View Full Version
Rabu, 04 Dec 2013

Konspirasi dan Ironi Partai Keadilan Sejahtera

Jakarta (voa-islam.com) – Diawal Reformasi banyak yang berharap kepada Partai Keadilan (PK) yang berubah menjadi Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Berharap PKS akan menjadi alternatif dan solusi bagi rakyat dan bangsa Indonesia di masa depan.

PKS lahir dari sebuah gerakan dakwah yang puritan. Menggunakan manhaj (metode) gerakan bersumber dari Jamaah Ikhwanul Muslimin di Mesir. Manhaj yang bersumber dari Al-Qur’an dan As-Sunnah.

Mempraktekkan proses taghyir (perubahan) seperti yang dicontohkan oleh Rasulullah Shallahu 'Alaihi Wassalam, melalui model tarbiyah (pembinaan). Secara tadarrut (bertahap), tidak tergesa-gesa atau melalui cara alamiah. Dengan wadah usrah-usrah yang menyebar di seluruh Indonesia, kemudian tumbuh kader di lingkungan PKS.

Sejatinya, PKS lahir dari kampus, kalangan terdidik, akademisi serta ulama, yang banyak menjadi pimpinan gerakan dakwah, yang selanjutnya berubah menjadi entitas politik.

Kader-kader PKS dalam satu dekade sudah menyebar sangat luas, di berbagai lembaga, instansi, kampus, ormas, dan masyarakat.

Di kampus-kampus negeri di seluruh Indonesia, sebagian besar kader PKS sudah mapan dan berperan aktif dalam kegiatan dakwah. Lembaga Rohis, Senat, BEM, sebagian besar berada di tangan kader-kader PKS.

Pembinaan yang dijalankan oleh PKS, sampai menjangkau ke luar negeri, seperti Eropa, Timur Tengah, Pakistan, Jepang, Malaysia dan Amerika. Banyak diantara lulusan itu, kemudian menjadi aktivis dakwah, sesudah mereka kembali ke Indonesia.

Barangkali hanya satu-satunya gerakan yang memiliki "resourchis" manusia yang begitu besar dan didominasi kalangan terdidik hanyalah PKS. Mungkin ini tidak terlalu berlebihan.

Ini terjadi sejak zamannya Habibie yang memberikan banyak beasiswa kepada mahasiswa Indonesia ke luar negeri, dan kemudian mereka di bina oleh kader PKS.  Sehingga melahirkan entitas dan generasi baru Islam yang terdidik, dan memiliki kemampuan ilmu yang tinggi di berbagai bidang.

Bahkan, di instansi-instansi pemerintahan lembaga dakwahnya banyak dipegang oleh aktivis kader PKS. Mereka menanamkan ilmu, aqidah, dan berbagai sisi-sisi nilai Islam kepada pegawai secara luas.

PKS membuat  doktrin yang sangat terkenal, “nahnu du’at qobla ala kulli syai”,  (kita da’i, sebelum segala sesuatu), maksudnya apapun posisi kader PKS, yang utama mendakwahkan Al-Islam.

Tidak meninggalkan tugas dan kewajiban utamanya, sebagai da’i,  dan selamanya akan tetap sebagai da’i Illallah, yang mengajak semua manusia kembali ke jalan Rabbnya.

PKS yang menjadi represantasi Gerakan Jamaah Ikhwan di Indonesia, membuat sebuah jargon yang sangat memiliki daya kohesif (rekat) dikalangan rakyat, yaitu, “bersih, peduli, dan profesional”. Ini pilihan yang sangat luar biasa, bukan hanya sekadar kata, tanpa makna dan tujuan.

Tujuan awal yang digagas oleh para pendiri partai ini, terlibat dalam politik, hanyalah karena dorongan tanggungjawab dan rasa keimanan mereka, dan sebagai wasilah (sarana) melakukan ishlah amal shalih (berbuat baik) bagi masa depan Indonesia. Tidak ada yang lain, dan bukan sekadar euphoria tanpa tujuan.

Prinsip dasar gerakan ini sangat gamblang dan jelas. Seperti digariskan Hasan al-Banna, yaitu “Allahu goyatuna, Ar-Rosul qudwatuna, Al-Qur’an dusturuna, Al-Jihad sabiluna, dan Al-mautu fi sabilillah asma amanina”, (Allah tujuan kami, Rasul pemimpin kami, al-qur'an undang-undang kami,  jihad jalan kami, mati syahid cita-cita kami tertinggi).

Itulah prinsip dasar yang digariskan Hasan al-Banna, pendiri Jamaah Ikhwan, yang dibunuh  oleh opsir Mesir di  tahun l948.

Tetapi, mengapa PKS sekarang menjadi terpuruk, dan kehilangan peluang harapan masa depan? Ibaratnya seperti pepatah, “Panas setahun dihilangkan oleh hujan sehari”. 

Semua luruh bersamaan dengan masuknya PKS dalam pemerintahan SBY selama satu dekade ini. Idealisme dan cita-cita berubah menjadi pragmatisme politik. Inilah pangkal keruntuhan PKS. Bukan lagi melakukan ishlah dan melakukan amal shalih, tetapi larut dalam jebakan kekuasaan yang sudah rusak, dan tidak mampu melakukan reposisi.

