-manusia dan orang-orang yang berlari-lari kesana-kemari, hanya mengejar kenikmatan dunia, berupa harta, kekayaan, pangkat, dan jabatan yang tinggi, ujungnya mereka jatuh tersungkur ke lembah kehinaan, dan tidak mendapatkan kemuliaan di dunia dan akhirat. Menjadi manusia yang sangat hina-dina disisi-Nya. Semua kehidupan yang hina itu, bukanlah menjadi tujuan Muslim.

Setiap Muslim sudah menyatakan bai'atnya, setiap hari, saat melaksanakan shalat dengan mengucapkan : "Innas shalati wa nusuki, wa makhyaya, wa mamati, lillahir rabbil alamin". Itulah pernyataan seorang hamba kepada Rabbnya, setiap saat,  ketika menjalankan ibadah shalat. Maka, janganlah menyelisihi dengan apa yang sudah diucapkan yang merupakan bentuk bai'at kepada Rabbul Alamin.

Marilah kaum Muslimin menjadi "Golongan Putih" (Golput), yang terus- menerus mensucikan dari segala dosa besar dan kecil. Jauhilah yang dapat menjerumuskan diri kedalam dosa besar. Syirik.

Mengimani seluruh atau sebagian dari sistem dan nilai-nilai kufur, berarti kita telah melakukan syirik, dan melakukan pengkhianatan kepada Rabbul Alamin.

Janganlah keutamaan dan kebaikan yang  merupakan anugerah dari Allah Rabbul Alamin, kemudian kita tukar dengan kehidupan dunia, berupa harta, kekayaan, pangkat, dan jabatan tinggi. Semuanya akan musnah ditelan oleh waktu. Tidak akan kekal. Hanya Allah Rabbul Alamin yang kekal dan abadi.

Kemuliaan di dunia berupa harta, kekayaan, harta pangkat, dan jabatan tinggi, tidak menyebabkan manusia dihadapan Rabbnya menjadi mulia. Kalau manusia, menjadikan semua kenikmatan sebagai ilah selain Allah Azza Wa Jalla.

Tuntaskan hidup ini sebagai bagian perjuangan hidup melawan keinginan dan kehendak yang rendah. Kemilau dunia yang penuh dengan gemerlap, jangan membuat kita silau.

Saatnya kita semua berjuang, terutama Muslim, menegakkan hidup dengan obsesi menjadi "Golongan Putih" (Golput),  yang bersih, dan hidup sebening kaca. Jangan hidup kita, yang sangat pendek ini, kita kotori dengan kotoran-kotoran yang sangat menjijikan, berupa kenikmatan dunia.

Di mana kenikmatan dunia itu, hanya akan memalingkan kecintaan, ketaatan, dan ketundukkan terhadap Allah Rabbul Alamin, serta membuat Allah Rabbul Alamin tidak ridha terhadap kita.

Di bulan Ramadhan ini, kita ubah seluruh  hidup kita, dan di bulan Ramadhan ini, bermula kembali hidup kita menjadi "Golongan Putih", yang akan membuat Muslim di Indonesia mulia.

Kemuliaan dengan ketaqwaan, serta keimanan, tidak lagi bertalbis dengan kebathilan dan kekufuran, yang merusak sendi-sendi kehidupan kita.  Wallahu'alam.


latestnews

View Full Version