View Full Version
Senin, 29 Jul 2013

Antara Cairo, Ankara, dan Jakarta

Jakarta (voa-islam.com) Menjelang akhir Ramadhan di seantero Mesir, khususnya Cairo, berlangsung pembantaian terhadap umat Islam, dan anggota Jamaah Ikhwanul Muslimin oleh pasukan militer Mesir atas perintah Menteri Pertahanan Abdul Fattah al-Sissi.

Sekarang, berdasarkan laporan Telivisi Aljazeera sudah lebih 600 orang yang tewas,  dan hampir 7.000 orang yang luka dan cidera. Militer Mesir dengan menggunakan senjata menembaki para pendukung Presiden Mursi, tanpa jeda.

Korban bergelimpangan. Dengan luka tembak di kepala dan dada. Sebagian korban akibat dibunuh oleh preman, yang sejatinya tentara yang menyamar sebagai preman. Jumlah  korban akan terus bertambah, karena sampai hari ini  para pendukung Presiden Mursi tetap berada di jalan-jalan, dan mereka menolak pergi, dan meninggalkan tempat-tempat mereka.

Para pemimpin Jamaah Ikhwan menyerukan campur tangan internasional,  dan bantuan internasional, karena begitu banyak korban, dan rumah-rumah sakit sudah tidak mampu lagi menampung korban yang jatuh, akibat serangan militer.

Tetapi, Menteri Pertahanan Mesir, Jenderal Abdul Fattah al-Sissi terus melakukan langkah-langkah repressif secara total dengan menggunakan kekuatan militer, dan termasuk menggerakan unsur-unsur sipil, guna menghancurkan dan mengeliminir kekuatan para pendukung Presiden Mursi.

Dibagian lain, para pemimpin dunia mulai mengeluarkan kecaman atas tindakan militer yang melakukan kudeta terhadap Presiden Mursi. Perdana Menteri Turki, Recep Tayyeb Erdogan, mengatakan menolak mengakui pemerintahan baru Mesir yang dipimpin Presiden al-Adl, dan diangkat oleh Menteri Pertahanan Jendral Abdul Fattah al-Sissi.

Di Turki berlangsung aksi demonstrasi yang mengutuk kudeta yang dilakukan militer dan menolak  mengakui pemerintahan baru yang merupakan produk militer. Seantero Turki mulai dari Ankara, Istambul, Izmir dan kota-kota di Turki lainnya, berlangsung aksi demonstrasi yang mengutuk kudeta dan menolak pemerintahan bikinan militer Mesir. Ribuan orang di Istambul  dengan membawa foto Presiden Mursi meneriakkan dukungan mereka.

Sementara itu, di New York, Sekjen PBB Ban Ki-moon, menyerukan kepada pemerintahan dan militer Mesir, segera membebaskan Presiden Mohamad Mursi, dan menciptakan kondisi terciptanya dialog yang konstruktif bagi fihak-fihak yang terlibat dalam konflik di Mesir.

Utusan delegasi Uni Afrika diketuai Alpha Oumar Konare, mantan Presiden Mali dan mantan Presiden Uni Afrika, tiba di kota Kairo pada hari minggu untuk menindak-lanjuti situasi di Mesir pasca keputusan Dewan perdamaian dan keamanan Uni Afrika dengan membekukan keanggotaan Mesir.

Sejatinya, Presiden Mesir ad-interim Mansur al-Adl, tak lain, seorang kristen, dan ibunya seorang Yahudi. Jadi kudeta yang dijalankan oleh militer itu, hanyalah guna mendudukan tokoh kristen menggantikan Presiden Mursi, dan mengangkat tokoh liberal Mohamad el-Baadei yang sangat pro-Israel dan Amerika menjadi wakil presiden.

Dibagian lain, masyarakat international mengutuk pembantaian di Mesir, Organisasi International Union of Muslim Scholars, Komunitas Islam di Jerman, Prancis dan Italia mengutuk tentara Mesir menembaki para pengunjuk rasa anti-kudeta di Kairo Rab'a Al-Adaweya, Jum'at lalu.