Ketika di tahun l998, lahir PK, kemudian bermetamorpose menjadi PKS, dari suara 1,7 persen, kemudian mendapatkan dukungan suara menjadi 7,2 persen di tahun 2004. Tanpa modal apapun, kecuali keimanan, dan kebanggaan terhadap esensi gerakan ini, dakwah. Bukan lainnya.

Mengapa rakyat begitu memiliki simpati dan penghargaan terhadap PKS di tahun 2004? Apa yang menjadi  daya tarik dan pemikat serta dukungan rakyat terhadap PKS? Apa yang membuat kader sangat gigih membela PKS dan mengorbankan segalanya guna memenangkan partai yang baru lahir itu?

Sekarang semua berubah. Simpati berubah menjadi cibiran,  dan ketidak percayaan. Pada tingkat tertentu kebencian dan permusuhan.

Inilah pertanyaan yang harus dijawab oleh para pemimpin PKS. Mereka tidak boleh lari dari tanggungjawab atas kondisi yang ada sekarang, dan membuat apologi.

Para pemimpin PKS harus berani melakukan muhasabah (introspeksi diri), dan dengan lapang dada, menerima kenyataan yang ada, dan berusaha berubah dan memperbaiki semua kemungkinan penyimpangan, terutama yang sekarang menjadi perhatian rakyat dan bangsa Indonesia.

Mungkin benar, mungkin salah. Terkait dengan kasus-kasus korupsi yang menimpa tokoh dan pimpinan PKS sekarang ini.

Seperti dikemukakan oleh mantan Presiden PKS, Lutfhi Hasan Ishak, saat ditemui di Gedung Pengadilan Tipikor, dia mengatakan, bahwa kasus yang menimpa dirinya semata karena ketidak sukaan SBY, dan itu diucapkan secara eksplisit oleh Sudi Silalahi, karena  PKS tidak mau mendukung soal Century dan kenaikan BBM. Bahkan, Luthfie berdebat dengan SBY soal prinsip-prinsip piagam koalisi, dan tidak mencapai kesepakatan.

Sebagian lain, kalangan elite PKS mengatakan, bahwa kasus yang  sekarang menimpa PKS semata-mata operasi intelijen dan konspirasi Amerika, dan dengan sengaja ingin menghancurkan PKS, karena satu-satunya partai politik  Islam yang memiliki masa depan, dan akan menjadi alternatif terhadap kekuatan partai politik sekuler yang sudah mulai menua.

Betapapun, apa yang menimpa terhadap PKS sekarang sudah sangat sulit memperbaiki dan membuat publik percaya terhadap PKS. Terutama kepercayaan diri bagi para kadernya. Karena, selalu berhadapan dengan publik yang sudah menyimpulkan wajah PKS itu identik dengan korupsi.

Jika PKS  masih ingin tetap eksis di masa depan, haruslah berani melakukan langkah-langkah yang tegas. Yaitu semua tokohnya yang sudah pernah diperiksa oleh KPK hendaknya dengan ikhlas mengundurkan diri dari kepemimpinan PKS dan menyerahkan kepada mereka yang masih memiliki catatan bersih tentang dirinya. Dengan cara ini kepercayaan rakyat kepada PKS akan bisa kembali.

Sikap yang terus-menerus melakukan apologi, dan mengatakan ada konspirasi pihak luar, hanya efektif bagi internal kader PKS. Tetapi, tidak dapat menjelaskan kepada rakyat dan mengembalikan citra PKS seperti semula.

Tentu, yang paling ironi PKS telah meninggalkan jati dirinya, sebagi partai yang berorientasi kepada dakwah dan menjadi partai terbuka. Ini kesalahan pokok dan asas bagi PKS. Dengan partai terbuka tidak pernah menghasilkan apapun, kecuali ditinggalkan konstituen Muslim.

Membuat “exit plan” (jalan keluar) dengan terus menuduh pihak lain, tanpa melakukan usaha-usaha koreksi di internal partai, sejatinya hanya langkah menuju bunuh diri massal bagi partai itu sendiri.

Jamaah Ikhwan di seluruh  dunia memiliki kebanggaan terhadap pemimpin Ikhwan di Mesir, walaupun ribuan pengikut Ikhwan dibunuh oleh rezim militer Mesir dengan cara-cara sangat kejam.

Para pemimpin Ikhwan di Mesir tidak ada satupun yang mau berkompromi dengan rezim militer, walaupun dijanjikan kebebasan dan kekuasaan. Tapi, mereka menolak dan tetap menuntut keadilan. Jamaah Ikhwan di Mesir akan tetap hidup sepanjang sejarah.

Sebaliknya, masih adakah di Indonesia kebanggaan terhadap PKS dengan kasus yang sekarang menimpa tokoh-tokohnya itu? Perlu direnungkan bersama. Semoga bisa menyadarkan. Wallahu’alam. [PurWD/voa-islam.com]

*mashadi


latestnews

View Full Version