View Full Version
Rabu, 06 Feb 2013

Yang Atas Mati Kekenyangan, Yang Bawah Mati Kelaparan

Jakarta (voa-islam.com) Nasib antara yang diatas dengan yang dibawah selalu berbeda. Nasib antara atasan dengan bawahan pasti berbeda. Nasib antara yang memerintah dengan yang diperintah berbeda. Nasib antara  pemimpin dengan yang dipimpin berbeda.

Perbedaannya seperti antara langit dengan bumi. Namun, layakkah bila itu terjadi diantara Organisasi atau Gerakan Islam?

Sekarang terjadi sebuah paradok yang sangat menyedihkan. Ada jurang perbedaan yang sangat  dalam. Antara kehidupan para pemimpin dengan yang dipimpin. Perlakuan dan penghormatannya juga berbeda.

Mereka yang menjadi pemimpin dihormati, ditaati, dipatuhi, serta mendapatkan berbagai privelege (keistimewaan). Sementara itu, nasib yang dibawah, para pengikut ibaratnya hanyalah sampah tak berharga.

Bagi para pengikut dan lapisan bawah, tak ada penghargaan, tak ada empati, tak ada perhatian, dan mereka hanyalah menjadi "keset" bagi para pemimpin.

Mereka yang dibawah seperti kuli "panggul", harus siap setiap saat sanggup dan kuat memanggul para pemimpin, demi kemuliaan mereka. Betapapun sangat berat. Para pengikut tidak boleh mengeluh sedikitpun. Mereka harus tetap taat, tidak boleh menolak, dan harus tetap percaya (tsiqoh).

Demi kemuliaan para pemimpin, para pengikut harus sanggup melakukan apa saja yang dititahkan oleh para pemimpin. Mereka yang dibawah didera dengan perintah kesanggupan berkorban (tadhiyah). Semakin memiliki kesanggupan berkorban, maka mereka yang berada di lapisan bawah itu, membuat para pemimpin semakin merasa ditaati.

Para pemimpin tidak pernah tahu, bagaimana kehidupan mereka yang berada di bawah. Mereka yang dibawah dibiarkan dengan kehidupannya sendiri. Mereka tidak pernah mendapatkan perhatian secara khusus, dan hanya sekadar empati "palsu", berupa uang lelah, bagi mereka yang sudah berjuang dengan segala pengorbanan dan tetesan. Itulah yang dialami para anggota yang hidup dibawah.

Parade kehidupan paradok itu dipertontonkan dengan telanjang. Tak malu lagi. Semuanya seperti sebuah kemestian bagi pemimpin. Pemimpin selalu benar. Tidak pernah salah. Pemimpin memiliki hak prerogatif. Pemimpin memiliki keputusan yang selalu benar.

Seakan  para pemimpin sebagai sosok yang maksum (suci). Para pengikut tidak boleh bertanya. Para pengikut tidak boleh mempersoalkan asal-usul harta dan kekayaan para pemimpin. Dari mana harta kekayaan dan kemana dibelanjakan harta kekayaan mereka. Hatta digunakan membeli sebuah ferari, para pengikut dan anggota tidak masygul. Karena itu, menjadi privelege para pemimpin.

Dalam keadaan apapun, para anggota atau pengikut harus tetap loyal, tidak boleh membangkang, dan menyelisihi yang menjadi kehendak para pemimpin. Titah para pemimpin sudah mirip al-Qur'an, yang harus dilaksanakan dengan patuh. Setiap pelanggaran perintah berarti telah berbuat dosa. Karena melanggar perintah dan titah pemimpin, sama dengan menentang Al-Qur'an atau Sunnah.

Para pemimpin itu, digambarkan sebagai para tokoh yang utuh, tidak cacad, tidak pernah salah, tidak berbuat yang melanggar aturan hukum dan moral,  tidak berbuat dosa, serta selalu berada dalam posisi yang benar. Tidak berhak anggota atau pengikut mengkritisi, apalagi melakukan tuduhan, dan mematai-matai apa yang dilakukan para pemimpin.

