View Full Version
Selasa, 11 Feb 2014

Tidak Ada Pengakuan Eksistensi Negara Yahudi di Palestina?

MUNICH (voa-islam.com) - Kepala tim perunding Palestina Saeb Erekat menegaskan  bahwa Otoritas Palestina ( PA ) tidak akan mengakui Israel sebagai negara Yahudi - hanya beberapa jam setelah Menteri Kehakiman Israel Tzipi Livni mengisyaratkan bahwa Palestina mungkin menerima permintaan Israel lama mengamankan kesepakatan damai  dengan mengakui keberadaan negara Zionis-Israel, Senin, 10/2/2014.

“Saya mengatakan kepada Livni di Munich pada pertemuan baru-baru ini bahwa kami tidak akan mengubah sejarah kita , peradaban dan agama , dan kami tidak akan mengakui Israel sebagai negara Yahudi , " kata Erekat kepada stasiun radio Suara Palestina pada hari Senin, 10/2/2014.

Koran Israel mengutip Livni , yang memimpin tim perunding Israel , seperti mengisyaratkan bahwa  Presiden Otoritas Palestina (PA),  Mahmoud Abbas, mungkin bersedia mengakui Israel sebagai negara Yahudi.

“Tunggu. Masih akan ada kejutan”, ujar  Livni seperti dikutip Menteri Senior Israel,  Uri Orbach. Pernyataan itu, sesudah perundingan di Munich tidak menghasilkan kesepakatan tentang masalah yang paling pokok pengakuan ter hadap keberadaan Israel sebagai negara Yahudi oleh Kepala perunding Palestina, Saeb Erekat. “Palestina tidak akan pernah menerima keberadaan Israel sebagai negara Yahudi di tanah Palestina”, ujar Erekat.

Pembicaraan damai yang disponsori Washington antara Israel dan Palestina dilanjutkan Juli lalu setelah berhenti selama tiga tahun. Washington menginginkan tahun di tanda-tangani tentang perjanjian damai antara Palestina dan Israel, dan terbentuknya model dua negara yang berdampingan secara damai, yaitu Palestina-Israel.

Hasil dari pembicaraan  yang berlangsung di Munic itu, masih   terfokus pada isu-isu akhir - pemukiman seperti perbatasan , permukiman Israel , dan pengungsi Palestina, dan  Jerusalem. Selama ini, pemerintah Israel terus memperluas pemukiman Yahudi di daerah-daerah pendudukan, termasuk di Yerusalem dengan mengusir dan menghancurkan rumah-rumah warga Palestina.

 Zionis-Israel, tetap  bersikeras menolak kembalinya warga Palestina di tanah kelahiran mereka, di mana sekarang lebih 7 juta penduduk Palestina yang berdiaspora (menyebar) ke berbagai negara di  dunia, sejak Israel mendirikan negara di tahun l948.

Saeb Erekat , mengatakan tidak ada niat oleh pihak Palestina untuk memperpanjang negosiasi sampai  batas waktu 29 April mendatang. Karena, Zionis-Israel tidak pernah beranjak dari  sikapnya yang tidak mau menyerahkan tanah-tanah yang didudukinya, dan menyangkut tapal batas negara  Pelastina, serta ibukota Palestina yang merdeka, Jerusalem.

Fihak pemimpin Israel sudah meletakkan posisi pemimpin Palestina, Mahmud Abbas, sebagai tokoh  anti Yahudi (anti Semit), dan sangat rasis, karena menolak memberikan pengakuan terhadap Israel sebagai negara yang sah. Tuntutan Zionis-Israel sepanjang sejarah, sejak Israel menjadi negara tahun 1948, hanyalah ingin mendapatkan pengakuan dari Palestina. Tidak ada yang lain. Dengan pengakuan dari Palestina itu, maka penjajahan terhadap Palestina menjadi sesuatu yang bersifat abadi.  

Menteri Luar Negeri AS John Kerry yang mewakili pemerintahan Barack Obama ingin berusaha keras akan tercapai perjanjian damai antara Palestina-Israel. AS di bawah Barack Obama ingin mengukir sejarah politik Timur Tengah dengan menciptakan sejarah baru dengan perjanjian antara Palestina-Israel.  Kerry berusaha menekan pemerintah otoritas Palestina (PA), agar bersedia memberikan konsesi politik seperti yang diinginkan oleh Israel, yaitu pengakuan terhadap negara Israel sebagai negara Yahudi. Dengan pengakuan itu, berarti berakhir perjuangan bangsa Palestina membebaskan tanah air mereka yang sekarang di jajah dan dicaplok oleh Israel.

Sementara itu, Hamas tidak pernah memberikan konsesi politik apapun kepada Israel, termasuk pengakuan terhadap negara Israel. Meskipun, Hamas sekarang menghadapi penghancuran secara total oleh Israel dan Mesir dengan blokade. Para pemimpin Hamas dengan kekuatan militer yang dimilikinya akan tetap berjuang membebaskan tanah Palestina dari penjajahan Israel. Tidak ada pengakuan apapun terhadap Zionis-Israel. Wallahu’alam.


latestnews

View Full Version