View Full Version
Senin, 25 Nov 2013

Amerika Menjadikan Iran Sekutu Strategisnya Menghadapi Sunni?

Jenewa (voa-islam.com) Pemerintahan Obama telah membuka jalan bagi kesepakatan bersejarah yang ditanda tangani hari Minggu pagi, di Jenewa, dan  bertujuan mengontrol program nuklir Tehran, ungkap, Associated Press, Minggu,24/11/2013.

Amerika Serikat dan Iran secara diam-diam melakukan pembicaraan rahasia tingkat tinggi. Pembicaraan berlangsung antara para pejabat tinggi Amerika dan Iran berlangsung selama setahun lalu.

Diskusi yang bersifat rahasia, tanpa diketahui oleh  teman-teman terdekat Amerika, termasuk negosiator Israel, sampai dua bulan yang lalu, dan ini menjelaskan bagaimana kesepakatan nuklir bisa dicapai dalam waktu yang begitu cepat di Jenewa. Persetujuan melalui perundingan dan diplomasi yang sangat sulit antara lima anggota Dewan Keamanan PBB, yaitu Amerika, Cina, Rusia, Perancis, Inggris, plus Jerman.

Pembiraan yang bersifat  rahasia menjelaskan ketegangan antara Amerika Serikat dan Perancis , yang awal bulan ini menolak keras kesepakatan perjanjian pembatasan nuklir Iran. Karena, setiap bentuk perjanjian apapun yang diusulkan, membuat Israel sangat marah, dan mengecam segala bentuk isi perjanjian maupun peningkatan hubungan diplomatik dengan Teheran.

Presiden Barack Obama secara pribadi memiliki keingininan sangat strategis terhadap situasi keamanan global, dan berusaha menjadikan Iran sebagai mitra baru, bersifat strategis jangka panjang menciptakan keamanan global, khususnya menghadapi ancaman terorisme. Amerika bersikukuh dengan melakukan kontrol terhadap program nuklir, semata-mata bagi kepentingan damai, dan sekaligus memasukkan Iran kepada lingkungan kepentingan negara-negara Barat, menghadapi terorisme global.

Amerika mengesampingkan Zionis-Israel yang menginginkan langkah deteren secara total (penghapusan secara total) kemampuan nuklir Iran. Tetapi, Amerika melakukan pembicaraan secara rahasia sejumlah pejabat tinggi Iran, dan melakukan kontak langsung dengan pemimpin Iran yang baru yaitu Presiden Rahouni. Di mana Iran akan menjadi sekutu strategis bagi Barat melakukan pembendungan terhadap bahaya dan ancaman terorisme secara global.

Pembicaraan bersifat rahasia berlangsung di negara Teluk, yaitu Oman, dan sejumlah negara lainnya, di Timur Tengah, dan sangat bersifat rahasia. Menurut Associated Press, sejak Maret, Deputi Menteri Luar Negeri Amerika, William Burns, dan penasihat tertinggi di bidang kebijakan luar negeri Wakil Presiden Joe Biden, Jake Sullivan  telah bertemu sedikitnya lima kali dengan para pejabat Iran.

Empat kali pertemuan rahasia yang diselenggarakan sejak tokoh yang disebut “reformis” yaitu Presiden Hassan Rowhani dilantik  Agustus lalu, menghasilkan banyak kesepakatan, kemudian secara resmi disepakati dalam negosiasi di Jenewa antara Amerika Serikat , Inggris, Perancis , Rusia , China , Jerman dan Iran, ungkap pejabat pemerintah senior Amerika.

Diplomasi rahasia menjelang musim dingin membawa Gedung Putih dan para pejabat tinggi negara-negara anggota Dewan Keamanan PBB, akhirnya di  Jenewa mencapai kesimpulan mereka, dan kemudian mereka menandatangani perjanjian antara lima anggota Dewan Keamanan PBB (Amerika, Cina, Rusia, Perancis, Inggris, plus Jerman), bersama para pejabat tinggi Iran menandatangani perjanjian yang dinilai bersejarah bagi masa depan keamanan dikawasan Timur Tengah.

