View Full Version
Senin, 22 Apr 2013

Kejahatan Amerika Menentang Kunjungan Erdogan ke Gaza

Istambul (voa-islam.com) Amerika Serikat secara telanjang menunjukkan  kejahatannya dengan menentang kunjungan Perdana Menteri Turki, Recep Tayyib Erdogan ke Gaza.

Sebelumnya, Erdogan bertujuan melakukan kunjungna ke Gaza, saat pemimpin Turki berkunjung ke Cairo,namun dibatalkan karena situasi di perbatasan Mesir terjadi konflik bersenjata dengan fihak Israel.

 Erdogan sebagai pemimpin Turki, menunjukkan komitmennya secara total terhadap rakyat Palestina untuk mendapatkan hak-hak dasarnya sebagai bangsa  yang merdeka dan berdaulat.

Tetapi, langkah-langkah yang dijalankan Erdogan itu, justeru mendapatkan tantangan dari Amerika Serikat, dan Amerika Serikat menentang kunjungan Erdogan ke Gaza.

Melalui Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, John Kerry, yang berada di Istambul dalam rangka pertemuan para Menteri Luar Negeri Negara-Negara pendukung perjuangna Suriah, Kerry, mengatakan, "Sebaiknya kunjungan Erdogan ke Gaza  itu dibatalkan", ujarnya, Minggu (21/4/2013)

Turki satu-satunya negara non-Arab yang menunjukkan komitmen dan dukungannya kepada rakyat Palestina secara total. Turki menentang kekejaman dan pendudukan serta penjajahan Zionis-Israel atas rakyat Palestina.

Turki terus memperjuangkan agar isolasi terhadap rakyat Gaza oleh Zionis-Israel segera diakhiri. Turki secara konsisten menentang segala bentuk kekejaman dan aksi militer yang dijalankan oleh Zionis-Israel.

Pemerintah Turki bersama dengan NGO (Non Govermental Organization) berjuang membangun kembali kota Gaza yang hancur  dan luluh lantak,akibat  serangan dan agresi militer Zionis-Israel, tahun 2008, dan mengakibatkan ratusan orang tewas, dan ribuan lainnya mengalami luka-luka.

Kejahatan yang dilakukan oleh Zionis-Isael itu, menimbulkan kemarahan  Turki, dan Erdogan saat bertemu dengan Presiden Israel Shimon di Forum Ekonomi Global di Davos, Swiss, dengan tegas Erdogan mengecam Shimon Peres, dan mengecam Israel, dan menuduh Israel melakukan kejahatan kemanusiaan, dan kemudian Erdogan meninggalkan pertemuan forum global itu, kembali ke Turki.

Sesudah itu, Turki menghentikan hubungan diplomatik dengan Israel, dan menarik Duta Besar Turki di Tel Aviv, dan  tidak menggantikan hingga kini. Turki membatalkan sejumlah kerjasama ekonomi dan militer dengan Zionis-Israel. Turki menghentikan latihan perang-perangan dengan Nato, karena Zionis-Israel ikut dalam latihan perang.

Turki menginginkan agar Zionis-Israel menghentikan blokade terhadap Gaza, dan membuka kembali isolasi terhadap Gaza. Tidak ada alasan yang dapat dipertanggungjawabkan secara hukum apapun, ketika Zionis-Israel melakukan blokade dan melakukkan serangan udara terhadap Gaza, dan wilayah Palestina lainnya.

Langkah Turki yang ingin membuka blokade Zionis-Israel terhadap Gaza itu, melalui langkah kemanusiaan, seperti mengirimkan kapal kemanusiaan Mavi Marmara, yang diserang oleh pasukan elite Israel, di perairan internasional, dan mengakibatkan sejumlah relawan tewas, termasuk relawan berasal dari Turki.

Langkah Zionis-Israel dengan menyerang kapal kemanusiaan Mavi Marmara itu, membuat pemerintah Turki semakin marah, dan menghentikan segala aktivitas ekonomi, politik, dan militer dengan Zionis-Israel. Turki tidak merasa rugi dengan berhetinya hubunngan kedua negara antara Turki dan Israel.

Selanjutnya, Turki tetap meminta kepada negara Zionis-Israel meminta maaf atas tindakanya yang keji menyerang kapal kemanusiaan Mavi Marmara, dan Turki juga meminta ganti rugi atas segala tindakan yang sudah dilakukan oleh pasukan elite Israel, yang menewaskan para relawan dari berbagai negara.

Sejauh ini, Zionis-Israel tidak menggubris, dan mau meminta maaf atas tindakan yang telah menyerang kapal kemanusiaan itu.

Sekarang, bersamaan dengan Menlu Amerika Serikat yang  baru, John Kerry, langkah-langkah lobi dan pendekatan yang sangat intensif terus dijalankan oleh Washington.

Lobi-lobi Zionis-Israel di Washington telah meminta agar mencairkan kembali hubungan antara Turki dengan Zionis Israel. Washington terus mennjalankan misi dari lobbi Zionis Israel dengan melakukan kunjungan ke Ankara dan Istambul. Negara pertama yang dikunjungi John Kerry sejak menjabat sebagai Menlu adalah Turki.

Tetapi, langkah-langkah lobi-lobi Zionis di Washington dengan menggunakan tangan Amerika Serikat, belum membuat Turki mau memperbaiki hubungan dengan Zionis-Israel. Turki tetap pada posisinya mendukung perjuangan bangsa Palestina guna mendapatkan hak-haknya sebagai negara yang merdeka dan bedaulat. Turki terus menekan  Washington agar mau menerima dan menghargai hak-hak rakyat Palestina.

Turki selama ini mempfaslitasi para pemimpin Palestina melakukan pertemuan politik di Istambul. Perdana Turki  Erdogan berulangkali bertemu dengan para pemimpin Palestina, seperti Khaled Misy'al, Ismail Haniyah, Musa Abu Marzouk, dan Mahmud Abbas, tujuannya hanya satu bagaimana Turki menginginkan agar seluruh faksi dan kekuatan di Palistena bersatu menghadapi Zionis-Israel. Turki juga menginginkan Hamas membuka perwakilannya di Istambul.

Erdogan menginginkan Zionis-Israel menghentikan segala kebijakan isolasi, blokade, dan aksi kekerasan yang dijalankan oleh negara Zionis itu. Erdogan menentang segala bentuk kebijakan yang sangat  rasis  yang dijalankan oleh Zionis-Israel terhadap rakyat Palestina. Sementara itu, Amerika Serikat tetap berdiri disamping rezim rasis Zionis-Isreal, yang terus melakukan kejahatan, tanpa henti, dan tetap memposisikan Hamas sebagai organisasi teroris.

"Kami ingin Perdana Menteri Erdogan mendengarkan. Kami menginginkan agar kunjungannya ke Gaza dibatalkan", ujar Kerry di Istambul, Minggu (21/4/2013).

Amerika Serikat menolak pengakuan Turki terhadap Hamas. Amerika Serikat juga menolak pengakuan dan dialog dalam bentuk apappun dengan Hamas. Karena, Hamas bagi Amerika Serikat dan Zionis-Israel tetap sebagai gerakan dan entitas gerakan teroris yang tidak layak diakomodasi.

Erdogan walaupun menjadi sekutu utama Amerika Serikat, tetap berani menunjukan sikapnya dan posisinya yang mendukung perjuangan bangsa Palestina untuk mendapatkan hak-hak hidup mereka, dan tidak membebek kepada Amerika Serikat. Erdogan tetap mendukung dan bersahabat  dengan para pemimpin dan organisasi Hamas. Wallahu'alam.


latestnews

View Full Version