View Full Version
Senin, 14 Jan 2013

Apakah Rakyat Masih Mempunyai Syahwat Terhadap Partai Politik?

Jakarta (voa-islam.com) Apakah rakyat masih mempunyai nafsu syahwat dengan partai politik? Selama reformasi rakyat disuguhi drama yang sangat memuakkan oleh partai politik. Drama yang sangat penuh dengan "dusta" dengan telanjang telah dipertontonkan oleh pemimpin partai politik, dan tidak adanya komitmen yang serius terhadap kehidupan rakyat.

Rakyat hanya dimanipulasi dan dibodohi oleh para pemimpin partai. Mereka memberikan dukungan kepada pemerintahan SBY dalam bentuk "check kosong", dan Presiden SBY bisa menulis dengan sesuka hatinya. Ini akibat perselingkuhan politik antara para pemimpin partai dengan Presiden sBY yang dibungkus dengan kata : "Koalisi".

Di Indonesia yang ada hanya demokrasi palsu, tidak adanya sistem check and balances (kontrol). Di mana pemerintah dapat melenggang dalam melakukan kebijakan tanpa adanya kontrol dari partai-partai yang duduk di parlemen.

Partai politik yang memiliki kader di parlemen hanya menjadi stempel, dan hanya dapat mengatakan kata "yes", dan tidak pernah mengatakan kata "no" alias tidak terhadap pemerintah. Semua bisa berlangsung, karena para pemimpin partai politik, mendapatkan jatah di pemerintahan, dan duduk sebagai  menteri.

Selama satu dekade ini, rakyat hanya disuguhi tontonan yang sangat absurd (jorok), di mana praktek-praktek korupsi sudah melibatkan seluruh pemimpin partai politik. Tanpa malu.

Di mulut mereka semua mengatakan "tidak" kepada praktek korupsi, tetapi mereka melakukan praktek-praktek korup yang sangat merugikan negara. APBN telah menjadi ajang korupsi antara ekskutif dan legislatif, terutama mereka yang duduk di Badang Anggaran (Banggar). Praktek korupsi sekarang dilegalisir, dan semua itu dapat berlangsung, karena DPR mempunyai hak budget, yang diatur oleh undang-undang.

Sesudah itu, partai menjadi oligarki yang sangat memuakkan, dan tidak dapat menumbuhkan kepemimpin baru alias regenerasi di dalam tubuh partai partai politik. Semua sama.

Misalnya, PDIP dari dulu zaman "bahuela" (zaman kuno), sampai sekarang ketua umumnya, masih tetap Megawati. Apalagi Megawati juga masih bernafsu mencalonkan diri sebagai calon presiden di 2014.

Golkar sama.Tidak ada regenerasi. Aburizal Bakrie, tak mau mundur, dan masih bernafsu mencalonkan diri sebagai calon presiden di tahun 2014. Nasdem, partai yang lolos di verifikasi KPU, hanya akan menjadi kendaraan politik Surya Paloh. Surya Paloh yang kalah dalam memperebutkan Ketua Golkar, di Pekanbaru, kemudian mendirikan Nasdem.

Demokrat, kebingungan, dan partai ini nyaris karam, akibat terkena tsunami politik, di mana semua elite utamanya terjerumus ke dalam kubangan korupsi. Tak ada yang dapat menyelamatkan Demokrat yang sekarang ibarat kapal, sudah oleng.

Badai yang menghantam begitu dahsyat, badai korupsi yang sistemik. Sebagai "The rulling partai " (partai berkuasa), justeru menjadi contoh yang palng buruk, khususnya dalam usaha mewujudkan good governance (pemerintahan yang baik). Partai Demokrat telah mempertontonkan politik yang sangat absurd, dan tidak memiliki argumen dan landasan moralitas, benar-benar menjadi Machiavelis.

Coba lihat sekarang ini, secara faktual, partai-partai politik mengalami pembusukan dari dalam, karena korupsi, dan pemimpin mengidap penyakit yang akut yaitu dekadensi moral. Partai-partai politik mengahadapi kebangkrutan moral. Rata-rata mereka menjadi tauladan yang sangat buruk, khususnya dalam perilaku mereka, bukan hanya dibidang politik, dan tetapi dalam kehidupan sehari-hari.

Anehnya, ketika mereka sedang mengundi nomor urut, mereka masing-masing membuat tafsiran, dan cenderung dengan penuh kepercayaan dan klenik, alias "otak-atik gatuk". Seperti Ketua Umum Partai Demokrat, Anas Urbaningrum mengaku tidak memusingkan nomor urut yang diperoleh dalam pengundian di Komisi Pemilihan Umum (KPU).

"Partai demokrat bersyukur hari ini dapat nomor tujuh. Ini undian nomor urut, bukan undian buntut, dan bukan klenik. Karena itu angka tujuh, angka yang kami syukuri," ujarnya di kantor KPU, Jalan Imam Bonjol, Jakarta Pusat, Senin (14/1/2013).

Menurutnya, setiap nomor itu memiliki berkah tersendiri bagi partai politik tersebut. Bahkan dengan nomor tujuh itu diyakini akan membawa Partai Demokrat menjadi sebuah partai yang besar di 2014.

"Kami yakin angka itu penuh berkah dan membawa demokrat pada tujuan sebagai parpol yang semakin bsar berkontribusi dan berperan bagi bangsa," jelasnya.

Ketika disinggung nomor sembilan yang selalu identik dengan Ketua Dewan Pembina Partai Demokrat, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), Anas mengaku tak menjadikan nomor urut tersebut masalah. Sebab setiap Pemilu diyakini membawa keberuntungan bagi Partai Demokrat.

"Nomor 9 itu keberungan tahun 2004. 31 keberuntugan th 2009, 7 keberuntugan th 2014. Jadi artinya tiap pemilu partai Demokrat Insya Allah beruntung terus. Mengapa beruntung, karena Insya Allah dipercaya dan dipilih oleh rakyat," tandasnya.

Sementara itu, Sekjen PKS, Anis Matta, yang sudah "lumutan" menjadi Sekjen PKS itu, sangat bahagia dengan nomor urutan PKS di nomor 3. Anis yakin partainya akan menjadi kekuatan politik tiga besar.

Anis Matta sangat yakin rakyat Indonesa akan memilih partai yang sudah berubah "kelamin" dari partai dakwah sekarang menjadi partai "terbuka".

Tidak lagi peduli dengan prinsip-prinsip Islam, tetapi yang penting dapat suara banyak, dan itulah yang akan menjadi ukuran kemenangan. Karena itu, Anis Matta sangat obsesif ingin menjadikan PKS menjadi tiga besar.

Entahlah. Apakah rakyat masih mempunyai syahwat terhadap partai politik, yang selama satu dekade ini, sudah menyuguhi rakyat dengan adegan yang sangat jorok memuakkan dan tidak adanya komitmen yang jelas terhadap nasib rakyat.

Mereka itu hanya menjadi penghisap darah rakyat, dan justeru membuat rakyat semakin menderita, dan gagal memperjuangkan nasib rakyat. Seperti sekarang rakyat dihimpit dengan berbagai kenaikan harga. Rakyat tambah melarat. Wallahu'alam.

Share this post..

latestnews

View Full Version