View Full Version
Sabtu, 21 Dec 2013

Mayoritas Muslim Indonesia Jadi Minoritas dan Terjajah Secara Aqidah

JAKARTA (voa-Islam.com) - Sejak Era Reformasi dengan kebebasan begitu luas di Indonesia, dan golongan yang paling  menikmati berkah kebebasan adalah golongan minoritas Kristen. Dengan berbagai sarana yang mereka miliki mereka dapat mengembangkan agama mereka dengan sangat bebas.

Dengan media mereka bisa mempengaruhi dan menciptakan opini, dan bahkan media yang mereka miliki menjadi kekuatan “pressure politik” (tekanan politik) terhadap penguasa.

Strategi mereka sekarang ingin menghapus tentang adanya dikotomi “mayoritas” dan “minoritas” di Indonesia. Mereka ingin menghapus keputusan pemerintah tentang SKB Tiga Menteri yang mengatur penyebaran agama dan pendirian rumah ibadah.

Kebijakan pemerintah yang mengatur penyebaran agama dan pendirian rumah ibadah melalui SKB Tiga Menteri itu, dinilai oleh golongan Kristen sebagai tindakan melanggar kebebasan beragama, dan melanggar hak-hak asasi manusia. Sehingga, kalangan gereja melaporkan pemerintah SBY ke Komisi HAM Internasional PBB, dan dituduh melakukan pelanggaran HAM.

Mereka benar-benar begitu agresif  dalam mengembangkan melalui berbagai cara dan sarana yang mereka miliki. Sehingga, secara bertahap terjadi perubahan secara demografis, dan jumlah populasi antara golongan Islam dan Kristen. Dari berbagai laporan penelitian golongan Kristen menunjukkan betapa mengalami pertambahan jumlah pengikut yang terus meningkat secara pesat.

Termasuk sejak tahun l965, pasca pemberontakan PKI, jumlah orang Kristen meningkat dengan sangat drastis, akibat keluarga orang-orang PKI pindah ke agama Kristen.

Sekarang, seperti dituturkan oleh KH.Athian Ali, menjelaskan, bagaimana Ormas Pemuda Islam, menyiapkan pengamanan Natal. (Republika,19/12). Ini menggambarkan betapa perkembangan Kristen di Indonesia bukan semata (ansich) karena kemampuan gerakan orang-orang Kristen semata, tetapi juga adanya kontribusi golongan "Islam".

Sebaliknya, menurut Athian Ali, mereka pernah berada di garis paling depan membela  upaya pemurtadan orang-orang Kristen dengan kedok pengobatan di Gedung Saparua Bandung, dan golongan Islam yang menentang kegiatan pemurtadan itu, dan mereka  harus berhadapan  dengan 4.000 umat Islam yang tidak rela saudara-saudaranya dimurtadkan, ujar Athian.

Pengalaman BAP (Barisan Anti Pemurtadan) FUUI menghadapi di 90 titik rawan pemurtadan  di Jawa Barat. Tetapi, menurut Athian,  ada lima orang “ustadz” menjual akidah umat dengan imbalan uang Rp 5 juta – Rp 50 juta yang diterma fihak geraja.

Semua kasus pendirian gereja diberbagai daerah, tidak terlepas dengan cara-cara “menyogok” kepada sejumlah “tokoh” dan “ustadz” agar pendirian gereja itu bisa berlangsung dengan mudah. Seperti kasus sengketa pendirian Gereja Yasmin di Bogor.

Mereka itu, menurut Kh.Athian Ali dukungan dari kalangan “ustadz” dan “tokoh” Islam itu, membantu ribuan orang Islam murtad. Bahkan, sudah ada satu desa yang sudah murtad semua, tambah Kh.Athian Ali.

Memang, setiap tahun, sudah berlangsung usaha-usaha pemurtadan secara massal melalui berbagai media, dan sarana-sarana yang ada pada mereka, dan menurut  Ustadz  Awit Masyhuri, pemerintah juga ikut  berkontribusi dalam hal pemurtadan, bukan hanya pejabat menghadiri perayaan Natal di kantor, dan di gedung-gedung, tetapi sekarang di kantor-kantor pemerintahan mulai dari kelurahan, sampai departemen-departemen membuat ucapan “Selamat Natal”, ujar ustad Awid.

Kondisi ini, ditambah lagi, begitu banyaknya aliran sesat di Indonesia yang mengancam aqidah  umat Isam, ungkap Ustadz Yunus Zarkasih. Pemerintah berdiam diri. Seperti Ahmadiyah, LDII, Syiah, dan sinkritisme aliran kejawen, dan berkembang semakin luas di tengah-tengah masyarakat, dan dibiarkan dan bahkan dilestarikan sebagai budaya bangsa.

Apalagi menjelang pemilu 2014, partai-partai politik berebut suara, termasuk partai-partai Islam dan berbasis Islam akan berusaha mencari muka, dan memperlihatkan sikap "tasamuh" (toleran), ikut mengucapkan selamat natal, dan bahkan menghadiri misa Natal di gereja dalam rangka ingin mendapatkan dukungan suara. Aqidah mereka ditukar dengan suara golongan kristen.

Sungguh sangat mengkawatirkan betapa aqidah umat Islam terus digerogoti gerakan Kristenisasi melalui Natal, Tahun Baru Masehi, dan aliran sesat, kejawen, dan terus berkembang pesat. Sementara itu, aqidah tokoh-tokoh Islam semakin luntur, tidak berani menolak seperti yang sudah dicontohkan oleh Alrmarhum Buya Hamka, terhadp kegiatan Natal. Wallahu'alam.


latestnews

View Full Version