View Full Version
Ahad, 04 May 2014

Ulama NU dan Pimpinan Muhammadiyah Akan Tertipu Jokowi?

JAKARTA (voa-islam.com) - Ketika Mega akan memutuskan Jokowi sebagai calon presiden (capres), di dahului pertemuan di Singapura dengan tujuh tokoh, diantaranya konglomerat Cina James Riyadi, dan sejumlah tokoh lainnya. 

Usai mendeklarasikan Jokowi sebagai sebagai capres, di kantor PDIP Lenteng Agung, 14 Maret 2014, dilanjutkan pertemuan di rumah konglomerat Cina, Jacob Soetojo, seorang anggota Trilateral Commission dan Dewan Penyantun CSIS, pertemuan itu dihadiri oleh Mega, Jokowi, Sabam Sirait,  Dubes Amerika Serikat, Inggris, Vatikan, Myanmar, Meksiko, dan sejumlah Dubes lainnya.

Mereka membahas masa depan politik Indonesia, dan siapa yang menjadi pendamping calon wakil presiden Jokowi.

Kemudian, pertemuan antara Mega, Jokowi, Sabam Sirait, dan sejumlah Duta Besar di rumah Jacob Soetojo, melahirkan reaksi yang sangat keras dari kalangan Islam. Apalagi, terbetik informasi dari wartawan senior dari koran terkemuka, Singapura, bahwa Jokowi telah memilih Jenderal Luhut Panjaitan, sebagai cawapres Jokowi.

Sekjen MUIMI, Bachtiar Nashir, di akun Twiternya, sangat mengkawatirkan tentang masa depan Indonesia, dikatakan selangkah lagi Indonesia akan menjadi negara kafir, di pimpin Jokowi, tulisnya.

Karena, di Solo Jokowi belum selesai menjadi Walikota, sudah ditinggal, ke Jakarta, kemudian di gantikan oleh Rudy, yang Katolik. Di Jakarta, baru setahun, Jokowi sudah maju menjadi capres PDIP. Pembangunan darn roda pemerintahan DKI Jakarta, kocar-kacir, tidak terurus, dan sekarang de facto, di pegang oleh Ahok, seorang keturunan Cina yang beragama Kristen.

Sesudah mendapat reaksi keras dari kalangan Islam, sekarang Jokowi mendatangi tokoh-tokoh Islam, terutama dari kalangan Muhammadiyah dan NU. Jokowi bertemu dengan Syafi'i Maarif. Tokoh Muhammadiyah yang berfikiran liberal, dan didikan Amerika. Syafi'i menyatakan 'welcome' terhadap Jokowi. Ini bagian langkah taktis yang dijalankan Jokowi, mendapatkan dukungan dari kalangan Muhammadiyah.

Jokowi usai mendapatkan dukungan dari Syafi'i Maarif, melanjutkan kunjungan ke Jawa Timur, dan menemui sejumlah ulama NU, dan tokoh NU, termasuk pengganti Abdurrahman Wahid, yaitu Sholahuddin Wahid. Jokowi mengunjungi pesantren Tebu Ireng, dan ke kuburan Abdurrahman Wahid.                              

Jokowi menemui Ketua Dewan Syuro PKB KH Aziz Mansyur, dan ingin mendapatkan dukungan dari KH Aziz Mansyur, dalam pemilihan pemilu presiden 2014. KH.Aziz merupakan pengasuh Pondok Pesantren Tarbiyatun Nasyiin, saat menerima Jokowi silaturahim di pondoknya, Desa Pacul Gowang, Kecamatan Diwek, Kabupaten Jombang, Jawa Timur.

Bahkan, Jokowi menunjuk Khofifah Indarparawansa sebagai juru bicaranya. Ini sebagai langkah Jokowi yang ingin mendapatkan dukungan dari kalangan Nahdiyyin. Langkah ini akan terus dijalankan oleh Jokowi, khususnya dalam rangka menggalang dukungan dari kalangan Nahdiyyin, yang memiliki basis massa di Jawa Timur.