Sebagai konpensasi hasil kesepkatan Jeneva Barat memberikan Iran bantuan kepada Iran senilai  $ 7 miliar dollar. Bantuan ini dikaitkan dengan perjanjian pembatasan pengayaan uranium dan aktivitas nuklir lainnya oleh Iran. Semua pihak berjanji bekerja menuju kesepakatan akhir tahun depan, di mana Iran melalui komisi tenaga atom internasional, menghilangkan kecurigaan masih ada di Barat bahwa Teheran tidak membangun arsenal senjata nuklir.

Presiden Rauhani menegaskan, bahwa nuklir Iran hanya bagi kepentingan damai dan penelitian medis.

Perjanjian Jenewa ini mengubah seluruh dimensi persepsi Amerika terhadap Teheran, di  mana Presiden Amerika George Walker Bush, menyebut Iran dan Korea Utara  sebagai “Evil” (iblis), dan memasukkan ancaman keamanan global. Perubahan kebijakan politik luar Amerika ini menjadi titik balik kebijakan luar negeri Amerika, dan menjadikan Iran sebagai sekutu sarategis bagi Amerika di kawasan Teluk.

Amerika dan Iran memutuskan hubungan diplomatik pada tahun 1979, sesudah Revolusi Iran dan penyerbuan Kedutaan Besar Amerika di Teheran, di mana 52 orang Amerika disandera selama lebih dari setahun. Tapi Obama  menyatakan kesediaan bertemu dengan Iran tanpa syarat sejak perubahan politik di Iran, di  mana tokoh baru, yaitu Raouhani terpilih menjadi presiden.

Amerika Serikat mulai mendekati Iran setelah pelantikan presiden yang baru Iran Januari 2009. Obama dan pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, saling berkirim surat, namun belum membuahkan hasil pendekatan politik. 

Kegagalan pendekatan itu, karena faktor mantan Presiden Mahmoud Ahmedinejad, yang bersikap keras terhadap Amerika, dan Ahmadinejad terpilih kembali pada bulan Juni tahun lalu.

Namun, usaha-usaha rahasia Amerika mulai menampakan hasilnya, berkat diplomasi dari penguasa Oman, Sultan Qaboos. Sultan Qaboos menjadi pemain kunci, memfasilitasi pertemuan rahasia antara Amerika-Iran.

Sultan Qaboos berulangkali melakukan kunjungan rahasia ke  Amerika Serikat pada tahun 2011 - dan kemudian menawarkan diri sebagai mediator antara AS- Iran . Diskusi rahasia dan bersifat informal itu, dihadiri oleh pejabat tingkat tinggi Washington dan Teheran.

Menteri Luar Negeri John Kerry  mengunjungi Oman bulan Mei, seolah-olah mendorong kesepakatan militer dengan kesultanan  Oman,  tapi diam-diam difokuskan mempertahankan peran kunci mediasi negara itu,terutama setelah pemilu Iran dijadwalkan untuk bulan depan, ungkap para pejabat Amerika di Washington. 

Terpilihnnya Presiden Rouhani Juni, mulai terjadi pelonggaran sanksi ekonomi terhadap Iran, dan pemerintah Iran yang baru, menyatakan kesediaan terlibat pembicaraan dengan Barat, dan ini memberikan harapan baru bagi Amerika merundingkan senjata nuklir Iran,  kata para pejabat Amerika.

Dua pertemuan rahasia segera diselenggarakan setelah Rowhani mulai menjabat presiden pada bulan Agustus. Dengan tujuan spesifik memajukan pembicaraan menghentikan program nuklir yang menjadi kekawatiran masyarakat dunia . Pertemuan itu berlansung sepasang pada bulan Oktober.

Presiden Obama dan Rouhani di sela-sela sidang Majelis Umum PBB, keduanya hadir pada bulan September di New York. Burns dan Sullivan mengatur pembicaraan langsung, tapi pertemuan itu tidak terjadi. Dua hari berikutnya, Obama dan Rouhani berbicara melakukan kontak langsung melalui telepon. Ini merupakan kontak langsung pertama antara pemimpin Amerika  dan Iran di lebih dari 30 tahun .

