View Full Version
Senin, 12 Nov 2012

Barack Obama, Demokrasi, dan Kehancuran

Jakarta (voa-islam.com) Presiden Barack Obama adalah orang kulit hitam pertama dalam sejarah Amerika Serikat yang berhasil menduduki jabatan di Gedung Putih dua kali. Obama mengalahkan Gubernur Negara Bagian Massachusetts Mitt Romney, yang sangat konservatif.

Selama empat tahun pemerintahannya, Obama tak berhasil mengangkat ekonomi Amerika Serikat yang sudah terjatuh di jurang krisis, akibat di dera resesi yang sangat akut. Selama empat tahun pemerintahannya, Obama gagal mengatasi ekonomi Amerika Serikat, dan tetap stagnan. Pertumbuhan ekonomi tetap minus, dan angka pengangguran tetap bertahan diangka 8,5 persen.

Obama berusaha terus menjembatani kepentingan kelompok mayoritas di Amerika yang jumlahnya 99 persen, yang merupakan kelompok kelas menengah, dan merupakan kaum buruh atau pekerja, melawan para pemilik modal yang jumlahnya hanya 1 persen.

Dengan berbagai undang-undang baru, dan diperjuangkan dengan sangat susah payah. Karena Kongres Amerika Serikat mayoritas di kuasai Republik, yang terus menolak setiap langkah kebijakan yang ingin mereduksi kaum kapitalis atau orang kaya Amerika Serikat.

Pemilu Amerika Serikat merupakan pertarungan antara kelompok sayap kanan yang ekstrim diwakili Partai Republik dan kalangan kiri diwakili oleh Partai Demokrat, yang lebih humanis dalam pendekatan politiknya.

Sebagai politisi yang berideologi humanis, bahkan kalangan konservatif, menuduh Obama sebagai komunis, prestasi yang paling besar dicapai oleh Obama selama empat pemerintahannya, menggolkan undang-undang Affordable Care Act, Undang-undang Perawatan bagi Semua, program asuransi nasional.

Maka, tahun 2010, kalangan sayap kanan radikal dalam Partai Republik yang menjuluki undang-undang itu sebagai Obamacare, dan berusaha ingin menjatuhkan Partai Demokrat dalam pemilihan dewan.

Tentu yang akan menjadi ancaman masa depan Amerika Serikat, bukan teroris atau jaringan al-Qaidah, tetapi yang akan menjadi ancaman bagi masa depan bangsa Amerika, tak lain jalan hidup rakyat Amerika Serikat itu sendiri, dan dengan ideologi yang sangat humanis dan sekuler. Ideologi itulah yang berpotensi menjadi ancaman masa depan bangsa Amerika Serikat.

Presiden Barack Obama yang berpikiran dan berideologi humanisme kiri, akhirnya meloloskan aspirasi kalangan LGBT (lesbian, gay, biseksual, dan transjender). Obama mendukung perkawinan antar jenis. Hak sipil gay dan lesbian untuk kawin mendapat dukungan Barack Obama dalam konvensi Partai Demokrat, di bulan September lalu. Diskriminasi dikalangan tentara diakhri di tahun 2011.

Suatu kecenderungan yang semakin kuat, tentang kesetaraan dikalangan LGBT itu terus berlanjut. Sekurang-kurangnya tiga negara bagian yang meluluskan resolusi-resolusi yang mengesahkan kesetaraan perkawinan. Artinya, legalisasi perkawinan antar jenis, sekarang di Amerika Serikat sudah menjadi keniscayaan. Pastur, pendeta, dan rabbi tidak lagi menutup pintu bagi perkawinan sejenis.

Kalangan pelaku LGBT termasuk yang memberikan suara yang signifikan bagi kemenangan Obama. Sebuah transformasi yang sangat luar biasa dalam kehidupan rakyat Amerika Serikat terus berlangsung. Ini adalah produk budaya yang bebas dari demokrasi.

Hal ini akan membawa dampak bagi masa depan Amerika Serikat. Termasuk struktur penduduk (demografi), yang sekarang terus berubah. Di mana golongan kulit putih, secara demografis terus menyusut, dan sebaliknya kalangan kelompok berwarna semakin meningkat.

Budaya sekuler yang berbasis humanis kiri, dan mencapai momentumnya pada Barack Obama, yang menang dalam pemilu presiden di Amerika Serikat, pasti akan mempunyai dampak yang serius bagi masa depan negara Paman Sam itu.

Tentu, ideologi demokrasi, kapitalisme, dan kebebasan yang ada di Amerika Serikat, selanjutnya akan menjadi satu ancaman di dunia Muslim. Tak sedikit kalangan Muslim di dunia Islam, yang sangat antusias dan bersimpati dengan proses demokrasi di Amerika Serikat, dan dengan tokohnya Barack Obama, yang banyak menginspirasi itu.

Sejatinya tidak ada yang namanya "equality" (kesataraan) yang sejati di negara kapitalis,seperti Amerika Serikat. Sebab hakikatnya demokrasi dan kapitalisme itu, yang menciptakan kebebasan, bersifat menindas. Kekuatan-kekuatan yang menguasai jaringan ekonomi, keuangan, dan pemilik modal, selamanya akan terus melakukan perbudakan kepada kaum tertindas, para kelas pekerja dan buruh.

Gerakan para pekerja dan buruh, yang pernah menduduki Wall Street di New York, dan merupakan mayoritas 99 persen dari rakyat Amerika, mereka menghadapi kekuasaan yang hanya berjumlah 1 persen, yang menguasai pusat keuangan global di Wall Streets. Partai politik di manapun, termasuk di Amerika Serikat, yang menjadi kampiunnya demokrasi, tetap sebuah oligarksi.

Oligarksi adalah sekelompok elite partai yang berkuasa, dan menentukan negara dan kekuasaan. Bukan wakil rakyat di kongres atau senat. Kongres dan Senat hanyalah tempat melegalkan bagi kepentingan para kuasa dan pemilik modal.

Maka, penindasan yang menggunakan legitimasi demokrasi, pemilihan, dan parlemen itu, sekarang menjadi sebuah ideologi di Barat,  yang terus dipasarkan dan menjadi kredo kehidupan masyarakat dunia.

Akhirnya demokrasi mengancam kehidupan mereka sendiri. Kapitalisme selamanya yang menjadi kredo, "free fight", dan siapa kuat itulah yang menang, dan yang akan menguasai. Bukan yang berkuasa di Gedung Putih, tetapi yang menguasai Wall Streets. Mereka itu adalah para kapitalis yang memiliki modal, dan tak lain Yahudi. Wallahu'alam.

 

 

 


latestnews

View Full Version