Para pemimpin dianggap maksum, dan para anggota harus selalu menyakini bahwa para pemimpin sebagai tokoh yang maksum, dan diciptakan sebuah kondisi yang memaksa para pengikut dan anggota menjadi taklid, dan membela secara total, setiap ada preseden buruk yang mengancam para pemimpin mereka.

Para pemimpin bisa membuat berbagai teori yang sangat canggih, sebagai system depend (sistem pertahanan) menghadapi serangan dari luar. Tentu, selalu dicari sebuah cara, dan yang paling efektif, mengubah setiap peristiwa yang bersifat destruktif menjadi berkah, dan membangkitkan soliditas, dan semangat bagi para anggota.

Lalu, muncullah teori : konspirasi dan di dzalimi. Kemudian para anggota semuanya mengatakan kuur, setuju. Bahwa mereka didzalimi. Ada konspirasi yang menghancurkan mereka. Ada kekuatan besar yang sedang mengancam mereka.

Semuanya anggota menjadi terkejut-kejut, dan bangun membela pemimpin mereka. Tidak peduli dengan yang terjadi diantara para pemimpin mereka. Para pemimpin mereka, selalu dalam posisi sebagai pahlawan, dan orang-orang benar.

Karena itu, betapapun sudah telanjang di depan publik, segala perbuatan mereka sudah sangat terkutuk itu, tetap saja para pengikut dan anggaotanya menyakini bahwa pempimpin mereka sebagai orang  tidak cacad dan salah. Inilah yang sangat luar biasa.

Bagaimana para pemimpin itu, dan berhasil membangun dan menciptakan para anggotanya memiliki ketataatan, dan ketundukkan melebihi taat dan tunduk mereka kepada Rabb.

Bagi para pengikut, pemimpin tidak boleh dinilai salah, dinilai berbuat jahat, dan melanggar aturan atau hukum. Kalau sedang terjadi peristiwa yang dianggap sebagai pelanggaran itu, hanyalah ujian, dan semata-mata dalam rangka mengangkat derajat para pemimpin menuju kemuliaan. Sungguh sangat tragis, melihat kehidupan pergerakan di Indonesia, khususnya pergerakan Islam.

Bandingkan dengan Hasan al-Banna, yang mati ditembak aparat militer dari rezim Farouk. Ketika dibawa ke kuburan, tidak ada yang boleh mengiringi jenazahnya, kecuali hanya isteri dan dua orang anaknya.

Hasan al-Banna hidup dengan zuhud dan warak, serta memiliki ilmu yang sangat luar biasa. Berguru kepada berbagai ulama. Meninggal dalam usia 42 tahun. Tetapi, Hasan al-Banna meninggalkan warisan yang masih bisa dinikmati sampai hari ini, berupa ilmu dan methode pergerakan, yang sudah diabadikan sampai hari ini.

Hasan al-Banna tidak pernah mereguk kenikmatan dunia secuilpun. Rumah Hasan al-Banna, digambarkan oleh penggantinya Umar Tilmisani, sebagai kotor dan berdebu. Maka, ketika Umar Tilmisani sebelum bergabung dengan Jamaah  Ikhwan, mengunjungi rumah Hasan al-Banna, duduk dikursinya sambil meletakkan slampi, agar patalonnya tidak  terkena debu.

Sayyid Qutb, tak rela telunjuk tangannya menuliskan hal-hal yang bathil, karena telunjuk tangannya selalu mengingatkan keesaan Rabbul Alamin. Menjelang dihukum gantung Sayyid Qutb, didatangi orang dekatnya Jenderal Gamal Abdul Nasser, agar minta maaf, dan akan dibebaskan serta dijanjikan jabatan menteri, tetapi Sayyid Qutb memilih tiang gantungan.