Jokowi memainkan 'kartu' NU dan Muhammadiyah, yang merupakan dua Ormas Islam yang memiliki basis dukungan massa paling luas. Jokowi hanya sekadar ingin mendapatkan suara dari kalangan Islam, terutama dari kalangan NU dan Muhammadiyah dengan cara mendatangi satu-satu tokohnya, dan mereka menegaskan dukungannya menjelang pemilihan presiden Juli 2014 mendatang.

Apakah Jokowi dapat dipercaya ucapannya? Apakah Jokowi akan amanah menjaga kepentingan umat Islam. Mustahil. Jokowi hanya butuh dukungan suara menjelang pemilihan presiden nanti. Tetapi, sesudah terpilih menjadi presiden, yakin dan pasti Jokowi tidak akan pernah melaksanakan ucapan dan janjinya yang pernah dia ucapkan kepada para ulama dan tokoh Islam.

Di DKI Jakarta, sudah terbukti dengan diangkatnya Lurah Lenteng Agung, perempuan Kristen. Di Solo, dia  tinggalkan jabatannya, dan Solo sekarang di pimpin seorang Katolik. Di Jakarta, jabatan gubernur dia tinggalkan, dan sekarang dipegang seorang keturunan Cina yang beragama Kristen.

Apalagi, pencapresan Jokowi, dibelakangnya sarat dengan berbagai kepentingan kelompok-kelompok yang akan menentukan kebijakan saat Jokowi sudah menjadi presiden (na'dzubillah mindzalik). Jokowi hanyalah perpanjangan tangan dan boneka 'Asing dan A Seng', dan bertujuan menjajah dan menguasai Indonesia. Bukan akan menjadi pembela rakyat dan bangsa Indonesia.

Ulama dan pemimpin Ormas Islam yang sudah berani mendukung Jokowi, benar-benar keblinger. Tidak lagi memikirkan agamanya, Islam. Tetapi, hanya memikirkan kepentingan yang sifatnya sesaat. Tidak bisa melihat sosok Jokowi yang sebenarnya. Apakah Jokowi ini dapat diamanahi  bagi kepentingan umat Islam atau bangsa dan negara?

Rhoma Irama, sekalipun selama dikenal sebagai penyanyi 'dangdut', tetapi jauh memiliki sikap dan pendirian, serta kecintaan yang sejati terhadap Islam, dibandingkan dengan para ulama dan tokoh Islam yang sudah memberikan dukungan kepada Jokowi. Itu sama dengan menyerahkan leher mereka kepada 'Jokowi'.

Rhoma Irama, secara tegas-tegas menyatakan di media telivisi, kemarin malam, jika PKB mendukung Jokowi, maka Rhoma Irama akan meninggalkan PKB. Inilah sikap yang mulia Rhoma Irama. Benar-benar membela kepentingan Islam. Bukan hanya semata mementingkan jabatan atau kekuasaan.

Apalagi, kalau melihat PDIP, dan calon legislatifnya, hampir mustahil, bila ulama NU dan pimpinan Muhammadiyah memberikan dukungan kepada Jokowi yang berarti pula mendukung PDIP. Di mana PDIP menjadi gudangnya Kristen, Islam (JIL), dan Syi'ah.

PDIP sejak reformasi, tahun l999, selalu menentang semua kepentingan umat Islam di parlemen, karena mayoritas anggota legislatif PDIP, tak pernah berkomitmen kepada kepentingan umat Islam.

Sekarang, tak kurang l83 calon legislatif PDIP yang beragama Kristen. Apakah PDIP dan Jokowi bisa dititipi amanah menjaga kepentingan umat Islam? Mustahil. Bagaimana para ulama dan tokoh Islam yang sudah mendukung Jokowi dan PDIP? Sungguh keblinger. Wallahu'alam.


latestnews

View Full Version