Obama menyampaikan percakapan yang paling sensitif sendiri  kepada  Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dalam pertemuan 30 September di Gedung Putih. Ia memberitahu Netanyahu terjadi dua pertemuan di musim panas, bulan Maret, dan Gedung Putih hanya memberitahu sekutunya mengenai diskusi dengan Iran yang substantif .

Tapi, hari berikutnya Netanyahu menyampaikan pidato Majelis Umum, menyebut  Rouhani sebagai  “serigala berbulu domba” dan memperingatkan Amerika melakukan kebijakan yang keliru terhadap Iran terkait dengan  ambisi nuklir Iran. Pemimpin Israel mengecam keras perjanjian nuklir di Jenewa, dan hanya akan menjadikan Iran sebagai kekuatan nuklir, dan Netanyahu menilai sebagai, “kesepakatan abad" ini untuk Iran.

Amerika Serikat melakukan langkah-langkah strategis secara geopolitik dan geostrategi di Timur Tengah, dan menjadikan Iran sebagai sekutu strategisnya yang baru, dan mengesampingkan Arab Saudi dan Israel.

Amerika Serikat mengesampingkan perasaan dan kekawatiran pemerintah Riyad dan Raja Abdullah yang selama ini, mengkawatirkan terhadap nuklir Iran. Amerika Serikat juga mengesampingkan sikap keras Israel, khususnya Perdana Menteri Israel, Benyamin Netanyahu dan Menteri Luar Negeri, Avigdor Lieberman, keduanya memiliki pandangan yang sangat keras terhadap Iran, dan berjanji akan melakukan tindakan secara unilateral (sepihak) menyerang Iran, jika pernjanjian nuklir di tandatangani di Jenewa.

Nampaknya, Amerika dan Barat, lebih kawatir melihat perubahan di dunia Arab dan Afrika, dan  sejumlah kawasan di Asia Tengah, yang seperti kartu “domino”, satu-satu jatuh ke tangan kelompok Mujahidin, dan mereka secara terang-terangan menjadikan Amerika dan Barat sebagai musuh. Inilah masa depan hubungan Amerika dengan Timur Tengah dan dunia Islam.

Samuel Huttington dalam,“The Clash of Civilization”, antara Barat-Timur (Dunia Islam), sekarang memiliki bentuknya yang nyata, dan  Amerika mewakilli perabadan materialisme, dan dikalangan Gerakan Islam, materialisme sebagai “Evil” (iblis), dan segala kemampuannya mereka memerangi budaya materialisme, dan menemukan wujudnya yang nyata yaitu Amerika dan Eropa.

Amerika dan Eropa mengakomodasi Iran yang mewakili ideologi Syiah, dijadikan sekutu strategis, menghadapi kelompok Sunni yang sekarang menggeliat melakukan gerakan pembebasan seantero jagad, sejak mulai Afghanistan, Afrika, Timur Tengah melalui gerakan Jihad. Kelompok Sunni ingin menjadi sebuah entitas politik baru, dan tidak lagi menjadi bagian dari kepentingan apapun dari Barat. Inilah arti sebenarnya perjanjian Jenewa, antara Barat dengan Iran.

Kita bisa memahami mengapa Amerika menolak melakukan tindakan militer terhadap Suriah yang sudah menggunakan senjata pemusnah massal. Amerika tidak ingin terjadi perubahan keseimbangan keamanan dan militer di Timur Tengah.

Ini pula, mengapa John Kerry sebagai pejabat tertinggi Amerika mengakui penguasa baru Mesir, rezim militer dibawah Jendral Abdul Fattah al-Sissi. Amerika sedang merangkul Iran, menghadapi gelombang perubahan di dunia Islam yang digalang kalangan Sunni. Melepaskan diri dari cengkeraman penjajah Barat. Wallahu’alam. *mashadi.


latestnews

View Full Version