Selama dipenjara Sayyid menghadapi siksaan, tetapi justeru selama dipenjara Sayyid Qutb, membuat karya sangat monumental, yaitu menulis tafsir, dan kini  dikenal Tafsir Fi  Dzilalil Qur'an. Inilah karya yang sangat masyhur, dan menjadi sumber kehidupan bagi para aktivis pergerakan sampai hari ini.

Tokoh Ikhwan lainnya, terus berjuang dengan segala pengorbanannya, dan tidak pernah sedikitpun tergoda dengan kehidupan duniawi. Pengorbanan mereka hanya untuk kejayaan Islam. Bukan untuk mencari keuntungan pribadi, dan kemewahan dunia. Tidak sedikitpun  mereka tergoda dengan kehidupan duniawi. Bahkan, Sayyid Qutb sampai akhir hayatnya  tak sempat menikah,dan hanya memikirkan perjuangan.

Betapa tokoh-tokoh Ikhwan hidup dari penjara ke penjara. Mulai Hasan al-Banna, yang tewas ditembak, digantikan Hasan Hudaibi, Umar Tilmisasi, Hamid Abu Nasr, Mustafa Masyhur, Makmun Hudaibi, Mahdi Akif, dan sekarang Muhammad Badi. Mereka rata-rata pernah dipenjara lebih dari 20 tahun. Selalu behadapan para rezim yang sangat keras dan menindas. Dan, para pemimpin Ikhwan itu, tak pernah melepaskan komitmennya.

Syeikh Ahmad Yasin, yang merupakan orang yang pertama mengenal Hasan al-Banna, sesudah dewasa mengalami lumpuh total, ketika usai pulang mengikuti acara mukayyam (kepanduan), dan jatuh kemudian menjadi lumpuh. Tetapi, garis hidupnya tak pernah berubah, dan tak mengenal kehidupan duniawi. Meninggalnya akibat rudal helikopter Zionis Israel.

Sebagai pemimpin Hamas, Syeikh Yasin, jika ia ingin mendapatkan kemuliaan, kemuliaan dunia, pasti dengan sangat mudah,  dapat bernegosiasi dengan para pemimpin Zionis-Israel. Tetapi, semua itu tidak dilakukan  oleh Syeikh Yasin, dan memilih jalan kematian, yang sangat luar biasa, dibunuh dengan sangat tragis oleh Zionis-Israel.

Para pemimpin Ikhwan memilih jalan kehidupan yang penuh dengan resiko, tetapi mereka tetap setia dan tulus dengan keyakinnya, yaitu al-Islam. Tidak pernah bergeser. Tidak mau menggantinya dengan apapun.

Seperti Rasulullah Muhammad Shallahu Alaihi Wassalam, yang tak pernah terkena bujukan dengan harta, tahta, dan wanita. Semuanya ditolak oleh Nabi Shallahu Alaihi Wasalam, dan lebih memilih dakwah dan al-haq.

Tetapi, betapa hari ini, kita menyaksikan seorang tokoh puncak dari sebuah Gerakan Islam, masuk penjara militer, bukan karena membela keyakinannya, tetapi diduga meminta uang dan perempuan dari pengusaha. Sangat tragis.

Ujung perjuangannya berakhir di penjara, akibat hati, mata, dan telinganya sudah tertutup  oleh syahwat duniawi. Kenikmatan duniawi melalaikannya, dan menjadi pilihan hidupnya. Kalangan bawah pengikutnya mengira para pemimpin mereka itu maksum, ternyata pelaku mesum.

Islam hanya menjadi kedok, menipu rakyat dan para pengikutnya. Islam tidak dijadikan prinsip dasar bagi kehidupannya dan diamalkan. Sebaliknya,  para  pemimpin hidup bergelimang harta, dan kemewahan duniawi, sementara kalangan pengikutnya, miskin dan hidup menderita. Mereka tanpa malu kepada pengikutnya dan Rabbnya. Wallahu'alam.

 


latestnews

View Full Version