Pernyataan tertulis dari Presiden IUMS (International of Muslim Scholars) yang ditandatangani oleh Presiden Yusuf Al-Qaradhawi dan Sekretaris Jenderal Ali Al-Qaradaghi menggambarkan serangan itu sebagai "pembantaian yang memalukan", ungkapnya.

Sheikh Yusuf Qardawi menyerukan kepada tentara Mesir  melindungi rakyat Mesir secara keseluruhan, bukan kelompok tertentu, ujarnya. Qardawi mendesak kepada Menteri Pertahanan Mesir, Jendral al-Sissi tidak menggunakan kewenangannya untuk membunuh rakyat yang tidak berdosa dengan cara mengorganisir kekuatan sipil melakukan teror terhadap para pendukung Presiden Mursi.

Ketua Komunitas Islam di Jerman (IGD) Samir Falah juga mengutuk "Pembantaian terhadap demonstran damai di Kairo."

Falah mengatakan bahwa pembataian yang berdarah oleh Jendral al-Sissi akan menimbulkan konflik internal, dan berdampak ke seluruh dunia, dan bahkan sampai ke Jerman,  tuturnya.

Kementerian Luar Negeri Perancis, mengatakan hendaknya semua fihak dapat menahan diri, termasuk partai politik dan semua pihak di Mesir, dan angkatan bersenjata untuk menjaga ketenangan di Mesir.

"Kami mengimbau semua pihak di Mesir untuk tetap tenang, mendamaikan fihak yang konflik, dan mencari solusi politik, dan mendesak para  pejabat Mesir  memenuhi komitmen mereka mengenai pemilihan umum sesegera mungkin," kata pejabat Deparlu Perancis.

Menteri Luar Negeri Italia Emma Bonino mengutuk tindakan militer Mesir terhadap para demonstran anti-kudeta, dan  mengulangi seruan agar berlangsung dialog dan rekonsiliasi nasional untuk menjaga perdamaian dalam negeri di Mesir.

Emma memperingatkan akibat bentrokan akan membawa konsekwensi yang sangat serius, dan terjadi eskalasi kekerasan yang sangat dalam, serta dampaknya memecah belah bangsa Mesir, ujar Emma.

Menlu Italia Emma, lebih jauh mendesak kebebasan berekspresi dan kebebasan beraktivitas bagi semua kekuatan politik dan pemimpin di Mesir, dan  menambahkan bahwa Italia siap mendukung bantuan kemanusiaan.

Sementara itu, tindakan kudeta milter dan pembantaian terhadap para pendukung Presiden Mursi menimbulkan gelombang protes di seluruh dunia, terutama terjadi  di seluruh Turki,  seperti di Istanbul, Ankara, Antalya, Kirikkale, Sivas, Sanliurfa, Eskisehir, Kayseri, Diyarbakir, Adana, Mardin, Konya, Samsun, Zonguldak, Erzurum, Bursa, Sakarya , Canakkale, Gaziantep, Kahramanmaras, Adiyaman, Malatya dan provinsi Erzincan.

Tetapi, di Jakarta dan kota-kota lainnya di Indonesia, tidak ada aksi protes, dan pernyataan atas terjadinya pembataian yang dilakukan militer Mesir terhadap kaum Muslim di bulan Ramadhan ini. Semuanya bungkam. Padahal, mestinya Indonesia, para pemimpin Islam, dan pemerintahannya, berdiri di garda paling depan mengutuk pembantaian yang terjadi. Indonesia negara yang berpenduduk 250 juta, dan mayoritas muslim. Tidak ada sedikitpun suara yang keluar dari mulut para  pemimpin Indonesia.

Ketika Indonesia memproklamirkan kemerdekaan tahun l945, tokoh dan gerakan yang memberikan dukungan dan pengakkuan terhadap kemerdekaan Indonesia adalah Hasan al-Banna dan Jamaah Ikhwanul Muslimin. Tetapi, sekarang tak ada suaranya, ketika terjadi pembantaian di Mesir terhadap umat Islam di negeri itu.Wallahu'alam.


latestnews

View Full Version